Arti Kata Allah Sesuai Aqidah Sunnah Shahih

Arti kata Allah: Allāh (اَللهُ) Maha Disembah, Asma inilah yang paling sering disebut dalam al-Qur’an sebanyak 2724 kali, banyak disebutkan pula dalam hadits. Allāh berfirman,

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

Transliterasi: innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa’budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

Terjemah: “Sungguh, Aku ini Allāh, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat Aku.” – Q.S. Thaha [20]: 14.

Allāh merupakan lafal tunggal yang tidak memiliki bentuk jamak. Arti kata Allāh adalah “yang disembah”. Inilah induk dari Asmaul Husna yang mencakup seluruh sifat-Nya.

Asma ini berasal dari kata “اَلْا ئِلَهُ” lalu hamzah-nya tidak dicantumkan, lam-nya disatukan lalu di-takfhim (dibaca tebal = اَللهُ) artinya Dzat yang disembah.

Allāh عَزَّ وَجَلَّ adalah nama yang menunjuk pada Dzat illahiyyah yang mengandung semua sifat kesempurnaan, pengagungan, dan keindahan yang tidak satu makhluk pun berhak diibadahi melainkan Dia. Semua makhluk menyembah-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan, ketundukan, dan ketakutan baik di saat senang, lapang, mau pun pada saat sempit.

Lafal ini disebut juga Lafzhul Jalalah dan Ismu Zat. Yaitu nama Dzat yang menciptakan langit, bumi, dan seisinya termasuk kita sebagai manusia. Dialah Allāh, Rabb sekalian alam.

Makna Nama Allāh

Makna dari nama Allāh ini mencakup dua hal yang agung dan saling berkaitan erat, yaitu:

  1. Dia sebagai Ilah yang menghimpun seluruh sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan;
  2. Dia satu-satunya Dzat yang diibadahi, tak satu pun makhluk yang berhak diibadahi selain Dia.

Kedudukan Asma-Nya, Allāh Jalla Jalaluh

  1. Asma ini berada pada urutan pertama dalam silsilah Asmaul Husna, menurut berbagai versi ulama yang menjadi rujukan;
  2. Tidak satu pun makhluk-Nya yang menggunakan nama ini, sejak diciptakan langit dan bumi, manusia mau pun jin, Arab mau pun ‘ajam (non Arab/asing), benda hidup dan mati, sampai Kiamat tiba;
  3. Keislaman seseorang bergantung pada pengucapan Asma yang satu ini dan tidak sah digantikan dengan Asma-Nya yang lain menurut ijma ulama. Maka tidak sah orang yang hendak masuk Islam mengucapkan “Laa Ilaha illaa ar-Rahan” misalnya;
  4. Asma-Nya yang lain disandarkan pada-Nya. Namun Asma ini tidak dapat disandarkan pada Asma yang lain. Dikatakan: Ar-Rahman dan Ar-Rahim bagian dari Asma Allāh. Bukan Allāh bagian dari Ar-Rahman;
  5. Tidak sah shalat seseorang tanpa melafalkan Asma ini. Maka tidak ada dan tidak sah orang bertakbir dengan mengucap: Ar-Rahmaanu Akbar.

Manfaat Asma-Nya, Allāh Jalla Jalaluh

  1. Semua manfaat Asmaul Husna berasal dan bermuara pada nama yang agung ini, “Allāh.”
  2. Kecintaan kepada Allāh di atas kecintaan terhadap semua makhluk. Bahkan melebihi cinta kita kepada diri sendiri, orangtua, keluarga, anak, termasuk dunia dan seisinya. Karena Dia lah sesembahan yang haq satu-satunya, pemilik karunia dan nikmat, pencipta, maha raja lagi maha terpuji. Dengan demikian kita akan mencintai apa yang dicintai-Nya, membenci apa yang dibenci-Nya (al-Wala’ wa al-Bara’). Setelah itu kita akan merasakan manisnya iman;
  3. Mengagungkan Allāh عَزَّ وَجَلَّ dan memurnikan ibadah kepada-Nya semata; baik dalam tawakal, harapan, dan takut, suka mau pun duka;
  4. Diraihnya ketenangan hati dan kebahagiaannya serta kedekatan dengan Sang Khalik;
  5. Tidak ada tuntunan berdzikir khusus dengan Asma ini (Allāh) saja, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa sekte menyimpang (ahlul bid’ah).

Demikianlah konten yang memuat ihwal arti kata Allah. Barakallaahu Fiikum.

Tariq bin Abdil Aziz Attamimi, L.c., M.A. 1441 H/2020 M. Mutiara Asmaul Husna. Pustaka Imam Asy-Syafi’i. hlm. 24-26.

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *