Baca Doa Lailatul Qadar dan Mukallaf Perbanyak Ibadah di Malam Qadar

Mengetahui doa lailatul qadar (لَيْلَةِ الْقَدْرِ) merupakan kebutuhan syar’i seorang muslim yang ingin mendapatkan malam qadar pada bulan Ramadhan. Setelah menghapal doa lailatul qadar, anda dapat mengetahui pengertiannya secara bahasa dan makna, serta pendalilannya.

Sebab Allah mengutamakan sebagian dari makhluk-Nya atas yang lain, sampai pun mengenai waktu. Allah menjadikan “malam” Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

Pada bagian sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan terdapat lailatul qadar (malam kemuliaan) yang dimuliakan Allah atas malam-malam lainnya. Gunakan tabel daftar isi untuk memudahkan anda menemukan konten doa lailatul qadar sesuai dengan kebutuhan.

Mengejar lailatul qadar, ummul mukminin ‘Aisyah radhiy-allaahu-‘anha bertanya kepada Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam. Dari ‘Aisyah radhiy-allaahu-‘anha, dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku menemui lailatul qadar, doa apa yang akan aku katakan?” Beliau menjawab:

‏ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Transliterasi Doa Lailatul Qadar: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni

Terjemah Doa Lailatul Qadar: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuh ibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).” – Sahih (Darussalam): Sunan Ibnu Majah nomor 3850.

1. Doa Lailatul Qadar yang Lafazh-nya Sesuai Hadits

doa lailatul qadar yang shahih
Ilustrasi doa lailatul qadar yang shahih

اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Transliterasi matan doa lailatul qadar:
ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN, TUHIBBUL ‘AFWA, FA’FUANNI

Terjemah doa malam lailatul qadar:
“Ya Allāh, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemaaf, dan Engkau menyukai pemaafan. Karena itu, berikanlah maaf kepadaku.” – Hadits Shahih: H.R. At-Tirmidzi nomor 3515 dan Ibnu Majah nomor 3850 (باب الدُّعَاءِ بِالْعَفْوِ وَالْعَافِيَةِ).

2. Pengertian Doa Lailatul Qadar

Secara istilah “lailatul qadar” terdiri dari dua kata.

Lailatul qadar dari perspektif bahasa:

  1. Lailah (ليلة)

    Artinya adalah malam;

  2. Qadr (قدر)

    Artinya adalah kemuliaan.

Gabungan dua kata ini berarti “malam kemuliaan”. Oleh sebab itu, tidak disebut “malam lailatul qadar” karena berarti ada kata “malam” yang berulang. “Malam lailatul qadar” = “malam-malam qadar”, tersebut menjadi kalimat yang tidak efektif.

Dengan demikian, istilah yang tepat adalah “lailatul qadar” atau “malam qadar”.

konsultasisyariah.com

Agar lebih mudah memahami bahasa Arab per kata, anda dapat memanfaatkan sarana kemutakhiran sains dan teknologi berupa Aplikasi Al-Kamus. Ini merupakan aplikasi kamus Bahasa Arab ke Indonesia, Indonesia ke Arab, dan Arab ke Arab.

3. Dalil Lailatul Qadar

Untuk memahami soal mengapa membaca doa lailatul qadar memiliki urgensi yang tinggi bagi seorang muslim, maka patut diketahui dasar pendalilannya.

3.1. Dalil Al-Qur’an

Nash mengenai lailatul qadar dapat dibaca pada surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam kitab suci Al-Qur’an yakni surat al-Qadr:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Transliterasi nash surat Al-Qadar: Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr. Wa mā adrāka mā lailatul-qadr. Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr. Salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr.

Terjemah surat Al-Qadar: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Tafsir surat Al-Qadar: Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an. Awal turunnya Al-Qur’an adalah di malam yang agung dan penuh kemuliaan di antara malam-malam bulan Ramadhan. Dan apakah kamu mengetahui wahai Nabi Shalallaahu-‘Alayhi-wa-Sallam tentang malam ini dan keutamaannya?

Lailatul qadar yaitu malam di mana amal shalih ketika itu lebih baik daripada amal selama seribu bulan di waktu selain lailatul qadar.

Jarir mengatakan dari Mujahid yang berkata: “Salah satu laki-laki dari Bani Israil ada yang melaksanakan shalat di waktu malam sampai pagi, kemudian berperang memerangi musuhnya di waktu siang sampai sore, dan dia melaksanakan hal itu selama seribu bulan, kemudian Allah menurunkan ayat ‘Lailatul qadri khairum min alfi syahr’ sebagaimana yang diamalkan oleh laki-laki itu.”

Malaikat berbondong-bondong turun ke bumi beserta Jibril di antaranya pada malam ini atas perintah Tuhan mereka untuk menunaikan setiap perkara yang hendak dipenuhi oleh Allah di tahun berikutnya, dan memberikan kebaikan untuk orang-orang yang taat, di antaranya adalah ada yang mendoakan keselamatan mereka, memohonkan ampun dan mendoakan mereka.

Malam ini adalah malam (yang penuh) kesejahteraan dan penuh kebaikan mulai permulaannya sampai terbitnya fajar.

Allah menyebutkan keutamaan malam ini di dalam Kitab-Nya dengan mengatakan: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (lailatul qadar) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu.” – Q.S. Ad-Dukhan [44]: 3.8.

Oleh sebab itu seorang mukallaf patut meningkatkan ibadah di sepuluh hari terakhir dan mencari lailatul qadar, dan membaca doa lailatul qadar.

Mafhum, arti kata al-Qadr itu adalah kemuliaan (asy-syaraf) dan pengagungan (at-ta’zhim). Atau bisa juga bermakna taqdir dan qadha. Sebab Lailatul Qadar adalah malam yang mulia dan agung, di mana Allah menakdirkan apa yang akan terjadi dalam setahun dan memutuskannya (menentukan qadha’-nya) yang berupa urusan-urusan yang penuh dengan hikmah. “Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Q.S. Al-Qadr [97]: 3.)

3.2. Dalil Hadits Lailatul Qadar

i. Anjuran Perbanyak Ibadah pada Malam Qadar

Keutamaan lailatul qadar lainnya adalah seperti yang diriwayatkan dalam Shahihain yang berasal dari hadits Abu Hurairah radhiy-allaahu-‘anhu, bahwa Nabi shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمْ مِنْ ذَنْبِهِ

Transliterasi matan hadits: Man qaama laylatal qadri iymanan wahtisaban ghufiralahu maa taqaddam min dzanbihi.

Terjemah: “Siapa yang bangun (beribadah) pada Lailatul Qadar atas dasar keimanan dan perhitungan (mengharap pahala), maka dosanya yang telah lalu diampuni (oleh Allah).” – Hadits Shahih (Darussalam): H.R. al-Bukhari nomor 1901 (كتاب الصوم) dan Sunan an-Nasa’i nomor 2193 (كتاب الصيام).

ii. Lailatul Qadar ada di Sepuluh Hari Terakhir

Bacalah doa lailatul qadar pada hari-hari terakhir. Sebab lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dari ‘Aisyah radhiy-allaahu-‘anha, Nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Transliterasi matan hadits: Taharraw laylatal-qadri fil’asyril-waakhiri min ramadhaan.

Terjemah: “Carilah lailatul qadar itu pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.” – Hadits Muttafaq ‘Alaih: H.R. Al-Bukhari nomor 2020 (كتاب فضل ليلة القدر) dan Muslim nomor 1169 (كتاب الصيام).

iii. Lailatul Qadar ada di Tanggal Ganjil

Lebih dekat lagi pada tanggal-tanggal ganjil daripada tanggal-tanggal genap. Ini berdasarkan sabda Nabi shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Transliterasi matan hadits: Taharraw laylatal-qadri fil-witri minal ‘asyril-awaakhiri min ramadhaan.

Terjemah: “Carilah lailatul qadar pada tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” – H.R. Bukhari nomor 2017 (كتاب فضل ليلة القدر) dari ‘Aisyah radhiy-allaahu-‘anhu.

Aisyah Istri Rasulullah, adalah seorang wanita mukminah dan cerdas. Menyibukkan diri dengan Sunnah Rasul dan benci dengan musik, sebagaimana bencinya orang-orang mukmin dengan api neraka.

TemanShalih.Com – “Hijrah yang Shahih”

iv. Lailatul Qadar ada di Tujuh Hari Terakhir (dalam riwayat lain 10 hari terakhir)

Dan lebih dekat lagi pada tujuh hari terakhir, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiy-allaahu-‘anhu bahwa pernah ada seseorang di antara shahabat Nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam yang mendapatkan mimpi lailatul qadar pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ (يَعْنِيْ اتَّفَقَتْ) فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Transliterasi matan hadits: Ara-ru’yaakum qad tawa tha’at (ya’ni tafaqat) fissab’il awaakhiri faman kaana mutaharriihaa falyataharrahaa fissab’il awaakhiri.

Terjemah: “Aku lihat bahwa mimpi kalian itu benar-benar tepat pada tujuh hari terakhir. Maka barangsiapa yang mencarinya, hendaklah ia terus mencarinya pada tujuh hari terakhir” – Hadits Muttafaq ‘Alaih: H.R. Bukhari (Sahih al-Bukhari) nomor 2015 (كتاب فضل ليلة القدر) dan Muslim nomor 1165 (كتاب الصيام) dari Shahabat Ibnu Umar radhiy-allaahu-‘anhu.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

Transliterasi matan hadits: Taharraw laylatal-qadri fissab’i awaakhiri.

Terjemah: “Carilah lailatul qadar pada minggu (pekan) terakhir (bulan Ramadhan).” – H.R. Muslim nomor 1165.

Kemudian dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam bersabda tentang lailatul qadar,

الْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ (يَعْنِيْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ) فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجِزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِيْ

Transliterasi matan hadits: at-tamisuhaa fil ‘asyril awaakhiri (ya’ni laylatal qadri) fain dha’ufa ahadukum aw ‘ajiza falaa yughlabanna ‘alassab’il-bawaaqi.

Terjemah: “Carilah ia pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang di antara kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai terkalahkan (tidak bisa mencarinya) pada tujuh hari sisanya.” – H.R. Muslim nomor 1165 (كتاب الصيام) dari Shahabat Ibnu Umar radhiy-allaahu-‘anhu.

v. Lailatul Qadar ada di Malam Ke-Dua Puluh Tujuh

Dan yang lebih dekat lagi dari tujuh hari terakhir ini adalah malam ke-dua puluh tujuh (ke-27), berdasar hadits Ubay bin Ka’b radhiy-allaahu-‘anhu, bahwa ia berkata:

وَاللّٰه ِ لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ الَّيْلَةُ الَّتِيْ أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللّٰهِ صلى الله عليه و سلم بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ

Transliterasi matan hadits: Wallahi! La a’lamu ayyu laylati hiyallaylatullatii amranaa Rasulullaahi shalallaahu ‘alayhi wa sallam biqiyaamihaa hiya laylatu sab’in wa ‘isyriina.

Terjemah: “Wallaahi (Demi Allah)! Sungguh aku mengetahui malam yang mana kita diperintahkan oleh Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam untuk bangun beribadah, yaitu malam ke-dua puluh tujuh.” – H.R. Muslim

Lailatul qadar ini tidak hanya terjadi pada malam tertentu setiap tahunnya, akan tetapi ia akan berpindah-pindah dari satu malam ke malam yang lain. Sehingga bisa jadi pada suatu tahun ia terjadi pada malam ke-dua puluh tujuh, dan pada tahun berikutnya terjadi pada malam ke-dua puluh lima (misalnya), sesuai dengan qadar Allah dan hikmah-Nya.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam yang menyatakan:

الْتَمِسُوْهَا فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

Transliterasi matan hadits: al-misuuhaa fii taasi’ati tabqa, fii saabi’atin tabqa, fii khamisatin tabqa.

Terjemah: “Carilah ia (lailatul qadar) pada malam sembilan malam terakhir, tujuh malah terakhir, dan lima malam terakhir.” – H.R. Bukhari nomor 2021 (كتاب فضل ليلة القدر).

4. Catatan Doa Lailatul Qadar

Ini adalah salah satu doa yang paling bagus. Karena doa lailatul qadar diajarkan oleh Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam kepada istri beliau tercinta, ‘Aisyah radhiy-allaahu-‘anha, agar diucapkan pada malam yang paling mulia.

Dengan doa ini, saudara memohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) agar diberikan afiat (terbebas) dari segala ibtila’ dan uqubah, hal yang merugikan atau merusak diri anda, baik dalam urusan agama atau dunia.

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa lailatul qadar itu terjadi pada tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, dan bahwa ia berpindah-pindah.

Ibnu Hajar, Fathul Bari.

Allah ‘Azza wa Jalla sengaja menyembunyikan kepastian malam qadar kepada para hamba sebagai bentuk rahmat (kasih sayang) terhadap mereka agar amalan mereka menjadi banyak karena mereka selalu mencarinya pada malam-malam yang utama itu.

Mereka memperbanyak ibadah dengan mengerjakan shalat, berdzikir, dan berdoa sehingga mereka semakin dekat kepada Allah dan semakin banyak pula pahala yang diperoleh.

Di samping itu juga untuk menguji (sebagai ibtila’) mereka, agar menjadi jelas siapa saja yang bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya dari orang yang hanya bermalas-malasan dan meremehkannya.

Boleh jadi Allah menampakkan lailatul qadar itu kepada sebagian hamba-Nya dengan tanda-tanda yang dapat dilihat. Sebagaimana pernah dialami oleh Nabi, beliau melihat tanda-tandanya. Beliau bersujud pada pagi harinya di air dan tanah. Hujan turun pada malam itu sehingga Nabi shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam melakukan sujud dalam shalat subuh di air dan tanah itu.

Selamat berjuang mencari malam Lailatul Qadar, semoga anda berhasil mendapatkannya dan merasakan betapa besar karunia Allah ‘Azza Wa Jalla yang anda peroleh padanya.

Diintisarikan dari: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. 2019 M. Majalisus Syahri Ramadhan (Kajian Ramadhan). Sukoharjo: Al-Qowam. Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid. Hal. 204 s.d. 213.


Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

26 tanggapan untuk “Baca Doa Lailatul Qadar dan Mukallaf Perbanyak Ibadah di Malam Qadar

Komentar ditutup.