HomeIntisari Cahaya IlmuBolehkah Berdiskusi Agama dengan Seseorang yang (Pernah) Bermaksiyat Secara Sembunyi-Sembunyi?
teman shalih, berbuat maksiat, bolehkah berdiskusi agama dengan seseorang yang pernah bermaksiyat

Bolehkah Berdiskusi Agama dengan Seseorang yang (Pernah) Bermaksiyat Secara Sembunyi-Sembunyi?

Intisari Cahaya Ilmu Nasihat 0 likes 539 views share

Tanya:

Bolehkah berdiskusi persoalan agama dengan seseorang yang kita mengetahui bahwa dirinya pernah melakukan maksiyat yang maksiyat itu  ia perbuat secara sembunyi-sembunyi? Sementara saat ini kita belum mengetahui apakah dirinya telah bertaubat (dari maksiyatnya yang terdahulu) atau belum.

Jawab:

Boleh. Sebab apabila mencari kemakshuman (sifat terpelihara dari kesalahan) seseorang, maka tidak akan pernah ada orang yang berdakwah. (Mafhum bahwa manusia yang ma’shum hanya Nabiyut-Taubat ~ As-Shadiqul Masduq ~ Rasulullah ﷺ).



 

Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya”. Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. (Tafsir Qurthubi, 1/410).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah, “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu”. Mutharrif mengatakan, “Aku khawatir mengatakan yang tidak ku lakukan”. Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu, siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan, sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi munkar.” (Tafsir Qurthubi, 1/410).

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan Mudarah dan Mudahanah?

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan, “Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian padahal aku bukanlah orang yang paling shalih dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Dijawab oleh: Ustadz @Abu_Abdillah_Amir.

  • Alumni Darul Hadits Ma’rib Yaman.
  • Penasehat & pengisi Radio Rodja Pontianak – “Menebar Cahaya Sunnah”
  • Pembimbing temanshalih.com –  “Hijrah yang Shahih” 1438 H/ 2017 M

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer