HomeIntisari Cahaya IlmuArti KataArti Masyaqqoh (Masyaqqah)
Masyaqqoh dalam Syariat Islam

Arti Masyaqqoh (Masyaqqah)

Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Masyaqqoh/ Masyaqqah

(المَشَقَّة); al-Masyaqqoh artinya kesukaran; kepayahan; kesulitan dan kerepotan atau sesuatu yang berat.

Seluruh syariat Islam adalah Lurus dan Mudah

Dalam kitabnya, Qowaid Fiqhiyyah”[1], Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, menukil perkataan dari Syaikh Abdurrahman as-Sa’di,

Dia berkata, “Seluruh syariat Islam ini adalah lurus dan mudah, lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Allah عزَ وجل saja yang tiada sekutu bagin-Nya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan. Lihatlah! Shalat lima waktu yang wajib dikerjakan dalam satu hari satu malam tidaklah mengambil waktu kecuali hanya sedikit sekali. Begitu pula zakat, itu hanya sebagian kecil dari seluruh harta dan itupun hanya yang berkembang bukan harta yang tidak berkembang, serta setiap tahun hanya wajib sekali.

Begitu pula dengan puasa hanya satu bulan dalam satu tahun. Adapun masalah haji, maka itu hanya wajib sekali dalam seumur hidup bagi yang mampu melaksanakannya. Adapun kewajiban-kewajiban lainnya, maka hanya dilakukan kalau ada sebabnya, semuanya amatlah mudah.

Allah عزَ وجل juga mensyariatkan banyak sebab yang dapat membantu seseorang agar niat dalam menjalankan semua ibadah tersebut.” – Al-Qowa’id wal Ushul Jami’ah. hal. 20.

Sesuatu yang Berat dalam Syariat ada Tiga Macam

Apabila dicermati maka akan didapati bahwa tidak ada masyaqqoh dalam syariat Islam. Namun perlu diketahui bahwa sesuatu yang berat dalam syariat Islam itu ada 3 (tiga) macam:

1. Masyaqqoh yang Diluar Kemampuan Manusia

Maka ini tidak mungkin dapat terjadi dalam syariat Islam.

Misal: Berpuasa sepuluh hari berturut-turut siang dan malam, berjalan di atas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungkin disyariatkan oleh Allah عزَ وجل dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.

2. Masyaqqoh yang Biasa

Masyaqqoh semacam ini didapati dalam semua beban syar’i, karena semua perintah dan larangan sudah barang tentu membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqoh  seperti ini terdapat dalam syari’at Islam.

Misal: Puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, hal ini tentu membawa masyaqqoh akan tetapi dalam kadar yang wajar.

Shalat Fajr (atau di Indonesia disebut Shalat Subuh). Ini juga terdapat sedikit masyaqqoh dalam batas yang wajar.

Begitu pula dalam mengeluarkan zakat dari sebagian harta dan seterusnya.

3. Masyaqqoh yang Sangat Berat walaupun sebenarnya Mampu dilakukan Manusia

Masyaqqoh ini tidak terdapat dalam syariat Islam, karena keutamaan Allah عزَ وجل yang diberikan kepada hamba-Nya.

Misal: Shalat 50 (lima puluh) kali sehari semalam, seandainya Allah عزَ وجل memerintahkannya kepada manusia maka hal ini dapat dikerjakan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqoh yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Allah عزَ وجل tidak mensyariatkan hal ini pada ummat Islam.

Catatan Penting

1. Allah عزَ وجل Menghendaki Keringanan & Kemudahan bagai Hamba-Nya

Namun jika masyaqqoh yang terdapat dalam syariat Islam yang sebenarnya adalah masyaqqoh yang wajar, namun suatu ketika menjadi sulit dan berat karena ada sebab tertentu, maka Allah عزَ وجل memberikan keringanan dan keluasan kepada hamba-Nya.

Misal: Puasa pada siang hari dibulan Ramadhan yang asalnya adalah sebuah masyaqqoh yang ringan, namun saat sakit atau safar (safar/ shofar artinya bepergian jauh lebih dari 90 km, sedangkan musafir artinya orang yang bepergian jauh -pen) maka hal itu akan menjadi berat, maka dari itu Allah عزَ وجل memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa saat itu, namun wajib menggantinya pada waktu yang lain.

Allah عزَ وجل berfirman,

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Terjemah,

“… Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. …” – Q.S. Al-Baqarah (Sapi Betina) [2]: 185.”[2]

Tafsir,

“… Sedangkan orang yang sakit dan musafir mendapatkan keringanan untuk berbuka, namun harus menggantinya (dengan berpuasa) dilain hari sejumlah hari yang ditinggalkan. Allah menghendaki keringanan dan kemudahan terhadap kalian terkait pelaksanaan syariat-Nya serta tidak menginginkan kesulitan dan hal yang memberatkan. …”[3]

2. Apabila Masih Terasa Berat

Harus dipahami bahwa jika Allah عزَ وجل dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم mensyariatkan sesuatu yang kelihatannya sangat berat, maka harus dipahami dengan 2 (dua) kemungkinan:

(a) Harus Meyakini bahwa Dibalik Syariat yang Berat tersebut ada Hikmah dan Tujuan yang Lebih Besar.

Misal: Syariat jihad berperang di jalan Allah عزَ وجل melawan orang kafir. Syariat ini terlihat berat karena harus mengorbankan harta benda, keluarga bahkan jiwa. Dengan jiad ini bisa jadi seorang wanita kehilangan suaminya, anak kehilangan ayahnya. Namun dibalik itu semua ada hikmah berharga yakni meninggikan kalimat allah عزَ وجل dimuka bumi dan Allah عزَ وجل menyediakan pahala yang sangat besar bagi para Mujahid.

(b) Apabila tidak demikian, maka harus disadari bahwa apa yang dianggap berat itu sebenarnya bukanlah sebuah keberatan, namun karena jiwa manusia yang kotorlah yang menganggap itu berat.

Bukankah seseorang yang sakit tidak merasakan nikmat makan kecuali rasa yang tidak sedap, hingga yang manis terasa pahit di lidah, tidak merasakan tekstur makanan yang lembut padahal lembut. Sadarilah.

Footnote:

[1] Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami, (Gresik : Pustaka Al-Furqon, 1435 H/ 2013 M), hal. 61-68.

[2] Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah, ayat nomor 185.

[3] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsirul Muyassaru – mushaf al-Madinah an-Nabawiah, (Surakarta : YSPII & Al-Qowam Group, 2016), hal. 28.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

155 total views, 3 views today