Apa yang dimaksud dengan Tabdi’?

Tabdi’/ Vonis Ahli Bid’ah: Bagaimana semestinya para penuntut ilmu agama dari kalangan Agamis Awwam menyikapi amaliah bid’ah yang terjadi disekitarnya?

[1] Tidak tergesa-gesa memvonis ahli bid’ah (tabdi’) atas saudara muslimnya yang lain (anggota keluarga maupun ajnabi/ orang asing) yang kedapatan ibtida‘/ berbuat amaliah bid’ah.

Sebab diketahui adanya keterbatasan jangkauan kemampuan berpikir orang lain dalam menelaah nash-nash yang shahih, artinya seseorang itu belum dapat memahami dengan benar.

Mafhumah di antara orang-orang muslim didapati kemampuan/ kekuatan berpikir yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, atau bahkan belum sampai kepadanya nash-nash (ayat-ayat kitabullah dan hadits) dan pemahaman yang shahih/ benar.

[2] Hendaknya seorang muslim (penuntut ilmu agama) memfokuskan diri dalam menyelami ilmu agama dan mengamalkan ilmu tersebut atas dirinya dan anggota keluarga atau orang-orang yang berada di dalam tanggungannya sebagai objek dakwah. Mencari faedah dalam majelis ilmu dan kemudian memberi faedah ilmiah kepada mereka.

[3] Adapun seorang muslim (yang dirinya adalah pelajar/ penuntut ilmu/ thulabul ‘ilm) yang mudah menjatuhkan vonis “Ahli Bid’ah” atas saudara muslimnya yang lain/ yang awwam, bisa jadi telah terjangkit penyakit hati:

  • berupa perasaan ‘ujub terhadap ilmu pengetahuan agama yang dia kuasai dan amal shalih yang telah dia perbuat;
  • sombong; dan
  • diiringi dengan sikap meremehkan kekurangan/ keterbatasan orang lain dalam memahami ajaran Islam yang murni (al-Ghamt/ Ghamtun Nas);
  • seseorang itu tidak menempatkan diri sesuai dengan kapasitas yakni sebagai pelajar/ penuntut ilmu yang sejatinya tidak memiliki otoritas dan wewenang dalam menetapkan hukum yang memiliki sifat khusus/ objektif/ perorangan.

[4] Kaidah/ asas suatu amaliah dihukumi bid’ah telah ditetapkan, cukup bagi seorang muslim (penuntut ilmu) untuk menapaki manhaj/ sifat dan cara beragama yang benar atas diri sendiri dan anggota keluarga sebagai prioritas objek dakwah.

[5] “Andaikata kita melihat kepada sikap para Salaf رحمه الله, tentu didapati mereka banyak menjatuhkan takfir pada beberapa perbuatan, bid’ah-bid’ah, perkataan-perkataan, … Akan tetapi, tatkala mengaplikasikan pada tempatnya dengan mengkafirkan orang tertentu, mereka melakukan seleksi ketat dalam penerapannya, karena orang yang terjerumus kedalamnya mungkin saja jahil … atau baru masuk islam (muallaf) …” – Dinukil dari Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz al-Jibrin. Vonis Kafir Dalam Timbangan Islam (Dhowaabithu Takfiiril Mu’ayyan). hlm. 81

Mutiara Hikmah

Kalau lah sinar matahari panas yang dengannya makhluk hidup memperoleh banyak manfaat, maka seorang muslim dengan kekuatan pikiran/ akal sehat dan lisan semestinya menyejukkan hati orang-orang yang berada di dekatnya, mengenalkan mereka kepada jalan yang benar sebagaimana dilalui oleh para Shahabat رضي الله عنهم/ Salafuna Shalih dalam hidup dan beragama sesuai perintah Allāh عَزَّ وَجَلَّ dan Rasul-Nya ‎صلى الله عليه وسلم.

Hasilnya, apakah dia kembali kepada sunnah? Serahkan urusannya antara dirinya dengan Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

‎مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Transliterasi hadits:
Man Yuridillaahu Bihi Khayran Yufaqqihu Fiddiin.

Terjemah hadits:
Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama. …” – Shahih Muslim nomor 1037 (كتاب الزكاة).

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. // Disclaimer Penulis // Biografi penulis: Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.