HomeBlogPembeli Buku Terbanyak | Obrolan Senja

Pembeli Buku Terbanyak | Obrolan Senja

share

Kehidupan Ilmiah

pembeli buku riyadh book fair, penerbit

Seorang lelaki berjalan dengan membawa kantung belanja buku di Riyadh Book Fair 2017, Arab Saudi.

Apabila seseorang hendak mengetahui sejauh mana tingkat kepedulian penuntut ilmu terhadap kehidupan ilmiahnya, dapat diketahui dengan jalan berkunjung ke maktabah/ perpustakaan dan toko-toko buku ‘ilmiyyah.

Dengan kata lain di sana dapat diketahui daftar buku terbanyak dibaca dan daftar buku terbanyak dibeli, bahkan hingga daftar pembeli terbanyak.

Ada apa?

Tulisan ini diangkat untuk menanggapi sikap sebagian orang yang gemar “memberi catatan kaki” (merendahkan -red) para penuntut ilmu yang iltizam dalam menulis intisari dan faedah ilmiah dari buku-buku yang telah ditelaah, terlebih buku-buku/ kitab dimaksud diperoleh dengan mengorbankan harta mereka sendiri (dibeli).

Kiat Menjaga Ilmu

Mafhum membuat catatan, intisari, menulis faedah ‘ilmiyyah adalah cara yang dikenal oleh ‘Ulama (para ‘Alim) Salaf dengan tujuan menjaga ilmu yakni:

  • Menguatkan hapalan;
  • Memudahkan seorang pelajar untuk memahami lebih dalam; dan
  • Berbagi faedah.

Bagian ini dapat ditelaah lebih luas lagi dalam kitab Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله, sementara yang kami pegang adalah versi terjemah bahasa Indonesia dengan judul Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu, penerbit Maktabah Nurul Huda.

Tingkatan Pelajar yang Berbeda

Berdasar hal tersebut juga dapat dimengerti bahwa tidak semua pelajar berada pada tingkatan yang sama. Sejauh mana keikhlasannya, pengorbanannya, semangatnya, kecerdasannya yakni kesanggupan pikiran dalam memahami materi pelajaran dan kedalaman menelaah suatu persoalan.

Hendaklah menyadari hal ini dan menerima kenyataan dengan lapang dada, sebab menyamakan sesuatu yang berbeda adalah perbuatan zhalim.

Statusnya sama, pelajar, akan tetapi kalibernya berbeda.

Catatan Penting:

Manusia tidak diperintah untuk membelah dada manusia yang lain, oleh sebab itu hendaklah seorang muslim mencukupkan diri untuk menilai orang lain sebatas apa yang nampak saja/ apa yang terlihat. Sementara ihwal niat orang lain/ sesuatu yang tidak nampak, serahkan urusannya antara dirinya dengan Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer