HomeArti KataArti kata “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al”
qadarullah

Arti kata “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al”

Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu Nasihat 12 likes 52.9K views share

Melafazhkan Qadarullah dalam Keseharian

Qadarullah: Perlu diingat bahwa berandai-andai untuk masa yang telah terjadi tidaklah dibenarkan dan hendaklah seorang Muslim tidak berlarut lama dalam kesedihan dan tidak pula banyak berkata “Seandainya aku melakukan ini, niscaya begitu …” terhadap suatu perkara yang sudah terjadi. Tetapi katakanlah untuk yang telah terjadi: (قدر الله وما شاء فعل); “Qadarullah wa Maa Sya’a Fa’al“; “Qadarullah (Ini adalah takdir Allāh), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Berandai-andai Pintu Masuk Syaithan

Sungguh perkataan “Seandainya …” adalah pintu masuk bagi syaithan untuk menjerumuskan seseorang kedalam jalan-jalan yang dimurkai Allah ‘Azza Wa Jalla. Oleh sebab itu untuk suatu persoalan yang sudah terjadi hendaknya seorang muslim mengatakan, “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al.

Mutiara Hadits

Dari Abu Hurairah ‎رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏

وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan ada yang baik dalam diri setiap orang. Hendaklah engkau bersemangat terhadap apa yang bermanfaat (untuk akhirat) bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah, dan jika sesuatu (kesulitan) datang kepadamu, maka janganlah engkau mengatakan: “Jika (/seandainya) aku melakukan, niscaya terjadi begini dan begitu.” Tetapi katakanlah, “Qadarullah (Ini adalah takdir Allah), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” Sesungguhnya, kata “jika (/seandainya)” akan membuka (pintu) untuk syaithan (/akan membuka perbuatan syaithan).” – Sahih Muslim, nomor 2664 (كتاب القدر).

Adakah andaikata yang dibolehkan?

Hukum asal megatakan “Andaikata” adalah boleh, bahkan bernilai terpuji apabila tidak ada pelanggaran terhadap ketentuan syari’at.

Allah ‘Azza Wa Jalla (Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mulia) berfirman,

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُون

Terjemah,

Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Andaikata aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya (ke-mudharat-an). Aku hanya pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’. – Q.S. Al-A’raf (Tempat Tertinggi) [7]: 188.

Tafsir,

Wahai Rasul, katakanlah, “Aku tidak mampu mendatangkan kebaikan untuk diri sendiri atau mencegah keburukan yang menimpanya, kecuali jika Allah menghendaki. Andaikata aku mengetahui hal ghaib, tentu telah kulakukan sebab-sebab yang kuketahui akan membawa kepada banyak kemaslahatan dan kemanfaatan serta menghindari sebab-sebab yang membawa kepada keburukan sebelum terjadinya. Aku hanyalah rasul Allah yang diutus kepada kalian. Kusampaikan peringatan tentang kengerian hukuman-Nya dan kusampaikan kabar gembira tentang pahala-Nya kepada orang-orang yang percaya bahwa aku seorang Rasul Allah serta mengamalkan syariat-Nya.

Kebolehan ini dapat diamalkan misalnya untuk berangan-angan dalam kebaikan,

Andaikata saya memiliki harta yang banyak, niscaya saya akan banyak membantu anak yatim.

Untuk sekedar cerita mengenai realita,

Andaikata kamu kemarin hadir (dalam majelis ilmiah), tentu akan mendapat faedah ilmu yang disampaikan oleh Ustadz.

Andaikata yang dilarang

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, mencela orang-orang munafik,

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا

Terjemah,

… Mereka berkata, “Andaikata ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” … – Q.S. Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) [3]: 154.

Allah ‘Azza Wa Jalla juga berfirman,

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا ۗ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Terjemah,

Orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang yang benar.” – Q.S. Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) [3]: 168.

Tafsir,

Orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang hanya duduk saja (tidak turut berperang) dan mereka berkata kepada saudara-saduara mereka yang terkena musibah bersama kaum muslimin dalam peperangan melawan kaum musyrikin pada Perang Uhud, “Kalau saja mereka itu mau menuruti kami, tentu mereka tidak akan mati terbunuh.” Katakanlah, wahai Rasul, kepada mereka, “Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar berkenaan dengan anggapan kalian bahwa seandainya mereka mau mematuhi kalian tentu tidak akan mati terbunuh, dan bahwa kalian telah selamat dari kematian itu karena memilih duduk saja tanpa mau terjun ke medan perang.”

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُم ۗ مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Terjemah,

Dan mereka berkata, “Sekiranya (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai ilmu sedikit pun tentang itu. Tidak lain mereka hanyalah menduga-duga belaka. – Q.S. Az-Zukhruf (Perhiasan) [43]: 20.

Tafsir,

Orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy itu juga berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan beribadah kepada seorang pun selain-Nya.” Ini merupakan hujjah yang bathil. Allah telah menegakkan hujjah dengan diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab. Hujjah mereka dengan Qadha’ dan Qadhar merupakan salah satu kebathilan terbesar setelah disampaikannya peringatan para Rasul kepada mereka. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat ucapan itu. Mereka mengatakannya sebagai dugaan dan kebohongan semata, karena mereka tidak memiliki kabar dan bukti mengenai hal itu dari Allah.

Berdasar kepada dalil-dalil, Firman Allah ‘Azza wa Jalla dan Hadits Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, tersebut di atas menunjukkan bahwa berkata “Andaikata” menjadi suatu perkataan yang tercela jika di dalam hatinya:

  • Memprotes ketentuan syari’at, misal, “Andaikata minuman keras itu halal, tentu saya dapat memperoleh keuntungan yang banyak.”;
  • Memprotes takdir, misal, “Andaikata Allah tidak menciptakan tikus, niscaya kita tidak direpotkan dengan keberadaannya.”;
  • Penyesalan, misal, “Andaikata saya kemarin tidak pergi, tentu tidak akan mengalami kecelakaan.”;
  • Untuk angan-angan yang tercela, misal, “Seandainya saya memiliki harta yang banyak, niscaya saya akan mengadakan pesta miras.”;
  • Berdalil dengan takdir untuk bermaksiat, misal, “Seandainya Allah tidak mentakdirkanku sebagai pencuri, niscaya aku tidak akan mencuri.”.

Hindari ucapan jahiliyah

Berdasar penjelasan di atas, hendaklah seorang muslim berusaha untuk mengucapkan Qadarullah pada kesempatan-kesempatan yang dibenarkan secara syari’at untuk mengucapkannya.

Sehingga tidak lagi terikat dengan budaya jahiliyah dengan berkata, “Kebetulan saja kita bertemu, jadilah kita dapat (begini-begitu)”. Hendaklah menggantinya dengan perkataan “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al.”

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Shahih Muslim kitab Al-Qadr.
  • Abu Isa Abdullah bin Salam, “Jalan Keselamatan dan Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat.”
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah At-Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer