HomeBirrul WalidainBerbakti Kepada Orangtua: Potret As-Salaf dalam Birrul Walidain
berbakti kepada orangtua

Berbakti Kepada Orangtua: Potret As-Salaf dalam Birrul Walidain

Birrul Walidain Intisari Cahaya Ilmu 3 likes 97 views share

Segala Puji bagi Allah عزَ وجل semata. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada Nabi lagi sesudahnya.  Amma Ba’du, berbakti kepada orangtua adalah hal yang mulia sebagaimana para Salaf dari umat ini telah mengetahui keutamaan kedua orangtua, maka mereka memperlakukan kedua orangtua dengan penuh bakti dan kebaikan.

Mereka berbuat maksimal dalam memuliakan dan mematuhi bapak – ibu mereka sebagai pengakuan kepada kebaikan mereka dan karena takut terhadap hukuman dari Tuhan Yang Maha Perkasa, mereka yakni para Salaf adalah contoh terbaik dalam berbakti kepada orangtua.

Dalil Berbakti Kepada Orangtua

Dalil Al-Qur’an Berbakti Kepada Orangtua

Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) berfirman,

‎وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ‎وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Terjemah,

Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya mendidikku diwaktu kecil’. – QS. Al-Israa’ (Memperjalankan di Malam Hari) [17]: 23-24.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

‎وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Terjemah,

Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya. – Q.S. An-Nisaa’ (Wanita) [4]: 36.

Bahkan berbakti kepada orangtua merupakan bentuk amal shalih yang setara dengan jihad fi sabilillah 

Dalil Hadits Berbakti Kepada Orangtua

Dari Shahabat Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Mas’ud رضى الله عنه, ia berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ

قَالَ ‏”الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا”‏‏

‏ قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ‏”ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ‏”‏

‏قَالَ ثُمَّ أَىُّ  قَالَ ‏”‏الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”‏‏

Aku bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم “Amalan apa yang paling dicintai Allah?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua).” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’. –Hadits Shahih: Riwayat Imam Al-Bukhari no. 572 kitab Mawaqit As-Shalah, Imam At-Trimidzi no. 173 kitab As-Shalah lafadzh di atas milik Imam Al-Bukhari.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam kitabnya, Birrul Walidain, menuturkan bahwa,

Dalam hadits ini Nabi صلى الله عليه وسلم menyebutkan 3 (tiga) amalan yang dicintai oleh Allah عزَ وجل (Mahamulia dan Mahaagung):

  • Shalat di awal waktu;
  • Birrul Walidain (Berbakti kepada Orangtua);
  • Jihad Fii Sabilillaah.

Artinya jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama, di antaranya adalah birrul walidain/berbakti kepada orangtua.

Berbakti kepada orangtua adalah perbuatan yang mulia yang dikehendaki syari’at. Berbakti kepada orangtua juga merupakan pekerjaan orang-orang luar biasa yang dikerjakan oleh generasi Salaf. Di antara amal berbakti kepada orangtua yang diriwayatkan dari mereka adalah”[1]:

1. Letakkanlah Telapak Kakimu di Atas Pipiku

Muhammad bin al-Munkadir رحمه الله‎‎ (Tabi’in, wafat tahun 131 Hijriah) meletakkan pipinya di atas tanah, lalu dia berkata kepada ibunya, “Bangkitlah wahai ibu. Letakkanlah telapak kakimu di atas pipiku.” (Hilyah al-‘Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim al-Ashbhani, 3/150).

2. Bukan Termasuk Berbakti

Urwah bin az-Zubair رحمه الله‎‎ (Tabi’in, wafat tahun 93 Hijriah) berkata, “Tidaklah berbakti kepada bapaknya, orang yang melototi bapaknya.” (Syiar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, 4/433).

3. Bakti Umar bin Dzar kepada Bapaknya

Manakala Umar bin Dzar رحمه الله‎‎ (Tabi’ at-Tabi’in, wafat 153 Hijriah) meninggal dunia, maka orang-orang bertanya kepda bapaknya, Dzar, “Bagaimana dia berinteraksi denganmu?”

Dia menjawab, “Tidaklah dia sama sekali berjalan bersamaku dimalam hari, melainkan pasti dia berada di depanku. Tidaklah dia sama sekali berjalan bersamaku disiang hari, melainkan pasti dia berada di belakangku. Dia sama sekali tidak pernah naik atap ketika aku berada di bawahnya.” (Birr al-Walidain, karya ath-Thurthusyi, hal. 63).

4. Takut Makan Bersama Ibunya

Diriwayatkan dari Ali bin al-Husain رحمه الله‎‎ (Tabi’in, wafat 93 Hijriah) bahwa dia takut makan bersama ibunya dalam satu meja. Maka dia ditanya tentang hal itu, dia menjawab, “Aku takut bilamana tanganku mendahului makanan yang telah dilihat lebih dahulu oleh ibuku, sehingga aku menjadi durhaka kepadanya.” (Birr al-Walidain, karya ath-Thurthusyi, hal. 63).

5. Menyuapi Ibunya dengan Tangannya

Dari Muhammad bin Sirin رحمه الله‎‎, dia berkata, “Di zaman Utsman bin Affan رضى الله عنه , harga pohon kurma mencapai seribu dirham, lalu Usamah bin Zaid bin Haritsah رضى الله عنه  (Shahabat Nabi, wafat 54 Hijriah) menuju satu pohon kurma, lalu menebangnya dan mengambil hati pohon kurma (yang terletak di pucuknya) dan menyuapkannya kepada ibunya.

Maka mereka bertanya kepadanya, ‘Apa yang mendorongmu melakukan tindakan ini, padahal engkau mengetahui bahwa satu pohon berharga seribu dirham.’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya Ibuku (Yaitu Ummu Aiman رضي الله عنها) memintanya, dan tidaklah dia meminta kepadaku sesuatu yang aku mampu memenuhinya, melainkan pasti aku akan memberikannya’.” (Shifah ash-Shafwah, 1/522).

6. Orang yang Paling Berbakti dari Kalangan Umat Ini

‘Aisyah رضي الله عنها berkata, “Ada dua laki-laki dari Shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang paling berbakti di kalangan umat ini kepada ibunya: ‘Utsman bin ‘Affan dan Haritsah bin an-Nu’man رضي الله عنهما.

Adapun ‘Utsman, maka dia telah berkata, ‘Aku tidak mampu memandang ibuku (karena segan) sejak aku masuk Islam’.

Sedangkan Haritsah, maka dia biasa membersihkan kutu (rambut) kepala ibunya, menyuapinya dengan tangannya, dan dia tidak pernah sama sekali meminta penjelasan ketika ibunya memerintahkan sesuatu kepadanya, hingga akhirnya sesudah dia keluar dia bertanya kepada orang yang di dekat ibunya, ‘Apa yang diinginkan ibuku?’.” (Birr al-Walidain, karya Ibnu al-Jauzi, hal. 52).

7. Mana yang Lebih Utama

Muhammad bin al-Munkadir رضى الله عنه  berkata, “Saudaraku melewati malam dengan shalat, sedangkan aku bermalam dengan memijit kaki ibuku. Dan tidaklah aku berkeinginan untuk menukar malamku dengan malamnya.” (Syiar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, 5/ 539).

8. Bakti Kahmas

Kahmas رضى الله عنه (Tabi’in generasi akhir, wafat 149 Hijriah) pernah bekerja membuat kapur dengan upah dua daniq (Satu daniq adalah seperenam dirham sekitar Rp. 14.352) perhari, lalu bila masuk sore hari, dia membeli buah-buahan dengan hasil upahnya, kemudian membawanya kepada ibunya. (Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani, 6/ 212).

9. Seorang Imam Memberi Makan Ayam

Suatu ketika Haiwah bin Syuraih رضى الله عنه  (Tabi’ at-Tabi’in generasi awal, wafat 158 Hijriah) yang ia merupakan salah seorang imam kaum Muslimin, duduk di halaqahnya sedang mengajar orang-orang.

Lalu ibunya datang seraya berkata, “Wahai Haiwah, bangkitlah! Berilah ayam itu jewawut.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan majelisnya lalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ibunya. (Birr al-Walidain, karya ath-Thurthusyi, hal. 66).

10. Seorang Imam yang Tidak (Berani) Mengangkat Pandangannya Kepada Ibunya

Dari Bakar bin Abbas, dia berkata, “Terkadang aku bersama Manshur bin al-Mu’tamir رضى الله عنه (Tabi’in generasi akhir, wafat 132 Hijriah) di majelisnya, lalu ibunya (seorang wanita kasar dan keras) berteriak kepadanya, seraya berkata, ‘Wahai Manshur! Ibnu Hubairah (penguasa Bashrah dan Kufah) berkeinginan mengangkatmu sebagai hakim, mengapa kamu menolak?’ Sementara Manshur menunduk, menempelkan jenggotnya ke dadanya, dia tidak mengangkat pandangannya (karena segan) kepada ibunya.” (Birr al-Walidain, karya Ibnu al-Jauzi, hal. 55).

11. Memerdekakan Dua Budak

Dari Abdullah bin Ain رحمه الله‎‎ (Tabi’ at-Tabi’in, wafat 150 Hijriah) bahwa ibunya memanggilnya, maka dia menjawabnya, lalu ternyata suaranya melampaui tinggi suara ibunya, maka dia memerdekakan dua orang budak (untuk menebus kesalahannya). (Birr al-Walidain, karya Ibnu al-Jauzi, hal. 55).

12. Ia Boleh Menyengatku, Tapi  Tidak (Boleh) Menyengat Ibuku

Kahmas hendak membunuh kalajengking, maka kalajengking itu masuk ke sebuah lubang. Lalu Kahmas memasukkan tangannya kedalam lubang itu, sehingga dia disengatnya, maka dia ditanya (oleh orang-orang), “Bagaimana kamu (nekat) memasukkan tanganmu ke dalam lubang tersebut?” Dia menjawab, “Aku khawatir ia keluar, lalu mendekati ibuku dan menyengatnya.” (Syiar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, 7/ 317).

13. Adab Abu Hurairah رضى الله عنه dalam Bermuamalah dengan Ibunya

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, bahwa setiap kali dia ingin keluar dari rumahnya, dia selalu berdiri di pintu kamar ibunya seraya berkata, “Assalamu ‘alaiki wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh, wahai ibu.” Lalu ibunya menjawab, “Wa ‘alaikas Salaam Wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh, wahai anakku.”

Abu Hurairah berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana engkau mengasuhku ketika aku masih kecil.” Ibunya menjawab, “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana kamu  berbakti kepadaku ketika aku lanjut usia.”

Bila Abu Hurairah رضى الله عنه pulang, maka dia pun melakukan hal seperti itu (yakni mengucap salam). (Makarm al-Akhlaq, karya Ibnu Abi ad-Dunya, hal. 168).

Abu Hurairah رضى الله عنه pernah menggendong ibunya ke WC dan mendudukkannya di atasnya saat ibunya buta. (Birr al-Walidain, karya Ibnu al-Jauzi, hal. 53).

Inilah keadaan as-Salaf ash-Shalih dengan kedua orangtua mereka. Maka bagaimanakah dengan keadaan kita?

Kata Mutiara

Sebagian ‘Ulama berkata, “Barangsiapa menghargai bapaknya, niscaya usianya panjang. Barangsiapa menghargai ibunya, niscaya dia melihat apa yang membahagiakannya. Barangsiapa menajamkan pandangannya kepada kedua orangtuanya, maka dia telah mendurhakai keduanya.” (Birr al-Walidain, karya ath-Thurthusyi, hal. 65).

Footnote:

[1] Dr. Khalid bin Abdurrahman asy-Syay’i, Rahasia Dibalik Berbakti Kepada Kedua Orangtua , (Jakarta: Darul Haq, 1438 H/ 2016 M). — Buku terjemah dari judul asli: Wujub Birr al-Walidain; (وجوب برّ الولدين);

Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Birrul Walidain, (Bogor: Pustaka At-Taqwa, 1433 H/ 2012 M), hal. 36.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer