Mushowwiruun: Penyakit dan Aib bagi Dakwah Sunnah
Arti mushowwiruun

Mushowwiruun: Penyakit dan Aib bagi Dakwah Sunnah

1. Arti al-Mushowwiruun

Mushowwir (Arab: مُصَوِّر) atau al-Mushowwir (Arab: المصوِّر), jamaknya al-Mushowwirun, artinya peng-gambar/pelukis/orang yang membuat gambar.

Arti kata mushowwir akan anda temukan dalam aplikasi smartphone kamus bahasa Arab yang dapat anda download secara gratis. Aplikasi Al-Kamus ini merupakan rekomendasi ustadz Firanda Andirja.

2. Ekses Negatif al-Mushowwiruun

Kembali lagi tentang eksistensi Mushowwiruun dalam pendidikan aqidah sunnah dan manhaj salaf (Ide Skripsi: masalah ini penting dan menarik, sehingga layak untuk diangkat kedalam penelitian skripsi kuliah anda). Mereka adalah penyakit dan aib bagi dakwah Sunnah apabila tidak benar-benar ber-taubat.

Sebab mushowiruun yang belum taubat betul, yang diberi tanggungjawab untuk mengisi konten kreatif di media online (website dan media sosial) pendidikan Sunnah, akhirnya malah asyik dengan tashwir-nya. Bagi mereka, sebisa mungkin dalam setiap publikasi (desain poster dan semisal), harus ada unsur gambar orang atau gambar makhluk.

3. Larangan Membuat Gambar Bernyawa

Bukankah telah datang kepada mereka peringatan yang jelas dan tegas dari Rasul-Nya?

Dalam ash-Shahiihaiin (al-Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id رضي الله عنهما, dia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

Transliterasi matan hadits: Inna asyaddan-naas ‘adzaban yaumal-qiyaamah al-musowwiruun.

Terjemah: “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah al-Mushowwiruun (orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa)). Hadits Muttafaq ‘Alaih: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Sunan an-Nasa’i nomor 5357, 5364, Sahih al-Bukhari nomor 5950, 6109, Shahih Muslim nomor 2107.

Banyak sekali dalil dari nash al-Kitab dan Hadits tentang haramnya gambar makhluk hidup bernyawa, dapat anda kaji dalam artikel Hukum Gambar dan Foto Dalam Islam.

4. Kedudukan Akal Terhadap Dalil

Di sini lah perlunya mengedepankan akal sehat, yakni akal yang mengikuti dalil daripada ra’yu (akal logika semata). Akal sehat, akal yang tunduk kepada dalil. Sehingga jiwa memiliki bashirah (kemampuan mata hati untuk membedakan antara yang haq dengan bathil).

Mereka, para mushowwir, tahu bahwa nggak perlu-perlu amat membuat gambar atau lukisan makhluk yang bernyawa, akan tetapi malah buang waktu untuk itu. Mereka sebenarnya sanggup menghindari gambar makhluk hidup bernyawa, sangat bisa membuat gambar atau ilustrasi objek lain, tapi anehnya malah balik lagi “muter-muter” bikin objek makhluk dengan ruh.

Bisa jadi, demikian itu karena kemaksiatan telah mendarah daging pada dirinya.

Setiap pelanggaran atau penyimpangan seorang muslim mukallaf atas ketentuan syari’at disebut dengan maksiat. Dan setiap maksiat berkonsekuensi kepada dosa dan ‘uqubah.

TemanShalih.Com – “Hijrah yang Shahih”

Mereka mencoba metode “menggambar makhluk tanpa wajah” dengan berdalih “untuk pendidikan” (?!) Ini penerapan kaidah yang tidak tepat, karena target audiensnya bukan anak-anak.

Mafhum, bolehnya tashwir makhluk hidup bernyawa harus diikuti dengan adanya udzur syar’i yakni untuk pendidikan anak-anak. Dalam keadaan yang mendesak, artiya kalau tidak ada sarana lain. Kebolehan ini sifatnya khusus, untuk anak-anak, bukan umum.

Apakah sama antara anak-anak dengan orang dewasa (mukallaf)? Jelas perbedaannya, sebagai mana malam tidak sama dengan siang hari.

Perbedaan antara halal dan haram, benar dan salah, haq dan bathil adalah sangat jelas. Begitu pula jelas berbeda antara orang-orang yang tahu dan tidak mengetahui, berbeda antara orang-orang yang berilmu dan tidak. Sebagai mana malam tidak sama dengan siang hari.

TemanShalih.Com – “Hijrah yang Shahih”

5. Contoh Flat Illustration yang Benar

Berikut ini contoh tashwir (gambar/ ilustrasi/ lukisan/ desain grafis) tanpa unsur makhluk hidup bernyawa.

Contoh flat design tanpa unsur makhluk hidup bernyawa.

Jadi bagaimana mas desainer, masih bisa kan berkarya mengikuti tren flat design/illustration dengan tanpa gambar makhluk bernyawa?

Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Authors TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih

Affan bin Umar

Penulis Artikel: Pandu Aditya Affandi, S.Kom., M.H. // Disclaimer Penulis // Biografi penulis: Pengamat perlindungan konsumen startup Islam; Duta Pelajar Indonesia-Malaysia 2007; Lulusan S1 Sistem Informasi Universitas AMIKOM 2013; Manajer PT Jatra Buana Kreasindo 2015; Former Editorial Team Jurnal Hukum Internasional Tanjungpura Law Journal 2017; Analis Data Akademik Universitas Tanjungpura 2017; Lulusan S2 Hukum Bisnis Universitas Tanjungpura 2018; Jurnalistik Tempo Institute 2019.