Categories
Buku Ilmiah Intisari Cahaya Ilmu

Kamus Bahasa Arab Hiwari

Judul: Hiwari Kamus Percakapan Bahasa Arab
Penulis: Ahmad Jaelani bin Sanatra
Penerjemah:
Isi: vi + 331 halaman
Dimensi:  11 cm *  17 cm
Harga: Rp. 59.000,-
Penerbit: Pustaka Imam Adz-Dzahabi
Toko: Ghamir Bogor, Maktab As-Salam Pontianak.
Foto: @myriautami

Kamus Bahasa Arab

Kamus Bahasa Arab – Kamus Percakapan Bahasa Arab: Mempelajari Bahasa Arab adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan thalibil ‘ilmi (menuntut ilmu) seorang muslim.

Sebab dengan mempelajari, mengerti serta mengimplementasikan bahasa Arab dalam kehidupan ilmiah seseorang itu menjadi lebih mudah dalam memahami Kitabullah dan As-Sunnah sesuai Manhaj Salaf.

Kamus Bahasa Arab (Kamus Percakapan Bahasa Arab) yang direkomendasikan adalah Kamus Bahasa Arab berjudul “Hiwari – Kamus Percakapan Bahasa Arab” yang disusun oleh Ustadz Ahmad Jaelani bin Sanatra.

Di dalam halaman kata pengantar, penulis menuturkan bahwa kamus Hiwari merupakan kumpulan kosakata dan ungkapan sehari-hari dalam bahasa Arab yang sering digunakan.

Ditulis berdasarkan akumulasi dari pengalaman penulis selama bertahun-tahun mengajar. Selain mudah dan menyenagkan dalam mempelajarinya, kamus ini juga disertai contoh cara menyusun kalimat dalam bahasa Arab serta disertai beberapa latihan dengan cara yang mudah, InsyaAllah.

Kamus Bahasa Arab “Hiwari – Kamus Percakapan Bahasa Arab” terdiri dari 9 bab, sebagai berikut:

Daftar Isi Kamus Bahasa Arab Hiwari

[ads script=”1″ ]

Daftar Isi – iii

Muqaddimah – iv

Kata Pengantar – v

BAB 1: Dasar-dasar Percakapan – 1

BAB 2: Menggunakan Bilangan – 61

BAB 3: Keterangan Waktu – 81

BAB 4: Keterangan Tempat – 105

BAB 5: Kumpulan Kosakata Populer – 113

BAB 6: Menyusun Kalimat Indah – 191

BAB 7: Percakapan Bahasa Arab ‘Amiyah – 201

BAB 8: Kata Kerja & Huruf Setelahnya – 213

BAB 9: Kumpulan Kata Kerja Populer – 229

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Buku Ilmiah

Bagaimana Muslimah Berkarya | Review Buku Kajian Sunnah

Judul: Bagaimana Muslimah Berkarya?
Penulis: Maram binti Shalih al-‘Athiyyah
Penerjemah: Ade Ikhwan Ali
Isi: 64 halaman
Dimensi:  cm *  cm
Harga: Rp. 8.000,-
Penerbit: Pustaka Ibnu ‘Umar

[line]

Bagaimana muslimah berkarya?

Tidak diragukan lagi bahwa peran karya wanita dalam menolong agama ini sangat besar. mereka adalah ibu, saudara perempuan, anak perempuan, atau yang lainnya.

Mereka adalah penentu kualitas suatu masyarakat. Jika mereka baik, maka masyarakat pun baik, dan jika mereka buruk, maka buruk pula masyarakat tersebut.

Sangat keliru apabila ada yang mengatakan bahwa menolong agama Allah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat hanya dapat dilakukan oleh kaum pria.

Buku saku ini berisi ringkasan peran karya kaum wanita dalam membela dan menolong agama Islam yang dapat dipraktekkan oleh para wanita dalam dunia nyata.

Banyak orang yang mendefinisikan An-Nushrah terbatas pada berjihad [fa size=”13px” icon=”fa-link”] melawan orang-orang kafir [fa size=”13px” icon=”fa-link”] dengan senjata. Ini keliru. Sebab, “al-Jihaad” menurut bahasa adalah mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan. Sedangkan menurut syara‘ adalah, “Mengerahkan segenap kemampuan untuk mendakwahi (mengajak) orang-orang kafir [fa size=”13px” icon=”fa-link”] kepada agama yang benar (Islam) dan memerangi mereka apabila menolaknya.” – Hasyiyah ar-Raudhul Murbi‘ (I/253), karya ‘Abdurrahman bin Qasim an-Najdi.

Dakwah bil Hikmah

Pada halaman 12, penulis menuturkan kaifiah (tata cara) dakwah dan makna “bil-hikmah”, bahwa “bil-hikmah” adalah setiap orang diajak sesuai dengan kondisi mereka, kadar pemahaman mereka, dan bagaimana cara mereka menerima ajakan dakwah.

Sebagian dari makna “bil-hikmah” adalah dakwah dengan ilmu, dan memulai dari hal-hal yang paling penting dan paling mudah untuk dipahami. Mulailah dengan sesuatu yang dapat diterima dengan sempurna (utuh), dengan cara yang lembut dan menyentuh [fa size=”13px” icon=”fa-link”].

Apabila tidak cukup dengan cara seperti ini, maka lakukanlah dakwah dengan mau’izah hasanah, yakni memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran disertai at-targhiib (pemberian motivasi) dan at-tarhiib (penyampaian ancaman).

[line]

Sementara itu daftar isi dari buku “Bagaimana Muslimah Berkarya?” adalah sebagai berikut:

Muqaddimah | 4;

BAB I Pengertian Menolong Agama Allah (An-Nushrah) | 5;

BAB II Medan-medan Jihad bagi Wanita | 16;

BAB III Bekal-bekal Berjihad Membela Agama Allah | 26;

BAB IV Buah-buah yang Dihasilkan dengan Membela Agama Allah | 42;

BAB V Sebab-sebab yang Melemahkan Seseorang Dalam Membela Agama Allah Ta’ala | 53;

Penutup | 63.

[line]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

 

Categories
Buku Ilmiah

Review Buku Sunnah

Review Buku Sunnah – “Islam adalah Sunnah, Sunnah adalah Islam.”

Review Buku Sunnah: Hendaklah seorang Mukallaf [fa size=”13px” icon=”fa-link”] mengetahui ihwal kewajibannya dalam menuntut ilmu Agama. Sebab menuntut ilmu Agama merupakan sebuah perintah yang datang dari Allāh عَزَّ وَجَلَّ dan Rasul-Nya Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Seseorang itu harus berniat menuntut ilmu untuk menjalankan perintah Allāh عَزَّ وَجَلَّ, karena memang Allāh عَزَّ وَجَلَّ memerintahkannya.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah …” – Q.S. Muhammad [47]: 19.

Dalam ayat ini Allāh عَزَّ وَجَلَّ menganjurkan untuk menuntut ilmu, dan anjuran untuk melakukan sebuah perbuatan berarti perbuatan tersebut dicintai, diridhai dan diperintahkan oleh-Nya.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ berfirman,

 وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).  Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” – Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 122.

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” – Shahih: Ibnu Majah no. 224 (كتاب المقدمة), dari Shahabat Anas bin Malik رضى الله عنه.

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh, maka Allāh akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim nomor 1037 (كتاب الزكاة).

Agar seseorang itu dapat memahami Agama dan meraih ganjaran yang besar di sisi Allāh عَزَّ وَجَلَّ, maka hendaklah dia mengikat diri terhadap kewajibannya dalam Thalibil ‘Ilmi (menuntut ilmu).

Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allāh mudahkan jalannya menuju Surga. …” — Sahih (Darussalam): Jami` at-Tirmidzi nomor 2646 (كتاب العلم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), dari Shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه‎‎.

Mafhum peredaran ilmu di antara bani Adam (umat manusia) terjadi melalui beberapa jalan, yakni:

[list icon=”fa-check-circle”]

  • Melalui lisan (ucapan);
  • Melalui tulisan (kitab/ buku/ buku- buku sunnah);
  • Melalui contoh perbuatan.

[/list]

Oleh karena itu hendaknya seorang muslim berusaha menimba ilmu dari jalur-jalur yang telah disebutkan di atas disamping rutinitasnya mendatangi majelis ilmu.

Dengan membaca kitab/ buku seseorang itu dapat lebih menyerap materi yang dimuat di dalamnya, sebab ia dapat membaca kembali (mengulang bacaan) materi yang ditulis oleh Ahlul ‘Ilmi yakni ‘ulama dan para ustadz, hingga seorang pelajar itu dapat benar-benar menyerap faedah ‘ilmiyyah yang terkandung di dalamnya.

Akan tetapi hendaklah seorang muslim mengambil ‘Ilm ad-Din (ilmu Agama) dari sumber yang Tsiqah [fa size=”13px” icon=”fa-link”] (kredibel/ terpercaya) membawakan Al-Haq (Kitabullah dan Sunnah Rasul/ Hadits Shahih) yang dipahami sesuai dengan Manhaj (metodologi/ sifat dan cara) para Shahabat Radhiy-Allaahu-‘Anhum/ Salafush Shalih.

Reviewer Buku Sunnah pertama di Indonesia

[ads script=”2″ ]

Menanggapi antusiasme Hijrah kepada Sunnah dan determinasi para pelajar muslim di Indonesia dalam menuntut ilmu agama dari sumber yang Tsiqah [fa size=”13px” icon=”fa-link”],  maka sejak bulan Sya’ban 1439 H/ Mei 2018 M telah diterbitkan grup WhatsApp “Review Buku Sunnah” [fa size=”13px” icon=”fa-external-link”] yang dikelola oleh Affan bin Umar:

[list icon=”fa-certificate”]

[/list]

Dengan bergabung kedalam grup WhatsApp “Review Buku Sunnah” [fa size=”13px” icon=”fa-external-link”] rekan-rekan pelajar dapat mengetahui buku-buku kajian ilmiah Sunnah tanpa Syak (ragu dan bimbang) dalam memilih buku. Sehingga Mal (harta) yang digunakan dalam memperoleh buku-buku ilmiah benar-benar digunakan dalam Fii Sabilillāh. InsyaAllāhu-Ta’āla, harta tersebut dicatat sebagai harta yang dikorbankan di jalan Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Bukan harta yang menyebabkan terjatuhnya seseorang di dalam Syubhat (kerancuan dalam beragama). Sebab pada hakikatnya harta seseorang merupakan milik Allāh عَزَّ وَجَلَّ, maka hendaknya dia menggunakan harta tersebut pada jalan-jalan yang mendatangkan keridhaan-Nya, bukan murka-Nya.

Review buku Sunnah dimaksud dibuat dalam publikasi digital baik tekstual, infografis, maupun audio – visual (video).

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[list icon=”fa-book”]

  • Kitab suci Al-Qur’an;
  • Shahih Muslim;
  • Jami at-Tirmidzi;
  • Sunan Ibnu Majah.

[/list]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer