Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

Buku Pernikahan Islam (Rekomendasi 2020)

Buku pernikahan Islam menjadi tema bacaan yang sepatutnya ditelaah oleh para pemuda muslim. Ini adalah dua belas buku pernikahan Islam rekomendasi 2020.

Jelang Ramadhan, Sambut Lailatul Qadar: Jangan Sampai Salah Baca, Ketahuilah Doa Lailatul Qadar yang Shahih.

Tidak dipungkiri lagi bahwa sebagian permasalahan dalam rumah tangga bermula dari persoalan ekonomi, yang kemudian cenderung diperparah dengan keadaan aqidah/ keyakinan beragama sebagian kaum Muslimin akhir ini yang lemah serta hilangnya sifat-sifat terpuji dan mulia yakni:

  • Qana’ah/ sifat merasa cukup atas rezeki yang Allah Ta’ala berikan; serta
  •  Zuhd/ sifat yang tidak mengambil atau menggunakan harta kecuali dapat bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

Oleh karena seseorang itu perlu memiliki pemahaman yang tuntas atas perkara Iqtishadiyah Islamiyah/ perekonomian islam sebelum melanjutkan kedalam pengetahuan pernikahan, maka dibuatlah daftar rekomendasi buku tentang pernikahan dalam islam berikut ini:

Hal tersebut berangkat dari perhatian kami terhadap sebagian pemuda muslim yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi ihwal persiapan finansial yang mereka lakukan tatkala menjelang nikah dan walimah.

Yang hampir-hampir sikap cemas tersebut berujung kepada hilangnya kepercayaan diri, merasa takut menghadapi masa depan, dan berkonsekuensi kepada berprasangka buruk terhadap ketetapan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Dengan mengetahui karakter/ sifat/ status harta (mal) dalam perspektif Perekonomian Islam (Iqtishaadiyyah Islamiyyah) diharapkan pemuda muslim memiliki gambaran yang utuh dan benar mengenai bagaimana mereka harus menyikapi harta dan memandang kehidupan dunia ini.

Sehingga para pemuda muslim tidak lagi hidup sebagai budak harta (abdul mal) atau budak uang (abdul dinar) yang hanya berorientasi kepada perbendaharaan dunia semata. Sebab apabila tidak diiringi wawasan mengenai hal dimaksud di atas, niscaya mereka akan menggunakan harta pada jalan-jalan yang sia-sia, tiada bermanfaat dan dimurkai Allah ‘Azza Wa JallaWal ‘Iyadzu-Billah.

Di bawah ini terdapat daftar buku tentang pernikahan dalam Islam dan buku perekonomian Islam karya penulis yang kredibel dan terpercaya dalam bidang keilmuannya, bukan buku pernikahan yang kering dalil dan-atau yang telah tercemar dengan pemikiran liberal, sekulerisme, pemikiran menyimpang syi’ah dan hizbuttahrir, hingga ilmu kalam dan filsafat.

11 Buku Pernikahan Islam Terbaik 2019-2020

1. Buku Sifat Perniagaan Nabi ﷺ

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA. 1429 H/ 2008 M. Sifat Perniagaan Nabi ﷺ. Bogor: Pustaka Darul Ilmi. – Dilengkapi dengan fatwa-fatwa al-Lajnah ad-Daa’imah lil-Buhuth al-‘Ilmiyyah wal-Iftaa ( اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء)/ Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi.

2. Buku Sejak Memilih, Meminang, Hingga Menikah sesuai Sunnah

Buku Pernikahan Islam Sejak Memilih
Buku pernikahan Islam: Sejak Memilih, Meminang, Hingga Menikah Sesuai Sunnah.

Ustadz Abu Muhammad & Ibnu Shalih bin Hasbullah. Sejak Memilih, Meminang, Hingga Menikah Sesuai Sunnah. Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar. – Buku Saku, dijelaskan secara ilmiyah dan ringkas, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca usia remaja.

Pada halaman 20, bagian B. Kriteria Calon Suami, 6. Mencintai dan menerima calon istri apa adanya, dituturkan bahwa,

“Yang penting adalah kecintaannya tersebut tidak membutakannya dari kebenaran. Adapun jika cinta itu belum tumbuh sempurna, dan ia mengakui hal itu, akan tetapi ia hendak berusaha untuk saling memupuk kecintaan tersebut dalam rumah tangga nanti, maka semoga Allah menanamkan kecintaan yang luar biasa kepada pasangan yang ikhlas ini.”

3. Buku Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin

Buku Pernikahan Islam: Buku Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin.
Buku pernikahan Islam: Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin.

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. Cetakan ketiga 1436 H/ 2015 M. Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin. Jakrata: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Di dalamnya dibahas secara mendetail ihwal pra-nikah hingga pasca nikah. Termasuk di dalamnya mengenai tata cara Nazhor (melihat fisik calon pasangan hidup) serta apa saja yang boleh dilihat hingga menimbulkan perasaan ingin menikahi, hingga diangkat juga mengenai jalan keluar bagi pemuda muslim yang pernikahannya dihalang-halangi/ dilarang oleh wali mereka yang zhalim.

Dalam catatan kaki pada halaman 104, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, menuturkan bahwa,

“Seorang wanita ridha dipinang/ dilamar/ di-khitbah oleh lelaki yang baik agama dan akhlaqnya. Yakni kamu melihat bahwa laki-laki itu agamanya bagus dan baik, yakni dia seorang yang ta’at beragama dan akhlaqnya pun bagus sehingga kamu menyukainya dan meridhainya, maka nikahkanlah dia dengan anak perempuanmu atau kerabatmu jika keduanya telah sama-sama suka.”

4. Buku Adab Az Zifaf – Panduan Pernikahan Cara Nabi ﷺ

Buku Pernikahan Islam Adab Az Zifaf
Buku pernikahan Islam: Adab Az Zifaf.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani. 1425 H/ 2004 M. Adab Az Zifaf. Yogyakarta: Media Hidayah. – Buku terjemah.

Dalam muqaddimah edisi baru dituturkan bahwa,

Perbedaan yang penting (dari edisi sebelumnya) adalah materi pembahasannya lebih banyak, sehingga lebih banyak pula manfaat yang dapat diperoleh.

Perbedaan lain dari cetakan-cetakan sebelumnya adalah adanya tambahan 2 (dua) indeks. Yakni indeks mengenai hadits-hadits dan indeks mengenai atsar-atsar, sehingga sekarang keseluruhannya ada 4 (empat) indeks sebagai berikut:

  • Kitab-kitab rujukan;
  • Bab-bab pembahsan;
  • Hadits-hadits; serta
  • Atsar-atsar.

5. Buku Iqtishaadiyyah Islamiyyah

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. 1431 H/ 2010 M. Risalah Ilmiyyah Dalam Mengenal Iqtishaadiyyah Islamiyyah (Ekonomi Islam). Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

6. Buku Pendidikan Cemburu Bagi Muslimah

Mazin Abdul Karim Al-Furaih. 1428 H/ 2007 M. Pendidikan Cemburu Bagi Muslimah. Darul Falah. – Buku terjemah dari judul asli: Tahdzibul-Ghirah ‘Indal-Mar’ah.

Ia merupakan sebuah buku saku berukuran kecil yang ringkas dan padat, walaupun ia berjudul “Pendidikan Cemburu Bagi Muslimah”, kami merekomendasikan buku ini sebagai buku yang patut dibaca oleh lelaki, sebab agar seorang lelaki itu mengetahui sifat-sifat dan tabi’at dasar seorang wanita yang dengannya seorang lelaki dapat memahami dan mengarahkan istri-istrinya sesuai dengan apa yang dikehendaki syara‘.

7. Buku Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong

Buku Pernikahan Islam Berbekal setengah Isi Setengah Kosong
Buku pernikahan Islam: Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong.

Ustadz Dr. Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah, MA. Cetakan ke-2 1436 H/ 2015 M. Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong. Bekasi: Rumah Ilmu.

Dalam Muqaddimah Ustadz Syafiq bertutur bahwa,

AkhiUkhti, bila memandang sebuah gelas yang berisikan air setengahnya, maka sebagian orang akan berkata, ‘Setengahnya kosong,’ dan sebagian lain berucap, ‘Setengahnya isi.’

Termasuk orang yang mana kah anda?

Bila yang pertama, maka ini sebuah indikasi bahwa anda adalah orang yang hidup dengan kacamata pesimis, selalu memandang kepada kekurangan, dan biasanya orang yang seperti itu, hidupnya senantiasa berbalut kesusahan dan bermantel kesengsaraan, karena dirinya lupa memandang kepada isi yang terdapat di gelas tersebut, walaupun hanya separuh.

Adapun insan yang berkata, ‘Setengah isi,’ maka ini salah satu petunjuk bahwa dia adalah orang yang optimis, karena ia memandang lewat kacamata isi, ia tidak terlalu peduli dengan setengahnya yang kosong, karena bagaimanapun gelas itu ada isinya, dan ia berucap, ‘Alhamdulillah, masih ada isinya.’.”

Tulisan ini berusaha untuk membimbing para pemuda muslim agar dapat bersikap benar dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini dengan kacamata optimisme, sehingga apapun yang menimpa, mereka dapat menyikapinya dengan tenang dan lapang dada, demi menggapai kehidupan yang lebih baik dan kebahagiaan yang indah dan abadi.

8. Buku Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

Buku Pernikahan Islam Andai Aku Tidak Menikah Dengannya
Cover buku Andai Aku Tidak Menikah Dengannya karya Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah.

Buku tentang pernikahan sesuai syariat Islam: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya.Ustadz Dr. Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah, MA. Cetakan ke-2 1436 H/ 2015 M. Andai Aku Tidak Menikah Dengannya. Bekasi: Rumah Ilmu.

Dengan memahami isi buku ini bagian per bagiannya, saudara dapat memiliki gambaran yang jelas ihwal bagaimana menghadapi dan menyikapi problematika rumah tangga, menguatkan hati yang kian lemah dalam mencintai, menangani kecemburuan pasangan hidup, hingga mengetahui bagaimana Shahabiyyah (Shahabat dari kalangan wanita) bergaul dengan suaminya.

Pada bagian Muqaddimah, Ustadz Syafiq menuturkan bahwa,

“Setelah mendengar banyaknya curhatan dari para istri yang suaminya tak seindah harapan, rumah tangganya pun tak sehangat yang dibayangkan, apalagi munculnya suami-suami yang sok alim di depan umum, hafalan ayat dan haditsnya sudah lumayan namun ketika berada di rumah, ia adalah penjahat berbaju koko.

Ditambah maraknya buku-buku yang ditujukan kepada kaum Hawa agar mereka menjadi istri yang baik dan shalihah, mengabdi kepada suaminya, sedang suaminya sendiri tak shalih.

Belum lagi semaraknya kajian yang diselenggarakan dengan tema untuk ibu-ibu agar mereka lebih ta’at dan patuh kepada suami; dan kurangnya buku-buku yang ditujukan kepada kaum lelaki agar mereka memperbaiki diri, bercermin kepada sang Nabi dan menjadi suami sejati.

Karena semua itulah dan atas berkat taufik Ilahi dengan segala keterbatasan diri, aku (Ustadz Syafiq -pen) ingin memberikan sumbangsih. (yakni dengan menulis buku berjudul “Andai Aku Tidak Menikah Dengannya,” – pen.)”

Sejumlah laki-laki yang pada masa sebelumnya telah menghabiskan waktu dalam keadaan yang buruk dan dikenal sebagai seorang yang kasar serta gemar mencela teman hidupnya tatkala perasaan cemburu (al-Ghyrah) menyambangi. Mengaku bahwa saat ini mereka telah mengalami perubahan yang nyata, yakni telah berhasil merasakan ketenangan qalbu sebagai seorang muslim yang terpelihara lisannya. Sebagaimana jelas perbedaan antara timur dengan barat, maka jelas dan terang pula perbedaan antara cemburu yang tercela dengan cemburu yang terpuji.

Lantas muncul pertanyaan, apa yang melatar belakangi seseorang itu dapat mencapai perubahan (ishlah) ke arah yang jauh lebih baik? Ketahui lebih lanjut dalam review buku kajian sunnah: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya [fa size=”13px” icon=”fa-link”].

9. Buku Tuntunan Menggapai Keluarga Sakinah

Muhammad Shalih al-Munajjid. Menggapai Keluarga Sakinah – Disertai Kiat-Kiat Memperbaiki Keadaan Rumah Tangga. Pustaka Ibnu ‘Umar. – Ringkasan kitab: Arba’uuna Nashiihatan li Ishlaahil Buyuut.

10. Buku Bekal-Bekal Menuju Pernikahan

Dr. ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi. Cetakan ke-2 1436 H/ 2014 M. Bekal-Bekal Menuju Pernikahan – Untuk Mewujudkan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Penuh Rahmah. Bogor: Media Tarbiah. – Buku terjemah.

11. Buku Kiat-Kiat Memilih Istri Idaman

Buku Pernikahan Islam Kiat Memilih Istri Idaman
Buku pernikahan Islam: Kiat-kiat Memilih Istri Idaman.

Ustadz Dr. Abdil Muhsin Firanda, Lc., MA. 1435 H/ 2014 M. Kiat-Kiat Memilih Istri Idaman. Nashirus-Sunnah.

Pada halaman 27, dituturkan bahwa,

“Jika pernikahan disebabkan dorongan kecantikan, pernikahan ini akan lebih langgeng dibandingkan jika yang mendorong pernikahan tersebut adalah harta sang wanita. Hal ini karena kecantikan adalah sifat yang senantiasa ada pada sang wanita, sedangkan kekayaan adalah sifat yang dapat hilang dari sang wanita.”

Kemudian pada halaman 28, dituturkan bahwa,  Imam Ahmad berkata,

“Jika seseorang ingin meng-khitbah (melamar) seorang wanita, hendaknya yang pertama kali ia tanyakan adalah kecantikannya. Jika dipuji kecantikannya, maka ia bertanya tentang agamanya. Jika kecantikannya tidak dipuji, maka ia menolak wanita tersebut bukan karena agamanya, melainkan karena kecantikannya.”

Perkataan Imam Ahmad ini menunjukkan tingginya fiqih dan pemahaman beliau. Jika yang pertaa kali ditanyakan oleh seseorang tentang sang wanita adalah agamanya, lalu dikabarkan kepadanya sang wanita adalah wanita yang shalihah, namun saat ia memandangnya ternyata sang wanita bukan merupakan seleranya, ia pun tidak menikahi wanita tersebut.

Artinya ia meninggalkan wanita tersebut setelah ia mengetahui bahwa wanita tersebut adalah wanita shalihah. Jika demikian ia telah termasuk kedalan celaan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya (jika tidak kau lakukan), maka tanganmu akan menempel dengan tanah.”

Dan seterusnya masih banyak sekali faedah ilmiah yang dapat saudara ambil dari buku kategori buku saku ini, yang tidak lebih berjumlah 100 halaman.

Buku- buku pernikahan dan buku perekonomian Islam di atas adalah buku-buku best seller, artinya banyak pembaca terutama dari kalangan usia remaja dan produktif yang telah melengkapi koleksi ‘ilmiyyah-nya.

Hendaklah para pemuda muslim menggunakan waktunya untuk secara khusus memahami kaidah-kaidah dan faedah yang terkandung dalam buku-buku pernikahan dan buku perekonomian Islam. Sebab seseorang yang beramal tanpa dasar ilmu niscaya lebih banyak berbuat kesalahan.

12. Buku Tuntunan Praktis Adab Walimah

Dengan membaca buku tentang pernikahan Islam ini, dapat diperoleh pengertian Walimah secara bahasa dan makna syar’i.

Di dalamnya dijelaskan mengenai tujuan nikah dan hikmah walimah, hakikat walimatul ‘urs (pesta pernikahan), hukum walimatul ‘urs, kadar (ukuran) dan lamanya walimah, hikmah disyariatkannya walimah, hingga adab-adab seputar undangan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

3 Macam Dusta

Macam-macam Dusta: Imam al-Auza’i berkata,

Pelajarilah kejujuran sebelum engkau mempelajari ilmu.

Waqi’ berkata,

Ilmu ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang jujur.

Maka dari itu, pelajarilah kejujuran terlebih dahulu sebelum engkau mempelajari ilmu. Kejujuran adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang ada, kejujuran ini hanya ada satu cara, sedangkan dusta/ kedustaan banyak cara dan ragamnya. Meskipun demikian kedustaan dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yakni:

1. Dusta Seorang Penjilat

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan dan juga keyakinan yang sebenarnya. Contohnya orang yang mencari muka terhadap orang yang dia ketahui sebagai orang fasiq dan ahli bid’ah, namun dia katakan sebagai orang yang istiqamah, untuk mencari muka (perhatian) darinya.

Sebenarnya engkau mengetahui bahwa dia adalah orang yang fasik, akan tetapi saat engkau datangi dia, engkau katakan kepadanya,

MasyaAllah, anda adalah seorang yang istiqamah, berakhlaq mulia, taat beragama, mempunyai manhaj (sifat dan cara beragama) yang lurus.

Padahal engkau mengetahui bahwasanya dia adalah hamba Allah yang paling fasik. Apa yang pantas dikatakan kepada orang semacam ini? Yang pantas dikatakan kepada orang ini adalah penjilat atau pencari muka. Karena biasanya yang paling sering melakukannya adalah orang-orang yang ada di sekitar raja atau penguasa. Engkau dapati salah seorang dari mereka mencari muka di hadapan sang raja dengan mengatakan, “Engkau begini dan begitu.” Ini adalah sebuah kemunafikan. Wal ‘iyadzu billaah (Kami berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla).

2. Dusta Orang Munfaiq

Dusta orang munafiq maksudnya adalah kedustaan yang berbeda dengan keyakinan namun sama dengan kenyataan, sebagaimana orang munfaiq, mereka mengatakan seperti yang dikatakan oleh Ahlus Sunnah (Salafi).

Salah satu contohnya adalah firman Allah ‘Azza Wa Jalla,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munfaiq datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta.” – Q.S. Al-Munaafiquun (Orang-Orang Munafik) [63]: 1.

Pengakuan mereka bahwa beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah memang sesuai dengan kenyataannya. Apa dalilnya? Allah berfirman, “Allah sudah tahu bahwa engkau adalah utusan-Nya,” kan tetapi persaksian mereka ini menyelisihi keyakinan mereka, karena Allah Ta’aala berfirman, “Dan Allah menjadi saksi bahwa orang-orang munafik itu dusta.”

Dustanya mereka adalah dengan mengatakan bahwa “kami bersaksi,” bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah bukan pada sekedar ucapan mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ucapan itu menyelisihi keyakinan mereka namun sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Ini adalah pengakuan orang munafiq terhadap orang lain, adapun pengakuan mereka terhadap diri sendiri, misalnya dia mengatakan, “Saya adalah seorang yang shalih,” maka perkataan ini tidaklah sesuai dengan keyakinan mereka sendiri dan tidak pula sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, kecuali hanya sekedar penampilan luarnya saja.

3. Dusta Orang Dungu

Maksudnya adalah, kedustaan yang berbeda dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, seperti orang yang percaya akan keshalihan orang Shufi yang mubtadi’ (ahli bid’ah/ pelaku bid’ah) lalu dia menyebutnya sebagai ‘Wali’. Atau kedustaan yang tidak sesuai dengan kenyataan namun serasi dengan keyakinan, yaitu dengan mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya karena kebodohannya, misal dia mengatakan bahwa Ahli Kalam (Filosof Islam) adalah orang-orang yang cerdik – pandai, sedangkan ulama Ahlus Sunnah (Salafi) adalah orang yang bodoh karena mereka hanya menerima nash apa adanya tanpa mengetahui maknanya.

Ini adalah orang yang bodoh, oleh karena ini lah Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah menyebut mereka sebagai orang yang bodoh dalam kitabnya, al-Fatawa al-Hamawiyyah, beliau berkata,

Sebagian orang yang bodoh mengatakan: ‘Manhaj (sifat dan cara beragama) orang Salaf lebih selamat namun manhaj-nya orang Khalaf lebih pandai dan bijaksana.’

Demikianlah orang yang menyaksikan perbuatan dan juga ibadahnya orang-orang Shufi, maka dia akan mengatakan bahwa mereka adalah orang yang shalih dan para wali (?!).

Kami katakan,

Engkau adalah orang yang bodoh yang tidak mengetahui hakikat mereka yang sebenarnya, maka dari itu janganlah engkau menghukumi mereka sebagai seorang yang shalih sehingga engkau mengetahui hakikat mereka, jika tidak, maka engkau adalah seorang yang bodoh.

Orang bodoh semacam ini, apakah alasan ketidaktahuannya dapat diterima? Jawab, jika dia tidak mau belajar maka tidak dierima alasan ketidaktahuannya. Namun apabila ilmunya hanya sampai di situ, maka dapat diterima alasan ketidaktahuannya, karena memang dia adalah orang yang bodoh. Adapun untuk macam yang pertama dan kedua, yakni dustanya orang penjilat dan munafiq, maka tidak ada alasan sedikit pun bagi mereka.

Dari itu berkatalah jujur selalu, janganlah membisu namun jangan pula berucap melainkan kata-kata yang benar-benar menunjukkan perasaan dari relung hati. Seperti rasa cinta, benci atau perasaan luarmu seperti yang dirasa oleh panca indra, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba.

Orang yang jujur tidak akan mengatakan, “Aku cinta kamu,” padahal sebenarnya dia membencinya, tidak pula mengatakan, “Aku telah mendengar,” padahal dia tidak pernah mendengar.

Berhati-hatilah dengan berbagai prasangka, yang akan mengendorkan tekad untuk berkata jujur. Hal ini akan menjadikan seseorang tercatat sebagai seorang pendusta. Adapun cara yang dapat menjamin agar jangan sampai berdusta adalah jika hati mengajak untuk berkata dusta maka ingatlah tentang kemuliaan sifat jujur dan kehinaan sifat dusta.

Dalam waktu dekat kebohongan itu akan terungkap serta mintalah perlindungan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Jangan biarkan lidah mengucapkan kata-kata yang samar (Tauriyah) kecuali yang diperbolehkan dalam syari’at Islam. Wahai seorang penuntut ilmu (Thalibul ‘Ilmi)! Hati-hatilah, jangan sampai engkau tidak berkata jujur (berkata dusta) dan menggantinya dengan kata-kata Ma’aridh (menyembunyikan makna sebenarnya). Karena dusta yang paling jelek adalah dusta dalam ilmu, karena adanya penyakit ingin menyaingi teman sebayanya dan cepat tenar di tengah-tengah masyarakat.

Tidak diragukan lagi bahwa kejujuran hanya ada satu jalan. Sedangkan kebohongan itu ada banyak jalan dan caranya, demikian halnya dengan hidayah dan kesesatan, hidayah hanya satu jalan sedangkan kesesatan itu memiliki banyak jalan yang bermacam-macam.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan sungguh, ini lah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. …” – Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]:153.

Ada pun ke – dusta – an, maka banyak ragam dan warnanya, tergantung maksud dan tujuannya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

  • Syaikh Muhammad Shalih bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 196-200. Versi terjemah bahasa Indonesia dari judul asli: Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Daftar Intisari Cahaya Ilmu

5 Jenis Aktivitas Berdasar Skala Prioritas

Agar seorang mukallaf  berhasil dalam program membangun mental tangguh dan sukses menghindari penghambat hidup, maka dirinya perlu juga untuk mengetahui jenis-jenis aktivitas berdasar skala prioritas.

Hal ini sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuannya. Adapun 5 jenis aktivitas berdasar skala prioritas adalah sebagai berikut:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Pertama, pekerjaan yang penting dan mendesak. Yakni tugas penting yang harus dilakukan dengan segera atau dimasa mendatang karena melihat akibat buruk dan fatal yang akan timbul dari penundaan waktu pelaksanaannya;
  • Kedua, penting akan tetapi tidak tergesa-gesa. Yakni pekerjaan atau kegiatan yang masuk dalam skala prioritas akan tetapi tidak terlalu mendesak untuk segera dilaksanakan;
  • Ketiga, segera akan tetapi kurang penting. Yakni pekerjaan yang perlu dapat perhatian segera walau pun tidak termasuk dalam prioritas penting;
  • Keempat, pekerjaan yang bersifat pelengkap. Yakni pekerjaan dan kegiatan yang tidak penting untuk dilakukan sekalipun pekerjaan itu ada;
  • Kelima, Waktu yang terbuang. Yakni pekerjaan atau kegiatan yang apabila dilakukan, maka hal itu akan menimbulkan penyesalan waktu, dan pekerjaan atau kegiatan yang tidak menghasilkan sesuatu yang positif.

[/list]

[line]
[ads script=”1″ ]
[line]

Oleh sebab itu hendaklah saudara membuat program kerja harian beserta jadwal pelaksanaannya. Hal tersebut dimulai dari pekerjaan yang paling penting. Sementara itu perlu juga untuk menetapkan batasan waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Hendaknya membangun sikap yang berani dalam mengambil keputusan setelah mempertimbangkan akibatnya dengan matang, mana yang hendak dikerjakan terlebih dahulu berdasar skala prioritas di atas. Hal ini juga perlu didukung dengan kemauan yang kuat, sebab tiada berarti tatkala tujuan telah ditetapkan akan tetapi seseorang itu berhenti dan tidak mengambil keputusan-keputusannya.

Dan berdo’a kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, sebab manusia hanya dapat mengusahakan asbab terbaik saja, sementara hasilnya kita serahkan kepada ketetapan Allah ‘Azza Wa Jalla (sikap tawakkal).

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” – Q.S. Al-Mumtahannah (Wanita yang Diuji) [60]: 4.

اَللّٰهُمَّ قَنِّعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ، وَبَارِكْلِيْ فِيْهِ، وَاحْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍلِيْ بِخَيْرٍ

“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa-apa yang telah Engkau rezekikan kepadaku, dan berikan keberkahan kepadaku di dalamnya serta gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” – Hadits Riwayat Al-Hakim (I/ 510) dan dishahihkannya, serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Abdullah bin Abbas. Dilemahkan oleh Syaikh  al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah nomor 6042.

Qana’ah yakni menerima dan ridha serta merasa puas atas rezeki yang dikaruniakan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Maraaji’:

[list icon=”fa-book”]

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Abdurrahman bin Muhammad ar-Rayyis, Menjadi Pemimpin & Manager Sukses Dalam Sorotan Kajian Keislaman, (Jakarta: Darul Haq, 1437 H/ 2016 M), hal. 13.
  • Husain Muhammad Syamir, 31 Sebab Lemahnya Iman, (Jakarta: Darul Haq, 1434 H/ 2013 M), hal. 152-153.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Do’a & Wirid Mengobat Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1436 H/ 2015 M), hal. 142

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer