HomeIntisari Cahaya IlmuArti KataApa yang dimaksud dengan Ta’zir?
hukuman cambuk aceh ta'zir

Apa yang dimaksud dengan Ta’zir?

Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Luasnya Maksiat, Tidak Serampangan Menghukumnya

Kajian mengenai hukum (hudud dan ta’zir ) adalah pembahasan yang luas (khususnya ta’zir/ pendisiplinan) dalam masalah jenis dan ukurannya. Begitu pula dalam masalah kemaksiatan, yakni macam-macamnya dan kadarnya.

Daftar Isi

1. Menuduh Orang Lain termasuk Maksiat
2. Kepada Siapa Dia Menuduh?
3. Apabila Mengulangi Kemaksiatan/ Kejahatan
4. Hingga Hukuman Mati
5. Hukuman Mati bagi Penyeru Bid’ah
6. Seorang Panutan yang Terbukti Melakukan Perbuatan Melawan Hukum
7. Tidak ada Batas Minimal Ta’zir
8. Bagaimana Cara Mencambuknya
9. Ta’zir tidak selalu berarti hukum Cambuk
10. Wajib Mengembalikan Nama Baik Setelah Mengucilkan
11. Nama Baik adalah Sesuatu yang Diwariskan

1. Menuduh Orang Lain termasuk Maksiat

Misal hukuman bagi seseorang yang berbuat maksiat dengan menuduh orang lain dengan perkataan:

  • Hai Anjing;
  • Hai Keledai;
  • Hai Pelaku Maksiat;
  • Hai Pezina (menuduh zina tanpa bukti/ qadzf);
  • dan yang semisal dengan itu.

Maka orang ini (yang menuduh), diberikan ta’zir (pendisiplinan) sesuai dengan berat perbuatannya itu. Dengan menimbang kepada siapa tuduhan tersebut diarahkan.

2. Kepada Siapa Dia Menuduh?

Misal apabila seseorang melayangkan tuduhan dimaksud kepada:

  • seorang pembesar dikalangan kaumnya, atau;
  • orang yang mempunyai kemuliaan dikalangan kaumnya, atau;
  • kepada orang yang memiliki pengaruh dikalangan kaumnya.

Maka hal ini menjadi suatu perkara yang berat oleh sebab itu Hukuman Ta’zir (pendisiplinan) bagi si penuduh dapat berupa sejumlah cambukan, 10, 20, 40 hingga 70 kali dicambuk dengan dirrah (cambuk kecil), sesuai dengan pertimbangan Umara’/ Penguasa, selaras dengan banyak atau tidaknya kejahatan tersebut di tengah masyarakat. Apabila itu banyak terjadi di tengah masyarakat, maka penguasa memperberat hukumannya, berbeda jika kondisi masyarakat adalah sebaliknya.

3. Apabila Mengulangi Kemaksiatan/ Kejahatan

Sesuai dengan kondisi pelaku kejahatan, jika dia adalah orang yang secara terus-menerus berbuat maksiat maka hukumannya ditambah. Lain halnya jika dia adalah orang yang sedikit melakukan maksiat. Sesuai dengan besar kecilnya kejahatan.

4. Hingga Hukuman Mati

Tidak ada keraguan bahwa kejahatan besar yang termasuk dosa besar wajib diberi hukuman lebih. Begitu pula “keadaan pelaku kejahatan.” Bukankah orang yang minum minuman keras lalu dihukum, kemudian dia minum lagi, kemudian dia minum untuk keempat kalinya “dihukum mati”? Jadi, pemberian hukuman itu berbeda-beda tergantung keadaan pelaku kejahatan.

Mengenai pendapat yang diriwayatkan dari Imam Malik dan yang lainnya bahwa sebagian kejahatan ada yang dapat dikenai hukuman mati, pendapat ini disepakatai oleh para sahabat Imam Ahmad. Sebagian sahabat Imam asy-Syafi’i, Ahmad dan yang lainnya membolehkan hukuman mati dikenakan terhadap penyeru bid’ah yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, tukang sihir yakni dengan memenggalnya dengan pedang.

Abu Hanifah mengenakan hukuman ta’zir dengan hukuman mati untuk kejahatan yang berulang-ulang apabila jenis kejahatan tersebut mengharuskan hukuman mati, sebagaimana dia menghukum mati orang yang berulang kali melakukan sodomi, menghilangkan nyawa untuk merampas harta dan hal serupa lainnya.

Jika penyamun itu tidak berhenti dari perbuatannya kecuali dibunuh, maka dia dibunuh. Hal ini jelas, bahwa apabila manusia terus-menerus melakukan kemaksiatan dan tidak tercegah dari hal itu serta keadaan tidak akan baik kecuali dengan membunuhnya, maka dia dibunuh. Seperti penyamun, apabila dia menyamun den kejahatannya tidak berhenti kecuali dengan hukuman mati, maka dia dihukum mati.

5. Hukuman Mati bagi Penyeru Bid’ah

Bagi penyeru bid’ah, apabila bid’ahnya itu membuatnya kafir, maka dia dihukum mati dikarenakan dua hal berikut ini:

  • Pertama, kemurtadan;
  • Kedua, membuat kerusakan di muka bumi.

Jika tidak membuatnya kafir, dia dihukum mati karena satu hal, yakni membuat kerusakan di muka bui. Ini tergantung pengaruhnya. Di antara pelaku bid’ah ada yang berdakwah, tetapi orang-orang tidak peduli kepadanya, dan dia tidak dapat menjelaskan ke-bid’ah-an yang ada padanya dengan penjelasan yang dapat membuat manusia lain sesat. Di antara manusia ada yang lisannya tajam dan argumentasinya kuat. Dia dapat menyihir dan mempengaruhi manusia dengan argumentasinya. Jika membuat kerusakan di muka bumi dengan cara mengambil harta manusia dan menyerang tubuh, mereka pantas dihukum mati, maka membuat hilangnya agama mereka tentuh lebih pantas untuk dihukum.

6. Seorang Panutan yang Terbukti Melakukan Pelanggaran

Begitu pula halnya dengan orang yang menjadi “panutan” karena ilmunya, keturunan atau kemuliaannya. Orang seperti ini tidak sama dengan orang yang bukan panutan. Apabila seorang panutan melakukan pelanggaran, dia membuka peluang bagi orang lain. Orang-orang akan berkata, “Lihat si fulan! Dia mengerjakan hal ini.” Maka orang seperti ini (panutan) dihukum lebih banyak.

Artinya, ta’zir itu berbeda-beda:

  • Sesuai dengan keadaan pelaku dosa/ pelaku kemaksiatan/ pelaku kejahatan;
  • Sesuai dengan bentuk kemaksiatan/ kejahatan yang dilakukan;
  • Ta’zir untuk pembesar tidak sama dengan ta’zir untuk orang kecil.

7. Tidak ada Batas Minimal Ta’zir

Tidak ada batas minimal dalam ta’zir, dalam hal ukuran. Tidak ada jenis ukuran tertentu karena tujuannya adalah pendisiplinan dan perbaikan. Dengan apa saja pendisiplinan dan perbaikan itu tercapai, maksud tersebut sudah dapat diperoleh. Misal menghukum dengan perkataan, yaitu mencelanya di hadapan orang-orang atau di depan teman-temannya, dan lain-lain. Atau dengan perbuatan, seperti memukulnya.

Mana yang paling keras? Hal ini berbeda-beda. Bagi sebagian orang, jika dikatakan kepadanya satu perkataan, niscaya lebih keras baginya daripada seratus kali cambukan, akan tetapi bagi sebagain yang lain hal itu (perkataan) tidak ada masalah/ tidak memberikan efek apa pun.

Misal sekiranya seseorang yang mengambil harta, dia dapat dihukum dengan penyitaan terhadap hartanya. Mana yang lebih keras, pukulan atau penyitaan harta? Hal ini berbeda-beda. Bagi orang yang kikir, penyitaan harta tentu terasa lebih keras. Oleh karenanya dikatakan (dalam satu ungkapan):

“Sesungguhnya seseorang terpeleset dan jari-jari kakinya berdarah. Lalu mulailah dia melihat, ternyata dia mendapati jari-jari kakinya telah terluka, sedangkan sandalnya tidak apa-apa. Dia pun menganggap remeh masalah tersebut, yakni kakinya lebih rendah dari sandalnya.”

8. Bagaimana Cara Mencambuknya

Barangsiapa yang memuluk karena hak sendiri (pribadi), seperti seorang suami yang memukul istrinya karena berbuat durhaka/ membangkang/ nusyuz, maka hukuman yang dia (istri) terima tidak boleh lebih dari sepuluh kali cambukan. Atau pukulan ayah kepada anaknya karena kedurhakaan.

a. Dicambuk dengan Dirrah

Mencambuk dalam hukuman ta’zir (hukuman pendisiplinan/ hukuman untuk mendidik) dengan dirrah (cambuk kecil), berbeda dengan cambuk dalam hukuman hudud.

b. Tidak Ditelanjangi

Baju pelaku (yang dicambuk) tidak seluruhnya ditanggalkan, tetapi segala sesuatu yang menghalangi rasa sakit akibat cambukan hendaknya dilepas, seperti kain dalaman dari bulu, kain penghangat dan lain sebagainya. Orang yang dihukukm/ dicambuk tidak diikat apabila tidak diperlukan.

c. Haram Mencambuk Wajah

Bagian wajah tidak boleh dikenai cambukan, karena Nabi shalallaahu-‘alaihi-wa-sallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian memukul maka hendaklah ia tidak memukul wajah.” – al-Bukhari kitab al-‘Itqu, bab Idza Dharabal ‘Abdu fal Yatajannabil Wajh, nomor 2560, dan Muslim kitab al-Birr was Shilah wal Adab, bab an-Nahyu ‘an Dharbil Wajh, nomor 2612.

d. Tujuannya untuk Mendidik, Bukan Membunuh

Dan tidak pula memukul bagian yang mematikan karena tujuan hukuman itu adalah mendidiknya, bukan membunuhnya. Setiap anggota tubuh mendapat jatah cambukan, seperti punggung, kedua paha, pundak dan lainnya. Artinya tidak dicambuk pada satu tempat.

Implementasi Hukum Pidana (Jinayat) di Aceh, Indonesia

wikipedia.org: Wilayah provinsi di Indonesia yang menerapkan peraturan syariat yang mengacu pada ketentuan hukum pidana Islam. Undang-undang yang menerapkannya disebut Qanun Jinayat atau Hukum Jinayat. Pemerintah provinsi dalam hal ini menerapkan beberapa peraturan tambahan yang bersumber dari hukum pidana Islam. Pemerintah Indonesia secara resmi mengizinkan setiap provinsi untuk menerapkan peraturan daerah, namun secara istimewa Aceh mendapatkan status sebagai provinsi dengan otonomi khusus dengan tambahan izin untuk menerapkan hukum yang berdasarkan syariat Islam sebagai hukum formal. Beberapa pelanggaran yang diatur menurut hukum pidana Islam meliputi produksi, distribusi dan konsumsi minuman beralkohol, perjudian, perzinahan, keintiman yang dilakukan diluar nikah dan perbuatan homoseksual. Setiap pelaku pelanggaran yang ditindak berdasarkan hukum ini seringkali berakhir pada hukuman berupa cambuk, sanksi denda dan hukuman kurungan badan. Tidak ada ketentuan rajam yang diterapkan dalam hukum ini di Aceh, meskipun upaya untuk penerapan rajam pernah diperkenalkan pada tahun 2009 namun upaya tersebut tidak mendapat persetujuan dari gubernur Irwandi Yusuf.

Pendukung hukum pidana Islam membela keabsahannya berdasarkan status otonomi khusus yang diberikan kepada Aceh, menyebutkan bahwa hal itu dilindungi undang-undang sebagai hak kebebasan beragama untuk masyarakat Aceh.  

9. Ta’zir Tidak Selalu Berarti Hukum Cambuk

Terkadang dengan mengisolir orang tersebut dan tidak memberi salam kepadanya hingga dia bertaubat, jika hal itu memang mengandung maslahat. Ini adalah batasan penting, sebab sebagian orang mengucilkan pelaku maksiat secara mutlak. Ini adalah tindakan yang salah. Pelaku maksiat dimaksud tidak dikucilkan kecuali jika dalam pengucilannya bermaslahat. Dikucilkan dengan cara tidak duduk bersamanya dan tidak didengarkan perkataannya.

Akan tetapi, tidak dikucilkan dengan tidak menjawab salamnya apabila dirinya bertamu dan lain-lain. Perincian dalam hal ini adalah untuk kemaslahatan. Jika seseorang itu dikucilkan, dirinya akan menjadi sedih dan melihat dosanya serta bertaubat kepada Rabb-Nya. Jika demikian, kucilkan dia walaupun lebih dari tiga hari.

Namun jika seseorang itu tidak peduli, bahkan ketika Anda mengucilkannya, justru bertambah keras dalam bermaksiat, menambah kebengisannya, bertambah sombong dan memandang rendah pelaku kebaikan dan memandang rendah orang-orang yang menyeru kepada kebenaran, maka dalam hal ini dirinya tidak perlu dikucilkan, tetap memberikan salam kepadanya. Apakah ada keadaan yang yang lebih parah dari saling memerangi? Peperangan antara sebgaian mukmin dengan sebagian lainnya adalah sesuatu yang kejam.

10. Wajib Mengembalikan Nama Baik Setelah Mengucilkan

Dalam mengucilkan pelaku maksiat harus diberi batasan, yakni jika hal itu (pengucilan) membawa kemaslahatan, maka dikucilkan hingga dia bertaubat. Apabila dirinya telah bertaubat, maka wajib untuk mengembalikan nama baiknya.

Sebagian orang, wal-iyadzubillah; kita berlindung kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dari sikap ini, jika terjadi terjadi kesalahan pada seseorang, dia tidak akan mengembalikan nama baiknya. Dia tetap membencinya, ini adalah kesalahan. Jika dia telah bertaubat, wajib memulihkan nama baiknya. Jika perbuatannya lebih baik dari sebelumnya, maka berikan penghargaan yang besar untuknya.

Seseorang terkadang tidak mengetahui nilai dirinya dan keagungan Rabb-nya kecuali melalui kejahatan. Lihatlah Adam ‘Alaihis-Salam, Allah tidak menceritakannya kecuali setelah beliau memakan dari pohon, bahwa Allah Ta’ala memilihnya, memberinya petunjuk dan mengampuninya. Hal itu setelah beliau bertaubat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

Terjemah,

“Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) sruga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia. Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” – Q.S. Taha (Taha) [20]: 121-122.

Tafsirnya,

“Adam dan Hawa pun memakan pohon yang dilarang oleh Allah itu, lalu tersingkaplah aurat mereka berdua, yang sebelumnya tertutup dari pandangan mata mereka, lalu mulailah mereka berdua memetik daun pepohonan surga dan menempelkannya di tubuh mereka untuk menutuo aurat mereka yang terbuka. Adam telah melanggar perintah Rabb-nya, ia melakukan penyimpangan dengan memakan pohon yang dilarang oleh Allah untuk didekati.

Kemudian Allah memilih Adam, mendekatkannya, menerima taubatnya, dan memberinya petunjuk ke jalan lurus.” – Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. hal. 320.

Setelah kemaksiatan dan kedurhakaan ini, Rabb-nya memilihnya.

11. Nama Baik adalah Sesuatu yang Diwariskan

Seandainya ada orang yang terkenal gemar bersenda gurau, bernyanyi, dan suka berbuat mesum telah bertaubat kepada Allah dan menjadi orang yang paling baik, dalam hal ini maka tidak boleh menyikapinya atas dasar keadaannya yang terdahulu. Mafhumah, kehormatan dan nama baik adalah sesuatu yang diwariskan.

Demikianlah 11 (sebelas) nomor bahasan yang telah tuntas diintisarikan dari kitab-kitab yang tsiqah (kredibel) membawakan penjelasan ilmu ad-Din (Agama) mengenai ta’zir (hukuman pendisiplinan).

Catatan Penting:

  • Cambuk dalam hukum ta’zir berbeda dengan cambuk dalam hukum hudud. Perbedaan dapat dilihat pada jumlah cambukan, jumlah cambukan dalam hukum ta’zir tidak boleh melebihi 80 kali cambuk. Sementara jumlah cambukan dalam hukum hudud antara 85 hingga 100 kali cambuk.
  • Mencambuk dalam hukuman ta’zir menggunakan dirrah (cambuk kecil), sementara mencambuk dalam hukuman hudud menggunakan cambuk.
  • Tujuan hukum ta’zir adalah memberikan pendisiplinan kepada orang yang melakukan perbuatan melawan hukum, sementara pelaksanaan hukum hudud bertujuan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan Allah Azza wa Jalla dan hak-hak-Nya.
  • Seseorang diberikan hukum ta’zir apabila:
  • istri membangkang/ durhaka/ nusyuz terhadap suaminya, seorang anak yang durhaka terhadap orangtuanya, mencium wanita yang bukan mahram, melakukan percumbuan tanpa persetubuhan, memberikan tuduhan kepada orang lain (sebagaimana telah dijelaskan pada nomor 1 di atas), memakan sesuatu yang haram, mencuri sesuatu bukan dari tempat penyimpanannya, mengkhianati amanah yang diemban (penanggung jawab Baitul Mal, wakaf, harta anak yatim dan lain-lain), rekan bisnis yang berkhianat, pelaku curang dalam transaksi, mengurangi timbangan, orang yang memberikan kesaksian palsu, memerintahkan orang untuk memberi kesaksian palsu, pegawai negeri yang hanya bekerja apabila disogok, seorang suami yang berbuat sewenang-wenang terhadap anggota keluarganya, direktur yang sewenang-wenang terhadap karyawannya, pemimpin kampung yang sewenang-wenang terhadap warganya, tasyabbuh (menyerupai kaum kuffar/ orang-orang kafir), dan berbagai keharaman lainnya.
  • Seseorang diberikan hukum hudud apabila: seorang pemuda yang belum menikah tertangkap tangan jima’/ berhubungan intim/ bersetubuh dengan jumlah cambukan antara 85 hingga 100 kali cambuk.

Diintisarikan dari:

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’i war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah, (Jakarta Timur : Griya Ilmu, 1438 H/ 2017 M), hal. 264 – 268. – Eidisi terjemah Bahasa Indonesia.
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd, Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar, (Surakarta :  YSPII & Al-Qowam Group, 1437 H/ 2016 M), hal. 320.  – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

Foto:

  • independent.co.uk
  • tirto.id
  • klikkabar.com

Infografis:

  • N/A

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

248 total views, 4 views today