HomeBlogPokoknya Harus Sama Dia | Dialog Ta’aruf

Pokoknya Harus Sama Dia | Dialog Ta’aruf

share

Mengapa setelah nazhor (melihat keadaan orang yang hendak dinikahi), seseorang itu sangat menginginkan untuk segera dilamar/ melamar dan dinikahi/ menikahi?

Penyebab:

[1] Hati belum diisi dengan keyakinan yang tulus terhadap Kuasa dan ketetapan Allāh عَزَّ وَجَلَّ

[2] Tidak menginginkan sosok seorang yang didambakan kehadirannya selama ini, yang kriteria idaman ada pada dirinya “diambil” oleh orang lain,

[3] Tidak menginginkan hal-hal keji/ gejolak nafsu syahwat menguasai seisi hati.

Catatan Penting:

[1] Tidak Suka; Sebagaimana khitbah/ melamar/ lamaran boleh dibatalkan dengan suatu alasan yang syar’i  dan Agama tidak membebani apapun atas hal ini, apa lagi menolak lamaran atau tidak melamar sekalipun, bahkan dengan alasan yang mendasar seperti “tidak suka”, “tidak tertarik”, dan seterusnya. Sementara itu saudara juga dapat mengetahui lebih lanjut ihwal cara menolak ta’aruf sesuai kaidah muamalah .

[2] Kalimat yang Jelas; Seorang wanita yang sudah dilamar haram dilamar oleh lelaki lain, kecuali lamaran yang pertama dibatalkan dengan kalimat yang jelas.

[3] Wajah bukan Aurat; Pada waktu nazhor/ melihat; dibolehkan melihat wajah sebab wajah dan telapak tangan seorang wanita bukanlah aurat dan dibolehkan melihat sesuatu yang ada pada dirinya.

[4] Tasyabbuh; Tidak ada terminologi “tukar cincin” dalam khitbah/ melamar sebagai tanda diterimamya lamaran sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pemuda muslim diwaktu sekarang ini. Sebab yang demikian itu merupakan bentuk tasyabbuh/ meniru sifat dan cara hidupnya orang-orang kafir.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Membuat Biodata Ta’aruf yang Mudah Dibaca.

[5] Berbagi Hadiah; Dibolehkan memberikan hadiah dan-atau saling memberi hadiah,

‎تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Tahadu, Tahabbu.”

Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594 (الأدب المفرد)

[6] Keinginan yang Kuat; Hendaklah beri’tiqad untuk benar-benar menikah, bukan bermain-main dan berlezat pandangan.

[7] Menutupi Aib Orang Lain; Cela dan aib yang diketahui selama kurun waktu nazhor, hendaknya dijaga/ tidak diceritakan kepada orang lain.

[8] Jalani yang Yakin; Apabila meragu hendaknya mengambil keputusan sesuai dengan apa yang diyakini/ perasaan yang lebih dominan.

‎… دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ

Tinggalkan apa yang engkau ragukan dan Kerjakan apa yang engkau tidak ragu. …” ~Hadits Shahih (صحيح): Riwayat At-Tirmidzi nomor  2518.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Ungkapkan Cinta Tanpa Ragu.

[9] Sungguh Berbeda; Sikap hati-hati/ wara’ tidak sama dengan su’udzhan/ berprasangka buruk.

[10] Masa Lalu; Ta’aruf bukan media untuk mencari tahu kemaksiatan/ kesalahan masalalu seseorang.

#JDDAR

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer