HomeIntisari Cahaya IlmuBab NikahAlasan Syar’i Menolak Lamaran
menolak lamaran

Alasan Syar’i Menolak Lamaran

Bab Nikah Intisari Cahaya Ilmu 0 likes 1.5K views share

Pertanyaan seputar Khitbah/ Melamar

Pertanyaan 1: “Bolehkah Menolak Lamaran Seorang Lelaki Perokok?”

Jadi boleh menolak khitbah/ lamaran disebabkan pelamar (lelaki) adalah seorang perokok? Apabila dirinya berkepribadian baik akan tetapi memang perokok, lantas bagaimana, apakah harus ditolak?

Jawaban Pertanyaan 1

Sangat terang dan jelas bolehnya (boleh ditolak; yakni disampaikan dengan bahasa penolakan yang baik). Bahwa, Sesuatu itu dikatakan baik – dan dikatakan buruk, apabila ia berkesesuaian dengan Kitabullah dan Sunnah atau menyelisihi Kitabullah dan Sunnah. Sementara rokok itu sendiri termasuk kedalam al-Khaba’its .

menolak lamaran

Ikhtisar: Diintisarikan dari Ustadzuna Shalih Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله. “Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin”. hlm. 201. Dalam penjelasan atas Hadits Shahih (صحيح) riwayat Abu Dawud no. 2083 dan selainnya.

Sementara mafhum di antara orang-orang yang beriman (orang muslim) ada yang menyelisihi kitabullah dan sunnah, yang kadar penyelisihannya berbeda-beda. Ada yang menyelisihi sebagian, ada yang menyelisihi (hampir) seluruhnya. Seseorang yang hatinya baik tentu dirinya akan membenci hal yang buruk dan menundukkan dirinya (patuh) terhadap apa yang telah ditetapkan Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasulnya Shalallaahu-‘Alayhi-Wa-Sallam.

Pertanyaan 2: “Bolehkah Menikah Dengan Mantan Napi?”

Bagaimana dengan seorang lelaki mantan napi/ nara pidana, tetapi dirinya sudah bertaubat. Apakah lamaran tersebut dapat diterima? Akan tetapi saya takut/ ragu/ khawatir apabila dia berbuat hal yang sama (dengan kejahatannya yang telah berlalu) dikemudian hari, karena kebiasaan seseorang itu sangat sulit untuk dirubah.

Jawaban Pertanyaan 2

Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah dia yang bertaubat dan hijrah kepada Sunnah dan istiqamah di atasnya. Apabila aqidah nya lurus dan seorang perempuan itu menyukainya maka tidak ada yang lebih baik bagi mereka berdua yang saling mencintai selain menikah. Adapun perasaan cinta yang belum muncul dan-atau belum terasa kuat, tidak mengapa bagi keduanaya dan-atau satu di antaranya berusaha untuk memupuk kecintaan tersebut dalam bahtera rumah tangga nanti. Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menanamkan kecintaan yang luar biasa kepada pasangan yang ikhlas ini.

#TemanShalih #HijrahYangShahih #teman #sahabat

A post shared by TEMANSHALIH.COM (@temanshalih) on

Adapun terhadap suatu hal yang meragukan; Hendaknya meninggalkan yang meragukan dan jalani yang meyakinkan.

Pertanyaan 3: “Ingin Nikah Akan Tetapi Jauh?”

Bagaimana sikap saya seharusnya terhadap perkataan orang tua yang tidak berkenan apabila saya menikah dengan seseorang yang tinggalnya di negeri jauh (daerah lain yang jaraknya jauh)?

Jawaban Pertanyaan 3

Wali yang mengikuti keinginan/ perintah anak perempuannya, bukan sebaliknya. Wali hanya sebatas tertib/ prosedural agar nikahnya sah, bukan yang menentukan dengan siapa anak menikah. Artinya apabila seorang anak perempuan menyukai seorang lelaki yang salih yang ada juga padanya kriteria yang ia inginkan (sesuai selera anak perempuannya) maka wajib bagi wali untuk menikahkannya. Dan apabila seorang anak perempuan tidak menyukai lelaki yang ditawarkan oleh wali, maka haram hukumnya bagi wali memaksakan menikah/ nikah paksa.

Sementara menolak menikah/ melarang dengan alasan jauh tempatnya atau yang semisal dengan itu, bukanlah alasan yang dibenarkan/ bukan alasan syar’i . Menolak lamaran seseorang dengan alasan “Saya tidak suka dengannya,” sudah cukup.

Pertanyaan 4: “Bagaimana dengan Masa Lalu?”

Bagaimana caranya agar seseorang itu mudah beranjak dari kesedihan masa lalu (melupakan masalalu)?

Jawaban Pertanyaan 4

[4.1] Hendaknya seseorang itu menghindari kebiasaan menyendiri, sebab was-was syaithan lebih mudah masuk kedalam qalbu seseorang apabila dirinya dalam keadaan menyendiri. Di antara was-was syaithan adalah mengingatkan seseorang kepada keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan semu yang telah terjadi di masa lalu.

[4.2] Mengetahui hakikat Ketetapan/ Takdir/ Qadar Allah ‘Azza Wa Jalla; bahwa sesungguhnya merupakan ketetapan Allah ‘Azza Wa Jalla atas perkara yang:

(i) sudah terjadi;

(ii) sedang terjadi; dan

(iii) akan terjadi.

[4.3] Oleh sebab itu, seorang muslim dalam menyikapi suatu perkara yang telah berlalu hendaknya dia mengatakan (قدر الله وما شاء فعل); “Qadarullah Wa Ma Sya’a Fa’al“; “Ini takdir Allah ‘Azza Wa Jalla, apa yang Dia kehendaki Dia lakukan”. Dan tidak mengucapkan “Seandainya aku berbuat begini, niscaya akan begitu…“ sebab perakataan “Lau“; “Seandainya“; “Kalau Saja“; “Andaikata” adalah pintu masuk bagi syaithan untuk menggoda bani adam (manusia).

[4.4] Hendaklah optimis dalam menjalani keputusan, membuat target dan segera mengambil keputusan.

Pertanyaan 5: “Apakah Bersikap Lembut sama dengan Memberi Harapan?”

Saya menghargai kebaikan yang dinampakkan oleh seorang lelaki tatkala nazhor, hal itu bukan berarti saya memberi harapan palsu kepada mereka kan?

Jawaban Pertanyaan 5

Bersikap baik/ berbuat baik/ berbuat ihsan terhadap saudara seiman adalah tanda kecerdasan seseorang dalam beragama dan tersebut adalah hal yang dianjurkan yang termasuk kedalam amal shalih yang berkonsekuensi kepada pahala. Artinya seseorang itu memahami betul adab-adab dalam muamalah. Berbuat baik dan-atau menampakkan akhlaq yang baik terhadap orang lain tidak sama dengan memberi harapan palsu.

Hendaknya taaruf dan nazhor ini dilakukan dengan didampingi mahrom pihak perempuan dan tidak terjadi khalwat (berdua-dua-an dengan non-mahrom). Ta’aruf dan nazhor, khitbah, nikah dan walimah adalah segala sesuatu yang berasal dari Islam, ia harus diamalkan berdasar kepada ilmu, bukan sekedar mengetahui arti istilah saja. Sehingga apabila mengamalkan hal tersebut dengan orang-orang yang sama-sama telah memahami betul adab-adab dan segala konsekuensinya maka yang demikian itu dapat menjaga kehormatan dan nama baik; terjaganya aib (apabila diteumkan aib tatkala nazhor).

Untuk memperkuat ilmu pengetahuan seputar nazhor, khitbah, nikah dan walimah, ikhwati fillah dapat mengikuti murojaah.online Bab Nikah yang diselenggarakan setiap waktu.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Abu Unaisah. 1436 H/ 2015 M. Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah. Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah. Bogor: Pustaka Ibnu Umar.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/ share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya: temanshalih.com

Laporkan konten negatif: Disclaimer