Arti Fitnah: Arti Bahasa, Penjelasan dan Pembagiannya

Arti Fitnah perspektif Bahasa

Arti fitnah atau kata al-fitnah (الْفِتْنَةُ) di dalam bahasa Arab berasal dari kata fatana (فَتَنَ), berbentuk mashdar. Misalnya kalimat: Fatantudz dzahaba (فَتَنْتُ اذَّهَبَا); “Aku menguji keaslian emas”, yang bermakna aku memasukkannya ke dalam api untuk membersihkan karatnya dari benda-benda atau pun logam lain yang menempel.

Huruf fa, ta, dan nun (ف – ت – ن) merupakan harfun ashli shahih (bentuk dasar sehat) yang menunjukkan makna ibtila’ (اِبْتِلَا, yang berarti cobaan) dan ikhtibar (اِخْتِبَارٌ, yang berarti ujian).

Turunan kata فَتَنَ adalah الْفِتْنَةُ. Polanya فَتَنْتُ – أَفْتِنُ – فَتْنًا. Kalimat: فَتَنْتُ الذَّهَبَ بِالنَّارِ; “Aku membakar emas dengan api,” yakni pada saat menguji kemurniannya. Emas yang diuji tadi dalam bahasa Arab disebut maftun (مَفْتُوْنٌ) atau fatin (فِتِيْنٌ, artinya yan dibakar). Ada pun kata al-Fattan (اَلْفَتَّانُ: artinya tukang fitnah), maksudnya ialah syaithan.

Fitnah Perspektif Istilah Syar’i

Fitnah menurut istilah syar’i adalah musibah yang menimpa umat secara menyeluruh. Atas dasar itu, jikalau musibah menimpa beberapa orang saja dari umat ini, ia disebut bala’ atau ibtila’.

Dalam kalimat lain, dapat dikatakan bahwa musibah yang menimpa suatu kelompok manusia secara masal disebut fitnah. Sementara musibah yang menimpa individu disebut bala’ (cobaan).

Ada pun istilah ‘uqubah (hukuman), tidak lain merupakan konsekuensi yang mengiringi fitnah dan bala’. Disebut fitnah sebab semua manusia terkena dampaknya, sedangkan bala’ hanya menimpa salah satu/ seseorang dari mereka.

Perbedaan Ibtila’ dengan ‘Uqubah

arti uqubah
Arti ‘uqubah adalah hukuman, konsekuensi dari penyimpangan; maksiat.
  1. Uqubah adalah balasan yang disegerakan bagi seorang hamba sebagai akibat dari kegagalan dalam menghadapi ujian dari Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atau karena melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’aala. Ibtila’ terjadi pada awalnya serta didahulukan jadinya. Sedangkan uqubah terletak di akhir cobaan, atau sebagai hasilnya atau konsekuensi berbuat menyimpang;
  2. Dilihat dari posisinya, ibtila’ berada di hadapan sebab dan musababnya. ‘Uqubah merupakan buah penyimpangan sebab-musabab ini, dan merupakan konsekuensi dari menjauhi alur yang sebenarnya;
  3. Perbedaan sebab mengakibatkan hadirnya ibtila’ atau ‘uqubah. Bahwa keimanan di atas manhaj (sifat dan cara beragama) yang benar adalah sebab datangnya ibtila’ (cobaan), sedangkan beratnya cobaan dari sisi ini merupakan bukti atas kuatnya keimanan hamba yang diuji. Maka karena itu lah, para Nabi dikatakan sebagai manusia yang paling berat menghadapi cobaan.
    Adapun ‘uqubah (hukuman), yang menjadi sebab kehadirannya adalah penyimpangan dari manhaj dan aqidah yang lurus. Sehingga setiap kali bertambah pelanggaran dan semakin besar penyimpangannya terhadap Sunnah, maka semakin berat hukuman yang diterimanya.
  4. Jika semua taklif (beban syariat) dilaksanakan secara benar dan lurus lalu ujian datang, ini yang disebut ibtila’. Dan bagi mukallaf yang salah atau menyimpang dalam penunaian taklif itu, niscaya didatangkan ‘uqubah baginya;
  5. Ibtila’ menjadi tanda kecintaan serta keridhaan Allah kepada para hamba, sedangkan ‘uqubah sebagai isyarat kemarahan dan kebencian-Nya;
  6. Ibtila’ bertujuan menyatukan umat dan mengokohkan ikatan-ikatan persatuan di antara mereka. Sementara ‘uqubah, tidak sedikit yang menjadi penyebab hancur atau binasanya suatu kaum; ia memecah belah antara satu dengan yang lain, menambah rasa permusuhan, juga memicu kebencian antar sesama hamba.
    Inilah yang terjadi di sebagian negeri muslimin. Allah menegaskannya dalam al-Kitab:
    فَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
    “Tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepda mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” – Q.S. Al-Maidah (5): 14.
  7. Perbedaan antara ibtila’ dengan ‘uqubah terlihat pula dari cara menyikapinya.
    Bahwasanya ibtila’ dapat disikapi dengan memohon pertolongan kepada Allah, bersabar, bertaqwa, ridha, serta berakhlaq yang baik.
    Sementara ‘uqubah, di samping harus disikapi dengan amal-amal tersebut, masih tetap dibutuhkan kesungguhan dalam taubat, istighfar, istiqamah, lurusnya niat dan tujuan, serta kekuatan untuk senantiasa mengikat diri dengan hukum-hukum Allah ‘Azza Wa Jalla.

Demikianlah syarah (penjelasan) arti fitnah secara lengkap dari perspektif bahasa Arab dan istilah syar’i.

Maraaji’:
Syaikh Masyhur Hasan Salman. 1441 H/2019M. Manhaj Salaf Solusi Selamat dari Fitnah Akhir Zaman. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Affan bin Umar

Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.