Berpikir Ilmiah Terstruktur dalam Beragama

Ada yang bilang: “Mall dibuka, bandara dibuka, pasar-pasar dan jalan-jalan ramai. Kalau begitu masjid harus kita ramaikan lagi!”

Tanggapan: Kita tidak ke mesjid bukan sekedar menaati imbauan Pemerintah. Akan tetapi karena mengamalkan kaidah-kaidah syariat yang dijelaskan oleh para ulama (maksudnya ulama Sunnah) tentang wajibnya menghindarkan kemudharatan atas diri sendiri maupun orang lain.


Empiris: Semenjak hijrah ke Sunnah, memang di-didik untuk berpikir ilmiah terstruktur dalam beragama. Artinya menempatkan nash Kitabullāh, hadits, dan kaidah-kaidah hukum (kaidah fiqih) terlebih dahulu daripada kepentingan akal logika (ra’yu) dan nafsu (amarah, syahwat, dst.). Di-didik agar menggunakan logika untuk menguatkan nash-nash tersebut.

Jadi wajar kalau didapati pemandangan di mana muhajiriin (orang-orang yang hijrah ke Sunnah) patuh terhadap ajaran Sunnah dan perintah Pemerintah (ulil amri atau ‘umara) – selama perintah tersebut bukan untuk bermaksiat.

Semangat beragamanya dalam konteks semangat untuk berkesesuaian dengan Sunnah. Bukan semangat tapi nggak jelas gitu. Harusnya jelas: dasar nya apa, kaidah yang ingin dipenuhi apa.

Coba deh beragamanya jangan serabutan.

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *