HomeIntisari Cahaya IlmuBerguraunya Kaum Mukminin
bergurau, bercanda, teman shalih, adab bergurau sesuai sunnah

Berguraunya Kaum Mukminin

Intisari Cahaya Ilmu 0 likes 290 views share

(الْ مِزَاحُ) al-Mizah yakni canda tawa dengan orang lain sebagai bentuk kelembutan dan keakraban tanpa menyakiti hingga sampai batas menghina, mengejek, dan merendahkan orang lain (al-Ghamth/Ghamthun-Nas).

Dibolehkan bagi seorang Mukmin untuk tertawa dan bersenda guaru dengan sahabat-sahabatnya, sebab Rasulullah ﷺ bersenda gurau dengan shahabat-shahabat beliau, sebagaimana disebutkan, Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

يَا ذَا الأُذُنَيْنِ

Wahai yang memiliki dua telinga.” ~Hadits Shahih (Al-Albani): Riwayat  Abu Dawud dalam kitab al-Adab (no. 5002), at-Tirmidzi (no. 1929), & Ahmad dalam Musnadnya, ini adalah canda Rasulullah kepada Anas Radhiy-Allaahu-‘Anhu

Rasulullah ﷺ terkadang bergurau dengan keluarga, para Shahabat Radhiy-Allaahu-‘Anhum dan selainnya, namun tidak berkata di dalamnya selain kebenaran, melakukan ta’ridh (kalimat bermakna ganda, di mana pendengar memahami makna yang lain dari apa yang dimaksud oleh pembicara) namun tidak berucap di dalamnya selain kebenaran.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziya juga menerangkan di dalam Pasal Sebab-Sebab Tawa dalam kitabnya, Zaad-ul-Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibad, bahwa beliau ﷺ adalah ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) yang paling fasih, paling indah bahasanya, sangat cepat menuntaskan pembicaraan (tidak bertele-tele), dan manis tutur katanya, hingga ucapannya dapat menyentuh relung hati, serta menawan ruh.

Jika beliau ﷺ tidak suka sesuatu, niscaya diketahui dari wajahnya. Beliau bukan seorang yang keji, bukan pelaku keji, dan bukan pula orang yang gaduh. Sebagian besar tertawa beliau ﷺ adalah senyum, bahkan seluruhnya adalah senyum. Maksimal dari tertawanya adalah tampak gigi-gigi gerahamnya.

Sementara apabila pada diri seorang Muslim didapati sikap yang gemar tertawa/banyak tertawa (ad-Dhahak) niscaya yang demikian itu dapat menyebabkan matinya hati, yakni seseorang itu menjadi sulit untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang munkar. Yang demikian itu juga dapat menyebabkan hilangnya wibawa, menunjukkan dirinya lemah dalam pendidikan dan menandakan dirinya jauh dari kesungguhan.

‏ لاَ تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ ‏

Janganlah engkau memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tawa akan mematikan hati.” ~Hadits Hasan: Riwayat at-Tirmidzi & Ahmad dalam Musnadnya dalam kitab al-Jami’ (no. 7435), Sunan Ibnu Majah, Kitab Az-Zuhd (no.  4193)

Yang dimaksud dengan mematikan hati adalah menjadikan hati lalai untuk mengingat Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) dan lalai kepada kehidupan akhirat. Dan apabila hati manusia lalai dalam mengingat Allah, maka sesungguhnya kematian lebih dekat kepadanya daripada kehidupan, dan ia pun terlambat dalam menyadari akan keberadaan Pembunuh yang tidak pernah mati, yakni api neraka.

Sumber Kitab:

(1) Zaad-al-Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibad, Pasal Senda Gurau, Imam Ibn Qayyim al-Jawziyya.

Sumber Lainnya:

(1) Al-Mizah fi As-Sunnah, Dr. Muhammad Abdullah Walad Karim.

(2) Al-Ilmam fi Asbab Dha’f al-Iman, Husain Muhammad Syamir.

(3) Tatkala Rasulullah Tertawa, literatur dakwah Qashr al-‘Ilm.