Qadarullah: Arti serta Dalil Shahih Sesuai Sunnah

Qadarullah dari perspektif bahasa terdiri dari 2 kata yakni qadar dan Allah, arti kata-nya adalah sebagai berikut:

  1. Qadar (قَدَرَ – يقْدر): artinya kuasa, kehendak, takdir; dan
  2. Allah (الله): artinya satu-satunya Rabb (Tuhan) yang haq (benar) untuk diibadahi atau satu-satunya Rabb yang berhak diibadahi dengan benar.

Sehingga dapat dimengerti arti qadarullah adalah takdir Allah. Lengkapnya: Qadarullah Wama Sya’a Fa’al. Arti kata Qadarullah: “Ini adalah takdir Allāh, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” Arab: قدر الله وما شاء فعل.

Seorang muslim wajib beriman kepada qadar, agar dia dapat merasakan nikmatnya iman. Selain itu, amal seseorang itu akan sia-sia apabila tidak beriman kepada qadar.

Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam menyatakan berlepas diri dari orang yang tidak beriman kepada qadarullah. Sebab bimbingan yang diberikan Rasulullah ketika menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah, yaitu supaya mengucapkan perkataan yang baik dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah (Qadarullah).

Sebagaimana dalil berikut ini: Ibnu ‘Umar berkata, “Demi Allah yang jiwa Ibnu ‘Umar berada di Tangan-Nya! Seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Allah, tidak akan diterima oleh Allah sbelum dia beriman kepada qadar.”

Kemudian Ibnu ‘Umar berdalil dengan sabda Nabi shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Terjemah hadits: “Iman yaitu: Hendaklah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman kepada qadar baik dan buruk.” – Hadits Shahih (Al-Albani): Shahih Muslim nomor 8 (كتاب الإيمان), Sunan Abi Dawud nomor 4695 (كتاب السنة), Sunan an-Nasa’i nomor 4990 (كتاب الإيمان وشرائعه), Sunan Ibnu Majah nomor 63, Jami at-Tirmidzi nomor 2610 (كتاب الإيمان عن رسول الله صلى الله عليه وسلم).

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, “Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فَمَنْ لَمْ يُؤْمِنُ بِالْقَدْر خَيرِهِ وَشَرِهِ أَحْرَقَهُ اللهُ بِالنَّار

Terjemah hadits: “Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada qadar baik dan buruk, Allah pasti akan membakarnya dengan api Neraka.”

Baca juga: Doa ketika hujan yang shahih

1. Apa Arti Qadarullah yang Shahih?

Qodarullah wa Maa Sya’a Fa’al atau tulisan arabnya قدر الله وما شاء فعل. Memiliki arti, “Ini adalah takdir Allāh, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Dari Abu Hurairah ‎رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏
وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Terjemah hadits:Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan ada yang baik dalam diri setiap orang. Hendaklah engkau bersemangat terhadap apa yang bermanfaat (untuk akhirat) bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah, dan jika sesuatu (kesulitan) datang kepadamu, maka janganlah engkau mengatakan: “Jika (/seandainya) aku melakukan, niscaya terjadi begini dan begitu.” Tetapi katakanlah, “Qadarullah (Ini adalah takdir Allah), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” Sesungguhnya, kata ‘jika (/seandainya)’ akan membuka (pintu) untuk syaithan (/akan membuka perbuatan syaithan).” – Sahih Muslim, nomor 2664 (كتاب القدر).

2. Kapan Qodarullah Diucapkan?

Kata Qadarullah tersebut, segera diucapkan untuk hal-hal yang telah terjadi.

Misal seseorang itu gagal melanjutkan prosesi taaruf ke tahap khitbah dan nikah (karena suatu alasan, bisa jadi terdapat karakter yang tercela pada diri pasangan taaruf, atau alasan-alasan syar’i dalam menolak/ mengakhiri ta’aruf).

Baca juga: Doa Lailatul Qadar yang Shahih

Maka dalam keadaan seperti ini, hendaklah dirinya mengatakan Qadarullah serta tidak perlu merasa sakit hati.

Berikut ini adalah penjelasan penggunaan kata qadarullah oleh ustadz Dr. Syafiq Risa Basalamah, M.A.

Salah satu cara mengobati sakit hati adalah dengan menerima takdir Allah ‘Azza Wa Jalla. Kenapa banyak orang stress? Itu sakit hati, karena tidak menerima takdir. Penyakit itu jangan dipelihara. Tapi ada orang yang sakit hati yang dipelihara, sehingga dia jadi depresi. Salah satu obatnya adalah dengan mengucapkan Qodarullah Wa Ma Sya’a Fa’al.

3. Qadarullah Saja, Hindari Ucapan Jahiliyah

Dengan demikian, seorang muslim itu tidak lagi terikat dengan budaya jahiliyah dengan berkata, “Kebetulan saja kita bertemu, jadilah kita dapat (begini-begitu)”, atau tenggelam menghabiskan waktu dalam berandai-andai.

Berandai-andai untuk masa yang telah terjadi tidaklah dibenarkan, dan hendaklah seorang muslim tidak berlarut lama dalam kesedihan dan tidak pula banyak berkata “Seandainya aku melakukan ini, niscaya begitu …” terhadap suatu perkara yang sudah terjadi.

Sungguh perkataan “Seandainya …” adalah pintu masuk bagi syaithan untuk menjerumuskan seseorang kedalam jalan-jalan yang dimurkai Allah ‘Azza Wa Jalla. Hendaklah menggantinya dengan perkataan “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al.” Sebagaimana dalil hadits-nya telah dijelaskan di atas.

4. Ridha terhadap Qadarullah

Hendaknya seorang mukallaf itu mengedepankan sikap ridha terhadap kehendak Allah (Qadarullah), tujuannya agar menjauhkan dirinya dari sikap marah terhadap Allah Ta’ala dan menghindarkan dirinya dari murka Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Terjemah hadits: “Siapa yang ridha kepada Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa murka, baginya kemurkaan.” – Hadits Hasan (Darussalam): Jami` at-Tirmidzi nomor 2396 (كتاب الزهد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم).

Agar anda ridha terhadap qadarullah, maka hendaklah meyakini bahwa dibalik suatu ujian (ibtila) itu ada ganjaran pahala. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ

Terjemah: “Sesungguhnya besarnya pahala bersama besarnya ujian.”Hadits Hasan (Darussalam): Jami` at-Tirmidzi nomor 2396 (كتاب الزهد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم).

Untuk perbedaan antara Ibtila’ (ujian) dengan ‘Uqubah (hukuman) sebagai bagian dari pembahasan mengenai arti fitnah, lihat Arti Fitnah: Arti Bahasa, Penjelasan dan Pembagiannya.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  1. Kitab suci Al-Qur’an;
  2. Shahih Muslim kitab Al-Qadr;
  3. Abu Isa Abdullah bin Salam, “Jalan Keselamatan dan Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat“;
  4. Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

2 tanggapan untuk “Qadarullah: Arti serta Dalil Shahih Sesuai Sunnah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *