Boleh Nggak Shalat Dzuhur 3 Rakaat? Kan Nggak Ada Dalil yang Melarang

“Boleh nggak shalat dzuhur 3 (tiga) rakaat aja? Kan nggak ada dalil yang melarang!”, “Siapa bilang mengucapkan niat shalat: usholli nawaitu… dst. adalah bid’ah? Kan nggak ada dalil yang melarang!” dan pertanyaan-pertanyaan serta pernyataan-pernyataan tak berdasar soal ibadah lainnya yang senada dengan itu.

Kalimat “kan nggak ada dalil yang melarang” adalah cerminan cara berpikir yang salah.

Asas hukum (kaidah fiqih) dalam peribadatan adalah “haram”, artinya suatu peribadatan itu tidak boleh dikerjakan kecuali ada dalil yang memerintahkan. Jadi yang dicari adalah dalil perintah (‘amr) untuk melaksanakan suatu peribadatan.

Orang yang mengatakan bahwa sesuatu itu adalah ibadah, maka orang tersebutlah yang berkewajiban untuk membawakan dalil.

Kalau asas hukum dalam urusan muamalah (keduniaan) adalah “halal”, artinya segala sesuatu urusan dunia itu pada dasarnya boleh dikerjakan, kecuali ada dalil yang melarang. Jadi yang dicari adalah dalil larangan (nahy). Contoh: Setiap muslim boleh jual beli barang. Kecuali, benda-benda yang dilarang dalam ajaran Islam. Misal: minuman keras, peralatan judi, buku porno, rokok, atau segala sesuatu yang sifatnya al-Khoba’its.

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *