Categories
Arti Kata

Ibnu Sabil (ابن سبيل) Secara Bahasa dan Istilah

Pengertian Ibnu Sabil (ابن سبيل) secara Bahasa dan istilah.

Ibnu Sabīl secara Bahasa

ibnu sabil secara bahasa dan istilah-2
Pengertian kata “sabil”.

Dari perspektif Bahasa, sabīl arti asalnya adalah jalan. Makna, Ibnu Sabīl berarti musafir yang kerap melakukan perjalanan. Ia disebut ibnu sabīl karena sering melakukan perjalanan.[1] Ia juga berarti musafir yang berada jauh dari rumahnya; disebut demikian karena ia mempraktekkan hal itu.

Kata sabīl juga dimaknai wasilah (perantara) demi mencapai tujuan baik atau buruk.[2]

Ibnu sabīl biasa mengadakan perjalanan dari suatu negeri ke negeri lain yang jauh dari kampung halaman.

Ibnu Sabīl secara Istilah

Ibnu sabil secara istilah
“Sabil” artinya adalah: berada di perjalanan.

Sementara itu, apabila dilihat dari perspektif istilah, Ibnu Sabīl berarti seorang musafir yang terputus hubungan dari keluarga dan harta bendanya oleh karena melakukan perjalanan jauh. Dia tidak mempunyai apa-apa untuk kembali ke kampung halamannya, meskipun dia memiliki banyak harta di kampung halamannya.

Maka orang yang baru akan melakukan perjalanan dari kotanya, sungguh dia tidak-atau belum termasuk ibnu sabīl, karena sabīl artinya berada di perjalanan.

Bagian Zakat untuk Ibnu Sabīl

Ilustrasi Bagian zakat untuk ibnu sabil.
Bagian zakat untuk ibnu sabil.

Seorang ibnu sabīl, meskipun pada dasarnya dia dikenal kaya di kampung halaman, berhak diberikan zakat sebesar keperluannya agar dapat kembali pulang.

Hal ini didasarkan pada konteks umum firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

وَابْنِ السَّبِيلِ

“… Dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan …” – Q.S. At-Taubah [9]:  60.

[line]

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

[ads script=”1″ ]

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

[1] An-Nihayat fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar (I/ 338-339)

[2] Mufradat al-Qur-an karya Al-Ashfahani (hal. 395)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Arti Kata

Arti Kata Muallaf secara Bahasa dan Istilah Syar’i

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

“… yang dilunakkan hatinya (mualaf) …” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

[line]

Arti kata Muallaf: Apabila dilihat dari perspektif Bahasa, maka jika dikatakan: Aliftusy syai’a atau Aliftu fulanan, maka artinya: Aku merasa akrab dengannya. Dan jika dikatakan: Allaftu bainahum, artinya: Aku menyatukan mereka setelah sebelumnya bercerai-berai.

Adapun jika dikatakan: Allafatuasy syai’a ta’lifan, artinya: Aku menyambung bagian-bagian yang terpisah. Dari kata inilah muncul istilah ta’lif al-kitab (menyusun atau menulis buku). Kata ilf sendiri artinya alif (yang disatukan).

Sedang Ta’allafahu ‘alal Islam (disatukan dalam Islam). Dari kata inilah lahir istilah mu-allafah qulubuhum “mereka yang disatukan/ didekatkan hatinya (kepada Islam).”

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya mengakrabi mereka, yakni mendekati mereka dan memberi mereka agar orang-orang kafir lainnya tertarik memeluk agama Islam.

Dengan demikian, mu-allafah qulubuhum ialah bentuk jamak dari kata muallaf, dan ia berasal dari kata ta’lif yang berarti menyatukan hati.

Kemudian apabila dilihat dari perspektif istilah maka Mu-allafah qulubuhum; ihwal kata mu-allafah, bentuk tunggalnya yaitu muallaf, yang maknanya adalah: seorang pemuka kaum yang diharapkan memeluk Islam atau dapat menghentikan gangguannya (terhadap kaum muslim).

Atau berarti orang yang baru masuk yang dengan diberikannya (zakat) diharapkan menjadi semakin kuatlah imannya. Atau agar orang yang sepertinya diharapkan masuk Islam juga, atau membantu memungut zakat daru orang yang enggan menunaikan zakat.

Macam-macam Muallaf  

Muallaf ada 2 (dua) macam, yaitu: (1) muallaf dari kalangan orang kafir; dan (2) muallaf dari kalangan orang Islam.

Muallaf dari Orang Kafir

[ads script=”1″ ]

Muallaf dari kalangan kaum kafir terbagi menjadi dua.

Pertama, orang kafir yang dikhawatirkan mengganggu dakwah Islam. Dengan diberi sesuatu, diharapkan dia serta orang-orang yang bersamanya minimal akan berhenti dari memberi gangguan.

Kedua, orang kafir yang diharap mau memeluk Islam. Tujuan memberinya adalah menguatkan niatnya memeluk agama ini, sehingga hatinya semakin tertarik pada Islam dan akhirnya benar-benar masuk Islam.

Contonya apa yang dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم terhadap Shafwan bin Umayyah bin Khalaf.

Peristiwanya terjadi saat beliau صلى الله عليه وسلم menaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah). Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم berangkat bersama sejumlah muslimin (untuk berperang di Hunain). Ketika itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi Shafwan bin Umayyah bin Khalaf seratus ekor kambing, lalu beliau صلى الله عليه وسلم tambah lagi seratus, dan beliau صلى الله عليه وسلم tambah seratus ekor lagi.

Shafwan menceritakan kejadian itu: “Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) memberiku sebanyak yang beliau beri, padahal ketika itu beliau (صلى الله عليه وسلم) adalah orang yang paling kubenci, akan tetapi beliau (صلى الله عليه وسلم) tetap memberiku, sehingga beliau (صلى الله عليه وسلم)-pun menjadi orang yang paling aku cintai.”[1]

Anas berkata: “Jika ada orang yang masuk Islam oleh karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak masuk Islam sampai akhirnya Islam menjadi sesuatu yang paling dia cintai daripada dunia beserta isinya.”

Anas juga menceritakan: “Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) selalu memberikan orang yang meminta sesuatu kepada beliau karena berharap akan keislamannya. Bahkan, ada seseorang yang meminta kambing kepadanya sepenuh lembah di antara dua gunung dan diberikan oleh beliau tanpa ragu-ragu. Kemudian orang yang diberi itu kembali ke kampungnya dan berkata kepada penduduk kampungnya: ‘Wahai penduduk kampungku, masuk Islamlah kalian. Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dan tidak takut miskin’.”

[line]

Muallaf dari Kalangan Orang Islam

[ads script=”1″ ]

Muallaf dari kalangan musim terbagi kedalam empat jenis.

Pertama, para pemuka masyarakat yang sudah masuk Islam yang mempunyai kolega dari kalangan kaum kafir, juga dari kalangan muslimin, yang mempunyai i’tiqad baik terhadap Islam.

Jika mereka diberi zakat, maka diharapkan kolega-kolega mereka yang kafir pun tertarik untuk masuk Islam dan semakin baik i’tiqad mereka – yang muslim – atas Islam. Dengan pertimbangan inilah, mereka (para pemuka muslim tersebut) boleh diberi zakat.

Ke-dua, orang-orang yang tinggal di perbatasan antara negara Islam dengan negara kafir. Kalau diberi zakat, mereka akan membela kaum muslimin di sekitarnya.

Ke-tiga, orang-orang yang jika diberi zakat maka akan memaksa orang yang enggan menunaikan zakat kecuali dia takut (jika tidak menunaikannya). Maka itu, mereka semua diberi zakat karena termasuk muallaf, yang mereka masuk kedalam keumuman surah At-Taubah ayat 60.

Ke-empat, para pemuka masyarakat yang disegani oleh kaumnya. Tatkala mereka diberi zakat, maka diharapkan keimanan mereka semakin kuat dan memotivasi mereka untuk ber-jihad. Karenanya, mereka boleh diberi zakat.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

[1] Muslim, kitab “al-Fadhail”, bab “Ma Su-ila ar-Rasul Syaian Qath Faqala: La wa Katsrat ‘Athaih”, nomor 2313.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer

Categories
Arti Kata

8 Golongan Penerima Zakat sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

8 Golongan Penerima Zakat: Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sudah menentukan golongan-golongan penerima zakat dan tidak diberikan kepada semua orang. Golongan-golongan yang diberi zakat ada delapan.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebut mereka dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mu’allaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allāh dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan ,sebagai kewajiban dari Allāh. Allāh Maha Mengetahui, Maha Bijaksan.” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Dengan demikian, zakat tidak boleh diberikan kepada selain mereka, termasuk untuk membangun masjid, memperbaiki jalan, mengkafani jenazah, atau amal-amal shalih lainnya.

Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengkhususkan zakat untuk delapan golongan tersebut saja, dengan penegasan: إِنَّمَا “Sesungguhnya (zakat itu hanya untuk…); ungkapan ini menunjukkan pembatasan, yaitu menetapkan yang sudah disebutkan dan menafikan selainnya.

Di dalam distribusi zakat, tidak semua golongan yang berhak harus diberi zakat. Demikianlah sesuai sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Mu’adz:

… Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allāh mewajibkan zakat. Dan zakat tersebut diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu ia didistribusikan kepada orang-orang miskin di antara mereka …” – Muttafaq ‘Alaih: al-Bukhari, nomor 395 dan Muslim, nomor 19.

Inilah perintah Nabi صلى الله عليه وسلم agar zakat itu hanya diberikan kepada satu golongan. Dalil lainnya amat banyak di dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa yang dimaksud pada ayat di atas ialah golongan-golongan yang boleh diberi atau menerima zakat. Jadi, tidak diwajibkan memberi ke semua golongan yang ditetapkan itu.

8 Golongan Penerima Zakat dan Pengertian Setiap Golongannya

Berikut ini adalah daftar 8 golongan penerima zakat yang disertai pengertian secara istilah dan bahasa.

Pertama: Fakir

8 golongan penerima zakat fakir
Ilustrasi orang fakir.

Secara bahasa, seseorang dikatakan fāqir (fakir) jika hartanya sedikit. Bentuk jamaknya adalah fuqarā artinya adalah orang yang membutuhkan. Sedangkan lawan katanya adalah al-ghaniy (orang kaya).

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna varian kata fakir itu dan kata miskin. Ada yang mengatakan; fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa, sedangkan miskin adalah orang yang mempunyai sebagian dari yang dia butuhkan. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i. Akan tetapi ada juga ulama yang berendapat sebaliknya, seperti Abu Hanifah.

Secara istilah, fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta produktif sebesar nishab di luar anggaran kebutuhan pokoknya. Fakir lawan dari kaya, yaitu kondisi orang yang tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkannya. Adapun orang yang tidak memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkan, tidak disebut atau bukan orang faqir (fakir).

Makna yang benar untuk istilah fuqara (orang-orang fakir) adalah mereka yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan secara mutlak. Atau hanya memiliki harta yang kurang dari setengah kebutuhannya, dari hasil usaha atau selainnya, yang jelas tidak mencukupinya.

Dapat disimpulkan bahwa orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan (usaha yang menghasilkan). Atau seorang yang mempunyai pekerjaan akan tetapi penghasilannya kurang dari setengah dari kebutuhan pokok diri sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Sejatinya orang fakir lebih membutuhkan dibandingkan dengan orang miskin. Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menepatkan orang fakir sebagai peneria zakat pertama dalam ayat ini. Termasuk kebiasaan orang-orang Arab yaitu mengurutkan sesuatu dari mulai dari yang paling penting dan seterusnya.

Demikian pula dalam firman-Nya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Dalam ayat di atas, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan bahwa orang-orang miskin itu memiliki kapal yang digunakan untuk mencari penghasilan (nafkah). Meski begitu, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tetap menyifati mereka sebagai orang miskin. Adapun orang faqir, dia tidak memiliki harta sama sekali.

[line]

Ke-dua: Miskin

8 golongan penerima zakat orang miskin masakin
Ilustrasi orang miskin yang bekerja di laut.

Secara bahasa, bentuk jamaknya adalah masākīn. Diungkapkan: “Sakana al-mutaharriku sukunan”, artinya gerakannya terhenti (diam). Kata sakana menjadi kata kerja transitif (membutuhkan objek) bertanda tasydid.

Dikatakan: Sakkantuhu (aku membuatnya diam). Kata ini berasal dari kata sakana, sebab dia berhenti pada manusia.

Miskin juga dapat berarti orang yang hina dan kalah, meskipun asalnya orang kaya. Sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ

Dan selalu diliputi kesengsaraan.” – Q.S. ‘Ali-‘Imran [3]: 112.

Dan miskīn, makna asalnya adalah ketundukan dan kehinaan.

Ibnul Atsir berkata: “Di dalam hadits sering disebutkan kata miskin, masakin, maskanah dan at-tamaskun. Semuanya berkisar pada makna tunduk, hina, sedikit harta, dan kondisi yang buruk. Istakna artinya dia tunduk; maskanah artinya kefakiran jiwa; dan seseorang dikatakan tamaskana apabila menyerupai masākīn (orang-orang miskin), yang ia bentuk jamak dari kata miskīn, yang artinya tidak memiliki apa-apa atau hanya sebagian harta.”

Secara istilah, masākīn (orang-orang miskin/ kaum miskin) adalah yang memiliki setengah atau lebih dari kebutuhannya, baik hal itu diperoleh dari hasil usaha ataupun dari jalan lain, akan tetapi perolehan itu tidak mencukupi.

Dengan demikian, orang miskin adalah orang yang memiliki harta yang dapat memenuhi setengah kebutuhan dirinya atau lebih akan tetapi tidak mencukupi seluruh kebutuhan pribadi dan orang-orang yang wajib dinafkahi tanpa terlalu berlebihan ataupun sangat hemat. Kondisi ini (miskin) lebih baik daripada orang fakir. Seperti uraian ayat sebelumnya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Pengertian fakir dan miskin berlaku apabila disebut bersamaan, yaitu “fakir dan miskin”. Demikian itu sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah utuk orang-orang fakir, orang miskin…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Jika hanya disebutkan salah satunya, maka maknanya saling mencakup. Jika disebutkan fakir, maka orang miskin termasuk di dalamnya. Juga jika disebutkan miskin, maka orang fakir termasuk di dalamnya.

Dengan demikian kalua keduanya digabungkan maka maknanya menjadi terpisah (berbeda), dan kalau dipisahkan maka maknanya menjadi satu. Sama seperti kata “Islam” dan “Iman”.

[line]

Ke-tiga: Amil atau Amil Zakat

[line]

Ke-empat: Mu’allaf

8 golongan penerima zakat muallaf

Selanjutnya adalah muallaf. Apabila dilihat dari perspektif Bahasa, maka jika dikatakan: Aliftusy syai’a atau Aliftu fulanan, maka artinya: Aku merasa akrab dengannya. Dan jika dikatakan: Allaftu bainahum, artinya: Aku menyatukan mereka setelah sebelumnya bercerai-berai.

Adapun jika dikatakan: Allafatuasy syai’a ta’lifan, artinya: Aku menyambung bagian-bagian yang terpisah. Dari kata inilah muncul istilah ta’lif al-kitab (menyusun atau menulis buku). Kata ilf sendiri artinya alif (yang disatukan).

Sedang Ta’allafahu ‘alal Islam (disatukan dalam Islam). Dari kata inilah lahir istilah mu-allafah qulubuhum “mereka yang disatukan/ didekatkan hatinya (kepada Islam).”

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya mengakrabi mereka, yakni mendekati mereka dan memberi mereka agar orang-orang kafir lainnya tertarik memeluk agama Islam.

Dengan demikian, mu-allafah qulubuhum ialah bentuk jamak dari kata muallaf, dan ia berasal dari kata ta’lif yang berarti menyatukan hati.

Kemudian apabila dilihat dari perspektif istilah maka Mu-allafah qulubuhum; ihwal kata mu-allafah, bentuk tunggalnya yaitu muallaf, yang maknanya adalah: seorang pemuka kaum yang diharapkan memeluk Islam atau dapat menghentikan gangguannya (terhadap kaum muslim).

Atau berarti orang yang baru masuk yang dengan diberikannya (zakat) diharapkan menjadi semakin kuatlah imannya. Atau agar orang yang sepertinya diharapkan masuk Islam juga, atau membantu memungut zakat daru orang yang enggan menunaikan zakat.

[line]

Ke-lima: Hamba Sahaya

hamba sahaya budak

Pengertian hamba sahaya atau riqāb secara Bahasa berarti kata riqāb, bentuk tunggalnya raqabah, yang berarti leher bagian belakang paling bawah.

Bentuk jamaknya ruqub, atau ruqabāt, atau riqāb.

Kata raqabah juga berarti orang yang dimiliki (sahaya atau budak).

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfriman,

وَفِي الرِّقَابِ

…untuk (memerdekakan) hamba sahaya…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: “untuk (memerdekakan) hamba sahaya”, maksudnya adalah hamba sahaya mukatab. Hamba sahaya mukatab yakni mereka yang memiliki kesepakatan dengan tuannya bahwa dia harus dimerdekakan sesudah melunasi pembayaran kebebasannya.

Para hamba sahaya ini diberikan bagian zakat sekadar yang biasa/ cukup untuk membebaskan perbudakannya dan agar mereka dapat membayarkannya kepada majikan mereka.

Maka makna ayat di atas, zakat juga dapat didistribusikan untuk kepentingan membebaskan hamba sahaya.

Kemudian riqāb secara istilah adalah hamba sahaya muslim yang mukatab, yaitu seorang hamba sahaya yang membeli dirinya sendiri dari majikannya dengan pembayaran cicilan yang dibayar secara berangsur.

Mukatab berasal dari kata kitābah, yang artinya seseorang mempunyai perjanjian tertulis dengan hamba sahayanya bahwa dia akan dimerdekakan setelah melunasi pembayaran sejumlah uang dalam bentuk angsuran.

Jika hamba sahaya itu sudah melunasinya, maka dia menjadi orang merdeka. Disebut kitābat yang merupakan mashdar (bentuk dasar) kataba karena hamba sahaya tersebut menulis harganya kepada majikannya, serta majikannya menulis (yakni berjanji) membebaskannya.

Mereka bekerja demi mendapatkan uang untuk melunasi cicilan tersebut agar dapat merdeka (bebas).

Ini seperti halnya membeli hamba sahaya yang masih dimiliki oleh seseorang untuk dibebaskan, atau tatkala menebus tawanan perang.

Dari sini, jelaslah bahwasanya yang dimaksud dengan “hamba sahaya” ada tiga golongan.

Golongan pertama

Hamba sahaya mukatab muslim, yaitu yang membeli dirinya sendiri dari tuannya dengan pembayaran yang dicicil.

Golongan kedua

Tawanan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

Golongan ketiga

Hamba sahaya yang dia muslim atau beragama Islam sejak lahir (secara umum).

[line]

Ke-enam: Gharim (Orang yang Berutang)

[ads script=”1″ ]

[line]

Ke-tujuh: Fi Sabilillah (Yang Berjuang di Jala Allāh)

[line]

Ke-delapan: Ibnu Sabil

[line]

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer