HomeBlogGagal lagi, Siapa yang Salah? | Dialog Ta’aruf

Gagal lagi, Siapa yang Salah? | Dialog Ta’aruf

share

Seorang muslim yang sehat akalnya sudah barang-tentu menginginkan hasil yang baik atas setiap hal yang dia usahakan. Keberhasilan itu mudah diraih setelah dirinya berusaha sungguh-sungguh dalam merubah keadaan (merubah takdir dengan takdir), namun ada kalanya diakhiri dengan hasil yang belum optimal, atau bahkan kegagalan.

Hal tersebut meliputi usaha seseorang dalam mencari teman hidup (mencari istri/ mencari suami), padahal dirinya telah (berusaha) menempuh jalan yang ditetapkan dalam syari’at Islam yakni dengan Nazhor, atau masyhur dikenal dengan istilah Ta’aruf, namun masih saja gagal.

 

Kegagalan dimaksud di atas dapat berupa:

  • Sudah nazhor akan tetapi tidak berlanjut ke tahap Khitbah/ Meminang/ Melamar;
  • Sudah khitbah akan tetapi batal karena adanya kendala;
  • Sudah khitbah akan tetapi batal karena didapati sesuatu pada keduanya atau salah satu di antara keduanya (ikhwan dan akhwat).

Apabila kegagalan itu datang, maka hendaklah menganalisa serta mengevaluasi langkah yang telah ditempuh, apakah:

  • Ada perkataan dan/atau pertanyaan (yang diajukan) yang melukai perasaan selama proses nazhor;
  • Ada perbuatan munkar dan maksiyat yang pernah terjadi selama proses ta’aruf dan nazhor;
  • Adanya pelanggaran atas kewajiban dan hak sesama muslim (adab muamalah);
  • Adanya perasaan yang mengganjal/ tidak yakin/ tidak cocok sebab; akhlaqnya yang buruk/ cenderung buruk, aqidahnya menyimpang, dirinya seorang perokok, suka meninggalkan shalat, dan seterusnya.

Sehingga dapat dipahami bahwa nazhor/ ta’aruf tidak semata dapat diamalkan dengan cukup mengetahui artinya saja. Agar memperoleh hasil yang diharapkan maka keduanya, ikhwan dan akhwat, perlu memahami secara totalitas bab Nikah, bab Adab Muamalah, Bab Akhlaq dan bab Aqidah.

Ketahui Lebih Lanjut: Bagaimana Cara Menulis Biodata Ta’aruf yang Baik?

Catatan Penting:

Memikirkan serta berusaha mencari orang yang terbaik/ shalih bagi dirinya dalam pernikahan (berumah tangga -red) merupakan tanda baiknya kadar keimanan dan tanda kecerdasan dalam beragama, maka tidak dibenarkan bagi seseorang yang beriman berkata “Ah! Mikirin jodoh melulu…” kepada saudara muslimnya yang lain yang memang sedang dalam usaha mencari teman hidup serta menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer