HomeArti KataArti Kata Muallaf secara Bahasa dan Istilah Syar’i
arti kata muallaf

Arti Kata Muallaf secara Bahasa dan Istilah Syar’i

Arti Kata 1 likes 201 views share

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

“… yang dilunakkan hatinya (mualaf) …” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Arti kata Muallaf: Apabila dilihat dari perspektif Bahasa, maka jika dikatakan: Aliftusy syai’a atau Aliftu fulanan, maka artinya: Aku merasa akrab dengannya. Dan jika dikatakan: Allaftu bainahum, artinya: Aku menyatukan mereka setelah sebelumnya bercerai-berai.

Adapun jika dikatakan: Allafatuasy syai’a ta’lifan, artinya: Aku menyambung bagian-bagian yang terpisah. Dari kata inilah muncul istilah ta’lif al-kitab (menyusun atau menulis buku). Kata ilf sendiri artinya alif (yang disatukan).

Sedang Ta’allafahu ‘alal Islam (disatukan dalam Islam). Dari kata inilah lahir istilah mu-allafah qulubuhum “mereka yang disatukan/ didekatkan hatinya (kepada Islam).”

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya mengakrabi mereka, yakni mendekati mereka dan memberi mereka agar orang-orang kafir lainnya tertarik memeluk agama Islam.

Dengan demikian, mu-allafah qulubuhum ialah bentuk jamak dari kata muallaf, dan ia berasal dari kata ta’lif yang berarti menyatukan hati.

Kemudian apabila dilihat dari perspektif istilah maka Mu-allafah qulubuhum; ihwal kata mu-allafah, bentuk tunggalnya yaitu muallaf, yang maknanya adalah: seorang pemuka kaum yang diharapkan memeluk Islam atau dapat menghentikan gangguannya (terhadap kaum muslim).

Atau berarti orang yang baru masuk yang dengan diberikannya (zakat) diharapkan menjadi semakin kuatlah imannya. Atau agar orang yang sepertinya diharapkan masuk Islam juga, atau membantu memungut zakat daru orang yang enggan menunaikan zakat.

Macam-macam Muallaf  

Muallaf ada 2 (dua) macam, yaitu: (1) muallaf dari kalangan orang kafir; dan (2) muallaf dari kalangan orang Islam.

Muallaf dari Orang Kafir

Muallaf dari kalangan kaum kafir terbagi menjadi dua.

Pertama, orang kafir yang dikhawatirkan mengganggu dakwah Islam. Dengan diberi sesuatu, diharapkan dia serta orang-orang yang bersamanya minimal akan berhenti dari memberi gangguan.

Kedua, orang kafir yang diharap mau memeluk Islam. Tujuan memberinya adalah menguatkan niatnya memeluk agama ini, sehingga hatinya semakin tertarik pada Islam dan akhirnya benar-benar masuk Islam.

Contonya apa yang dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم terhadap Shafwan bin Umayyah bin Khalaf.

Peristiwanya terjadi saat beliau صلى الله عليه وسلم menaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah). Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم berangkat bersama sejumlah muslimin (untuk berperang di Hunain). Ketika itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi Shafwan bin Umayyah bin Khalaf seratus ekor kambing, lalu beliau صلى الله عليه وسلم tambah lagi seratus, dan beliau صلى الله عليه وسلم tambah seratus ekor lagi.

Shafwan menceritakan kejadian itu: “Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) memberiku sebanyak yang beliau beri, padahal ketika itu beliau (صلى الله عليه وسلم) adalah orang yang paling kubenci, akan tetapi beliau (صلى الله عليه وسلم) tetap memberiku, sehingga beliau (صلى الله عليه وسلم)-pun menjadi orang yang paling aku cintai.”[1]

Anas berkata: “Jika ada orang yang masuk Islam oleh karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak masuk Islam sampai akhirnya Islam menjadi sesuatu yang paling dia cintai daripada dunia beserta isinya.”

Anas juga menceritakan: “Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) selalu memberikan orang yang meminta sesuatu kepada beliau karena berharap akan keislamannya. Bahkan, ada seseorang yang meminta kambing kepadanya sepenuh lembah di antara dua gunung dan diberikan oleh beliau tanpa ragu-ragu. Kemudian orang yang diberi itu kembali ke kampungnya dan berkata kepada penduduk kampungnya: ‘Wahai penduduk kampungku, masuk Islamlah kalian. Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dan tidak takut miskin’.”

Muallaf dari Kalangan Orang Islam

Muallaf dari kalangan musim terbagi kedalam empat jenis.

Pertama, para pemuka masyarakat yang sudah masuk Islam yang mempunyai kolega dari kalangan kaum kafir, juga dari kalangan muslimin, yang mempunyai i’tiqad baik terhadap Islam.

Jika mereka diberi zakat, maka diharapkan kolega-kolega mereka yang kafir pun tertarik untuk masuk Islam dan semakin baik i’tiqad mereka – yang muslim – atas Islam. Dengan pertimbangan inilah, mereka (para pemuka muslim tersebut) boleh diberi zakat.

Ke-dua, orang-orang yang tinggal di perbatasan antara negara Islam dengan negara kafir. Kalau diberi zakat, mereka akan membela kaum muslimin di sekitarnya.

Ke-tiga, orang-orang yang jika diberi zakat maka akan memaksa orang yang enggan menunaikan zakat kecuali dia takut (jika tidak menunaikannya). Maka itu, mereka semua diberi zakat karena termasuk muallaf, yang mereka masuk kedalam keumuman surah At-Taubah ayat 60.

Ke-empat, para pemuka masyarakat yang disegani oleh kaumnya. Tatkala mereka diberi zakat, maka diharapkan keimanan mereka semakin kuat dan memotivasi mereka untuk ber-jihad. Karenanya, mereka boleh diberi zakat.

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

[1] Muslim, kitab “al-Fadhail”, bab “Ma Su-ila ar-Rasul Syaian Qath Faqala: La wa Katsrat ‘Athaih”, nomor 2313.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer