Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

3 Macam Dusta

Macam-macam Dusta: Imam al-Auza’i berkata,

Pelajarilah kejujuran sebelum engkau mempelajari ilmu.

Waqi’ berkata,

Ilmu ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang jujur.

Maka dari itu, pelajarilah kejujuran terlebih dahulu sebelum engkau mempelajari ilmu. Kejujuran adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang ada, kejujuran ini hanya ada satu cara, sedangkan dusta/ kedustaan banyak cara dan ragamnya. Meskipun demikian kedustaan dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yakni:

1. Dusta Seorang Penjilat

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan dan juga keyakinan yang sebenarnya. Contohnya orang yang mencari muka terhadap orang yang dia ketahui sebagai orang fasiq dan ahli bid’ah, namun dia katakan sebagai orang yang istiqamah, untuk mencari muka (perhatian) darinya.

Sebenarnya engkau mengetahui bahwa dia adalah orang yang fasik, akan tetapi saat engkau datangi dia, engkau katakan kepadanya,

MasyaAllah, anda adalah seorang yang istiqamah, berakhlaq mulia, taat beragama, mempunyai manhaj (sifat dan cara beragama) yang lurus.

Padahal engkau mengetahui bahwasanya dia adalah hamba Allah yang paling fasik. Apa yang pantas dikatakan kepada orang semacam ini? Yang pantas dikatakan kepada orang ini adalah penjilat atau pencari muka. Karena biasanya yang paling sering melakukannya adalah orang-orang yang ada di sekitar raja atau penguasa. Engkau dapati salah seorang dari mereka mencari muka di hadapan sang raja dengan mengatakan, “Engkau begini dan begitu.” Ini adalah sebuah kemunafikan. Wal ‘iyadzu billaah (Kami berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla).

2. Dusta Orang Munfaiq

Dusta orang munafiq maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan keyakinan namun sama dengan kenyataan, sebagaimana orang munfaiq, mereka mengatakan seperti yang dikatakan oleh Ahlus Sunnah (Salafi).

Salah satu contohnya adalah firman Allah ‘Azza Wa Jalla,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munfaiq datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta.” – Q.S. Al-Munaafiquun (Orang-Orang Munafik) [63]: 1.

Pengakuan mereka bahwa beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah memang sesuai dengan kenyataannya. Apa dalilnya? Allah berfirman, “Allah sudah tahu bahwa engkau adalah utusan-Nya,” kan tetapi persaksian mereka ini menyelisihi keyakinan mereka, karena Allah Ta’aala berfirman, “Dan Allah menjadi saksi bahwa orang-orang munafik itu dusta.”

Dustanya mereka adalah dengan mengatakan bahwa “kami bersaksi,” bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah bukan pada sekedar ucapan mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ucapan itu menyelisihi keyakinan mereka namun sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Ini adalah pengakuan orang munafiq terhadap orang lain, adapun pengakuan mereka terhadap diri sendiri, misalnya dia mengatakan, “Saya adalah seorang yang shalih,” maka perkataan ini tidaklah sesuai dengan keyakinan mereka sendiri dan tidak pula sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, kecuali hanya sekedar penampilan luarnya saja.

3. Dusta Orang Dungu

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, seperti orang yang percaya akan keshalihan orang Shufi yang mubtadi’ (ahli bid’ah/ pelaku bid’ah) lalu dia menyebutnya sebagai ‘Wali’. Atau kedustaan yang tidak sesuai dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, yaitu dengan mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya karena kebodohannya, misal dia mengatakan bahwa Ahli Kalam (Filosof Islam) adalah orang-orang yang cerdik – pandai, sedangkan ulama Ahlus Sunnah (Salafi) adalah orang yang bodoh karena mereka hanya menerima nash apa adanya tanpa mengetahui maknanya.

Ini adalah orang yang bodoh, oleh karena ini lah Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah menyebut mereka sebagai orang yang bodoh dalam kitabnya, al-Fatawa al-Hamawiyyah, beliau berkata,

Sebagian orang yang bodoh mengatakan: ‘Manhaj (sifat dan cara beragama) orang Salaf lebih selamat namun manhaj-nya orang Khalaf lebih pandai dan bijaksana.’

Demikianlah orang yang menyaksikan perbuatan dan juga ibadahnya orang-orang Shufi, maka dia akan mengatakan bahwa mereka adalah orang yang shalih dan para wali (?!).

Kami katakan,

Engkau adalah orang yang bodoh yang tidak mengetahui hakikat mereka yang sebenarnya, maka dari itu janganlah engkau menghukumi mereka sebagai seorang yang shalih sehingga engkau mengetahui hakikat mereka, jika tidak, maka engkau adalah seorang yang bodoh.

Orang bodoh semacam ini, apakah alasan ketidaktahuannya dapat diterima? Jawab, jika dia tidak mau belajar maka tidak dierima alasan ketidaktahuannya. Namun apabila ilmunya hanya sampai di situ, maka dapat diterima alasan ketidaktahuannya, karena memang dia adalah orang yang bodoh. Adapun untuk macam yang pertama dan kedua, yakni dustanya orang penjilat dan munafiq, maka tidak ada alasan sedikit pun bagi mereka.

Dari itu berkatalah jujur selalu, janganlah membisu namun jangan pula berucap melainkan kata-kata yang benar-benar menunjukkan perasaan dari relung hati. Seperti rasa cinta, benci atau perasaan luarmu seperti yang dirasa oleh panca indra, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba.

Orang yang jujur tidak akan mengatakan, “Aku cinta kamu,” padahal sebenarnya dia membencinya, tidak pula mengatakan, “Aku telah mendengar,” padahal dia tidak pernah mendengar.

Berhati-hatilah dengan berbagai prasangka, yang akan mengendorkan tekad untuk berkata jujur. Hal ini akan menjadikan seseorang tercatat sebagai seorang pendusta. Adapun cara yang dapat menjamin agar jangan sampai berdusta adalah jika hati mengajak untuk berkata dusta maka ingatlah tentang kemuliaan sifat jujur dan kehinaan sifat dusta.

Dalam waktu dekat kebohongan itu akan terungkap serta mintalah perlindungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Jangan biarkan lidah mengucapkan kata-kata yang samar (Tauriyah) kecuali yang diperbolehkan dalam syari’at Islam. Wahai seorang penuntut ilmu (Thalibul ‘Ilmi)! Hati-hatilah, jangan sampai engkau tidak berkata jujur (berkata dusta) dan menggantinya dengan kata-kata Ma’aridh (menyembunyikan makna sebenarnya). Karena dusta yang paling jelek adalah dusta dalam ilmu, karena adanya penyakit ingin menyaingi teman sebayanya dan cepat tenar di tengah-tengah masyarakat.

Tidak diragukan lagi bahwa kejujuran hanya ada satu jalan. Sedangkan kebohongan itu ada banyak jalan dan caranya, demikian halnya dengan hidayah dan kesesatan, hidayah hanya satu jalan sedangkan kesesatan itu memiliki banyak jalan yang bermacam-macam.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan sungguh, ini lah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. …” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]:153.

Ada pun ke – dusta – an, maka banyak ragam dan warnanya, tergantung maksud dan tujuannya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Maraaji’:

  • Syaikh Muhammad Shalih bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 196-200. Versi terjemah bahasa Indonesia dari judul asli: Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

5 Jenis Aktivitas Berdasar Skala Prioritas

Agar seorang mukallaf  berhasil dalam program membangun mental tangguh dan sukses menghindari penghambat hidup, maka dirinya perlu juga untuk mengetahui jenis-jenis aktivitas berdasar skala prioritas.

Hal ini sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuannya. Adapun 5 jenis aktivitas berdasar skala prioritas adalah sebagai berikut:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Pertama, pekerjaan yang penting dan mendesak. Yakni tugas penting yang harus dilakukan dengan segera atau dimasa mendatang karena melihat akibat buruk dan fatal yang akan timbul dari penundaan waktu pelaksanaannya;
  • Kedua, penting akan tetapi tidak tergesa-gesa. Yakni pekerjaan atau kegiatan yang masuk dalam skala prioritas akan tetapi tidak terlalu mendesak untuk segera dilaksanakan;
  • Ketiga, segera akan tetapi kurang penting. Yakni pekerjaan yang perlu dapat perhatian segera walau pun tidak termasuk dalam prioritas penting;
  • Keempat, pekerjaan yang bersifat pelengkap. Yakni pekerjaan dan kegiatan yang tidak penting untuk dilakukan sekalipun pekerjaan itu ada;
  • Kelima, Waktu yang terbuang. Yakni pekerjaan atau kegiatan yang apabila dilakukan, maka hal itu akan menimbulkan penyesalan waktu, dan pekerjaan atau kegiatan yang tidak menghasilkan sesuatu yang positif.

[/list]

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

Oleh sebab itu hendaklah saudara membuat program kerja harian beserta jadwal pelaksanaannya. Hal tersebut dimulai dari pekerjaan yang paling penting. Sementara itu perlu juga untuk menetapkan batasan waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Hendaknya membangun sikap yang berani dalam mengambil keputusan setelah mempertimbangkan akibatnya dengan matang, mana yang hendak dikerjakan terlebih dahulu berdasar skala prioritas di atas. Hal ini juga perlu didukung dengan kemauan yang kuat, sebab tiada berarti tatkala tujuan telah ditetapkan akan tetapi seseorang itu berhenti dan tidak mengambil keputusan-keputusannya.

Dan berdo’a kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, sebab manusia hanya dapat mengusahakan asbab terbaik saja, sementara hasilnya kita serahkan kepada ketetapan Allah ‘Azza Wa Jalla (sikap tawakkal).

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” – Q.S. Al-Mumtahannah (Wanita yang Diuji) [60]: 4.

اَللّٰهُمَّ قَنِّعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ، وَبَارِكْلِيْ فِيْهِ، وَاحْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍلِيْ بِخَيْرٍ

“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa-apa yang telah Engkau rezekikan kepadaku, dan berikan keberkahan kepadaku di dalamnya serta gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” – Hadits Riwayat Al-Hakim (I/ 510) dan dishahihkannya, serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Abdullah bin Abbas. Dilemahkan oleh Syaikh  al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah nomor 6042.

Qana’ah yakni menerima dan ridha serta merasa puas atas rezeki yang dikaruniakan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maraaji’:

[list icon=”fa-book”]

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Abdurrahman bin Muhammad ar-Rayyis, Menjadi Pemimpin & Manager Sukses Dalam Sorotan Kajian Keislaman, (Jakarta: Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hal. 13.
  • Husain Muhammad Syamir, 31 Sebab Lemahnya Iman, (Jakarta: Darul Haq, 1434 H/ 2013 M), hal. 152-153.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Do’a & Wirid Mengobat Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1436 H/ 2015 M), hal. 142

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

4 Penghambat Hidup yang Harus Dijauhi

Penghalang paling besar dalam kehidupan seorang Muslim bagi jadwal kehidupan dan berbagai urusannya adalah tidak adanya perencanaan dan pengaturan program, hingga terkadang dirinya harus menghadapi tumpukan pekerjaan dalam waktu yang bersamaan hingga tidak mampu melaksanakannya.

Hal semacam ini juga banyak terjadi pada sebagian orang yang memiliki kegigihan yang kuat, hingga berbagai macam pekerjaan menumpuk, mulai dari pekerjaan tugas sampai urusan keluarga, kerabat, teman-teman akrab, dan lain-lain. Hingga tidak ada waktu baginya untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. 

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yakni:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Menunda-nunda pekerjaan sehari-hari hingga pekerjaan bertumpuk-tumpuk antara satu dengan lainnya;
  • Tidak menentukan skala prioritas atas pekerjaan yang harus didahulukan dan diutamakan;
  • Tidak memiliki disiplin pribadi;
  • Tidak memiliki kepedulian.

[/list]

Tersebut di atas merupakan hal mayoritas yang umumnya dihadapi seseorang yang merupakan penghambat hidup yang harus dijauhi. Menumpuknya pekerjaan yang selalu ada dalam kehidupan seseorang adalah merupakan satu di antara penghalang kemajuan dan ketenangan jiwa yang merupakan pembantu dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maka sudah selayaknya bagi seorang Mukallaf untuk mengerahkan akal dan pikirannya pada urusan-urusan akhirat dan ini adalah prioritas utama baginya. Kemudian urusan-urusan dunia mengekor kepada urusan-urusan akhiratnya. Sungguh sangat menyedihkan, di saat saudara menemukan sebagian orang yang menamakan dirinya sebagai orang yang konsisten dalam kegigihan namun pada realitanya justru tenggelam dalam kelalaian atas pekara akhirat di tengah-tengah kesibukan duniawi, sebuah kesibukan yang tidak pernah hampir terselesaikan. Hingga setiap kali dia diajak untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, maka dia akan menjawab dengan ucapan, “Saya sibuk sekali,” dan setiap kali orang itu dinasihati agar menyadari kewajibannya dalam menuntut ilmu ad-Din/ ilmu Agama serta membaca buku, maka alasannya adalah, “Waktunya sempit dan banayak kesibukan,” lalu kapan dirinya akan membaca? Kapan muhasabah  (evaluasi) dan ishlah (melakukan perbaikan) diri? dan kapan dirinya akan menjaga Agama Allah ‘Azza wa Jalla yakni dengan mengerjakan perintah-Nya dan menijauhi apa-apa yang dilarang oleh-Nya?

Barangsiapa yang memiliki kebiasaan seperti itu, maka dirinya tidak pernah berhenti mengemukakan alasan-alasan. Dan di antara mereka ada yang benar-benar sibuk mengejar harta kekayaan dunia hingga ia mengejar harta kekayaan itu dengan penuh kehausan dan keserakahan. Wal Iyadzubillah, semoga kita dilindungi dari sikap yang demikian.

Dinukil dari:

[list icon=”fa-book”]

  • Husain Muhammad Syamir,  31 Sebab Lemahnya Iman, (Jakarta: Darul Haq, 1434 H/ 2013 M), hal. 149-151.

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer