Cara Menolak Taaruf Sesuai Kaidah Muamalah

Untuk memperoleh gambaran yang utuh ihwal tata cara yang benar dalam menolak taaruf sesuai kaidah muamalah, anda dapat memanfaatkan tabel daftar isi berikut ini untuk menemukan konten yang sesuai dengan kebutuhan anda.

1. Bagaimana cara menolak taaruf yang baik?

Tidak ada standar baku dalam kaifiah/ cara menolak taaruf. Hal ini tersirat dalam buku Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin, karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.

Namun agar seseorang itu mendapati cara menolak taaruf yang baik sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku, maka sudah sepatutnya dikembalikan kepada adab muamalah dalam menyelesaikan persoalan yang dikenal dalam syari’at.

Baca juga: Cara Menolak Lamaran dengan Alasan Syar’i

Hal tersebut, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Transliterasi matan hadits:
Wa Man Kaana Yu’minu Billaahi Wal Yawmil Aakhir, Falyaqul Khayran aw Liyashmut.

Terjemah hadits:
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” – HR. Bukhari, Muslim.

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

‎الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

Transliterasi matan hadits:
al-Kalimatu Thayyibahh Shadaqah!

Terjemah:
“… Perkataan yang baik adalah sedekah …” – Shahih Bukhari nomor 2989 (كتاب الجهاد والسير).

Oleh sebab itu, hendaklah menolak taaruf dengan pemilihan kata dan kalimat yang tepat, agar orang lain yang menerima kabar penolakan dapat menerima keputusan anda dengan baik.

Selanjutnya apabila tidak berkenan untuk ta’aruf, cukup bagi seseorang yang diundang ta’aruf mengatakan:

  • “Saya tidak suka,”;
  • “Saya tidak berkenan,”;
  • “Saya tidak teratarik,”;
  • dan seterusnya.

2. Ditolak taaruf, bagaimana menyikapinya?

Tidak perlu bagi seseorang lelaki yang ditolak undangan ta’aruf-nya oleh wanita yang dia sukai merasa berat hati dan-atau rendah diri. Sebab setiap pihak yang terlibat dalam ta’aruf memiliki hak yang sama dalam menerima atau menolak, meninggalkan atau membatalkan.”[1]

Cukuplah baginya untuk mengucapkan Qadarullah, sebab perkataan ini dapat menjaga dirinya dari berandai-andai. Mafhum, berandai-andai adalah pintu masuk bagi syaithan.

3. Mengapa sulit untuk mengakhiri atau menolak taaruf?

إِنَّكَ لَنْ تَدَ عَ شَيْئًا لِلهِ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ الله بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Terjemah: “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allāh ‘Azza Wa Jalla (Allāh yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia), kecuali Allāh akan menggantikan untukmu sesuatu yang lebih baik.” – H.R. Waki’ dalam Az Zuhd 2/68, Ahmad 5/363 dan Al Qudha’i dalam Musnad Syihab 1135 dengan sanad shahih sesuai syarat Muslim. Lafadzh ini dinukil dari Qowa’id Fiqhiyyah, hal. 300.

Didapati fenomena di mana seseorang itu sulit untuk mengakhiri ta’aruf, hingga bimbang dalam mencari cara menolak ta’aruf. Padahal dasar untuk menolak taaruf telah jelas nampak tanda-tandanya, yakni telah diketahui akhlaq tercela pada diri orang yang sedang dalam proses ta’aruf.

Perasaan sulit ini (masyaqqah) disebabkan dirinya telah menaruh perasaan cinta kepada orang yang baru dikenal. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim mukallaf tidak tatsabbut (tergesa-gesa) dalam membangun perasaan cinta (mahabbah).

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum membangun perasaan cinta terhadap seseorang adalah dengan jalan meneliti terlebih dahulu orang tersebut, dengan cara:

  • Memperhatikan tabi’atnya;
  • Dengan siapa dia bergaul atau berteman;
  • Bagaimana sikapnya dalam menanggapi suatu persoalan.

Teliti tidak sama dengan tajassus atau memata-matai. Perbedaannya adalah bahwa yang dimaksud teliti yakni memperhatikan suatu hal yang nampak yang ada pada dirinya.

Sementara untuk ihwal yang tidak nampak atau tersembunyi, maka serahkan saja urusannya antara dia dengan Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Sebab hukum asal seorang muslim adalah jujur dan amanah. Oleh karenanya dikedepankan asas prasangka baik atau Khusnu-Zhan.

4. Apa alasan yang tepat untuk menolak permintaan taaruf?

Pada dasarnya tidak perlu bagi seseorang untuk menjelaskan alasan menolak taaruf. Mafhum ada kalanya penyebab-penyebab menolak taaruf dapat dinyatakan, namun ada kalanya tidak dapat diungkapkan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi hanya ada terpendam dalam hati yang sangat memberatkan apabila didengarkan atau disampaikan.”[2]

Perlu juga diketahui beberapa alasan yang kuat (alasan syar’i) bagi seseorang untuk menolak taaruf dan-atau menghentikan ta’aruf:

  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah Mubtadi’ (seorang ahli bid’ah/ pelaku ajaran baru dalam peribadatan);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang al-Mujahir (pelaku maksiat terang-terangan: perokok, peminum khamr/ minuman keras, maisir/ judi dan yang semakna dengannya);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang mukallaf yang meninggalkan shalat;
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang penggemar lahwal hadiits (musik);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang yang gemar mencela Umara‘ (penguasa) atau Ulil Amri (pemerintah) misal kelompok ekstremis, khawarij dan hizbuttahrir atau di Indonesia dikenal Hizbuttahrir Indonesia (HTI);
  • Orang yang mengundang ta’aruf adalah seorang pezina yang belum bertaubat.

    Meskipun demikian dalam menjalani segala urusan terkait ta’aruf dan nazhar, harus dibangun di atas landasan niat yang baik dan benar (asas itikad baik).

    Namun apabila dalam proses ta’aruf terjadi pembatalan karena sesuatu yang baru diketahui belakangan, sesuatu yang memberatkan hati apabila taaruf dilanjutkan, maka Agama tidak melarang dan tidak membebani apa pun atas penolakan atau pembatalan dimaksud. Artinya, menolak dan membatalkan taaruf bukanlah perbuatan yang berkonsekuensi kepada dosa.

    Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda:

    مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

    Terjemah:Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” – HR. At-Tirmidzi.

    5. Kalimat Menolak Taaruf

    Untuk mengetahui bagaimana cara menolak ta’aruf yang baik, saudara dapat memperhatikan 3 (tiga) cara menolak taaruf di bawah ini:

    5.1 Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 1 (Penolakan dari Sisi Akhwat)

    Bismillāhirrahmānirrahīm.

    Saudara muslim yang sama-sama kita mengharap Rahmat Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

    Melalui ini saya hendak mengucap terimakasih untuk segala kebaikan, semoga saudara dan saya istiqamah di atasnya.

    Dengan menimbang beberapa hal, saya menetapkan untuk tidak melanjutkan ta’aruf ini. Oleh karena suatu alasan yang saya tidak dapat mengutarakannya. Artinya setelah ini, tidak ada lagi pembicaraan ihwal pernikahan. Semoga tidak ada permusuhan di antara kita yang semata-mata mengharap Wajah Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

    Jazakallāh-Khayran: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

    Your sister in Islam, (tulis nama saudari tanpa tanda kurung).

    5.2 Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 2 (Penolakan Dari Sisi Ikwan)

    Bismillāh.

    Saudariku yang aku cintai karena Allāh عَزَّ وَجَلَّ. Yang sama-sama kita mengharap Wajah-Nya.

    Semoga hati kita diberikan kelapangan dalam membaca tulisan ini.

    Aku manusia yang lemah hatinya, yang berusaha kuat dengan yakin terhadap kuasa-Nya. Aku juga manusia yang banyak salah, yang berusaha menghindari berbuat salah dengan sekuat daya dan upaya, yang kekuatan itu merupakan rizki dari-Nya.

    Aku yang berusaha menjaga lisan sebab benci menyakiti perasaan orang lain, sehingga sulit bagiku untuk berkata jujur dengan kalimat yang halus tanpa menggores perasaan. Sebab kita sama-sama mengetahui bahwa kejujuran tidak selalu berarti berisi hal-hal yang menyenangkan bagi orang lain yang mendengarnya.

    Pada saat pertama kita bertemu walau jarak dan ruang memisahkan, nyatanya hal itu tidak dapat menghentikan dahsyatnya impian untuk merasakan kebahagiaan yang lebih. Perasaan suka yang terus berkembang setiap waktu. Hingga mulai tumbuh cinta.

    Akan tetapi sulit juga bagi hati ini, untuk menerima kenyataan, yang waktu belakangan baru aku ketahui.

    Meskipun demikian, aku tidak menyerah, engkau tahu betul akan soal itu. Kau tau, aku terus berusaha untuk menafikan rasa kalah, cemburu, amarah dan kecewa. Dengan jalan kembali memikirkan hal-hal yang pada waktu pertama membuat aku betapa bahagia bertemu denganmu.

    Namun nyatanya, hati ini terus menyimpan kegelisahan yang tak terelakkan. Sulit bagiku mengingatmu tanpa merasa cemburu. Cemburu yang sangat membakar. Sebuah perasaan kalah oleh hal-hal yang ada di masa lalu.

    Dengan menguatkan hati, aku mohon pamit. Aku memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf ini. Dan itu berarti tidak ada lagi pembicaraan mengenai nikah dan walimah. Aku berharap, semoga tidak ada sikap saling benci di antara kita, sehingga kita dapat bermuamalah sebagaimana mestinya.

    Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ mengganti dan mempertemukanmu dengan seseorang yang lebih baik dariku. Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ menutup aib-aib kita, mengganti kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi dengan amal shalih. Insya-Allāhu-Ta’āla.

    Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudara dengan yang jauh lebih baik.

    Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

    5.3 Contoh Kalimat Pernyataan Menolak Ta’aruf 3 (Penolakan Dari Sisi Ikhwan)

    Bismillāhirrahmānirrahīm.

    Sejak awal kita kenal (ta’aruf) hingga hari ini, belum ada kesempatan bagi saya untuk bertamu ke rumah dengan maksud untuk nazhor (melihat).

    Aku memohon maaf, apabila selama kita berkomunikasi dan saling mengenal ada di antara ucapanku yang kelewat batas, demikianlah diriku yang dha’if (lemah) yang terus belajar untuk istiqamah dalam kebaikan.

    Aku mencukupkan ta’aruf sampai di sini (diwaktu sekarang ini), tidak berlanjut khitbah (lamaran) dan nikah.

    Jazakillah Khairan: Semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ membalas perbuatan saudari dengan yang jauh lebih baik.

    Your brother in Islam, (tulis nama saudara tanpa tanda kurung).

    6. Kesimpulan Cara Menolak Taaruf

    Demikianlah cara menolak taaruf baik dari sisi laki-laki (cara menolak taaruf 2 dan 3) mapun sisi wanita (cara menolak ta’aruf 1).

    Hendaklah para pihak yang berurusan dalam ta’aruf membekali dirinya dengan ilmu agama, secara khusus bab nikah. Sehingga mereka memiliki pengetahuan yang komprehensif ihwal ta’aruf, khitbah, nikah, walimah dan berumah tangga serta adab-adab yang mengikatnya.

    6.1 Kehormatan dan Harga Diri adalah Sesuatu yang Diwariskan

    Dengan demikian (dengan mempelajari bab nikah secara komprehensif) segala kekurangan, kesalahan dan aib yang didapati selama masa ta’aruf tidak disebarluaskan dan mencederai kehormatan dan harga diri seorang muslim.

    Sebab kehormatan adalah sesuatu yang diwariskan.

    6.2 Asas Keridhaan Para Pihak yang Terlibat

    Dalam Islam tidak ada paksaan dalam ranah privat atau muamalah, semua berdasar kepada asas keridhaan para pihak yang berkepentingan atau yang bermuamalah.

    6.3 Take It or Leave It

    Sementara itu dalam terminologi hubungan privat asing dikenal “Take It or Leave It.” Olehkarenanya hendaklah seseorang itu tidak memaksa orang lain untuk terikat dalam suatu perjanjian atau akad yang dia tidak menghendakinya atau yang baginya tidak memberi manfaat (tidak banyak memberi manfaat).

    WhatsApp Group TemanShalih.Com: Gabung di WAG temanshalih.com untuk memperoleh update informasi

    7. Maraaji’ (Senarai Pustaka)

    [1] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, (Jakarta: Maktabah Mu’Awiyah bin Abi Sufyan, cetakan ke-tiga 1436 H/ 2015 M), hal. 142;
    [2] Ibid, hal. 161.

    Doa Kafaratul Majelis:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    “Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
    Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

    Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

    مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

    "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
    Konten Asli Protected by Copyscape

    1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

    2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

    3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

    4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

    5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

    Jazakumullah Khayran.

    Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

Satu tanggapan untuk “Cara Menolak Taaruf Sesuai Kaidah Muamalah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *