Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaAdabAdab Perjalanan (Safar) dan Bepergian Sesuai Sunnah yang Shahih

Adab Perjalanan (Safar) dan Bepergian Sesuai Sunnah yang Shahih

Berikut ini adalah adab perjalanan (safar) dan bepergian jauh sesuai sunnah yang shahih.


Adab perjalanan ada kaitannya dengan puasa selama bulan Ramadhan akan diakhiri dengan ‘Id Fithr (hari raya berbuka setelah sebulan ramadhan berpuasa) pada tanggal 1 Syawal.

Pada hari raya ini, biasanya kaum muslim merayakannya dengan berkunjung ke rumah keluarga untuk mempererat jalinan silaturahim dan juga bertamu ke kediaman teman-teman muslim lain untuk memperkuat ukhuwah islamiyah.

Hal ini merupakan bentuk realisasi perintah ash-Shadiqul Masduq Muhammad rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam yang disebut dalam hadits tentang silaturahim.

Nabi shalallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِيْ أَثْرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Terjemah: “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silautrahim.” – Hadits Shahih: Al-Bukari nomor 5985, 5986 (كتاب الأدب), Muslim nomor 2557 (كتاب البر والصلة والآداب), Abu Dawud nomor 1963 (كتاب الزكاة), dari Shahabat Anas bin Malik radhiy allaahu ‘anhu.

Dalam hadits yang lain, Dari Abdullah bin ‘Amr radhiy allaahu ’anhu, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافِئ، وَلكِنَّ الوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Terjemah: “Al-Wasil (orang yang menyambung silaturahmi) bukan yang sekedar membalas, Al-Wasil yang sesungguhnya adalah orang yang apabila diputus silaturahmi (silaturahim) kepadanya ia menyambungnya.” – Hadits Shahih (Al-Albani): H.R. Bukhari nomor 5991 (كتاب الأدب), Sunan Abi Dawud nomor 1697 (كتاب الزكاة), Adabul Mufrad nomor 68 (كتاب صِلَةِ الرَّحِمِ), Jami` at-Tirmidzi nomor 1908 (كتاب البر والصلة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), lafazh ini milik Bukhari.

Walau pun memang bukan berarti mengkhususkan bersilaturahim hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja, hal tersebut justru salah kaprah.

Baca juga: Ciri-Ciri Hadits Palsu

Dengan motivasi syar’i tersebut, kaum muslimin bersemangat dalam bepergian jauh demi untuk menyambangi keluarga yang berada di luar kota dan bahkan provinsi yang berbeda pulau.

Baca juga: Syarat Dinas Luar Kota Lengkap Dengan Contoh

Namun demikian, seorang muslim patut memenuhi adab perjalanan jauh yang shahih sesuai ajaran sunnah, agar perjalanan tersebut bernilai amal shalih dan berhak atas ganjaran pahala.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih dan Roadio.ID, Jazakumullaah Khairan.

Berikut ini daftar adab bepergian jauh yang shahih:

1. Istikharah Adalah Pintu Pertama Sebelum Berpergian

Berpergian adalah suatu pilihan. Maka, alangkah baiknya jika memohon petunjuk Allah terlebih dahulu, karena Dia lah yang Maha mengetahui hal-hal yang ghoib dan sangat mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Kita memohon kepada-Nya agar dipilihkan sesuatu yang terbaik bagi dunia dan ahirat. Sebagian orang ada yang berkata, “Orang yang menyukai musyawarah maka ia tidak akan rugi. Dan orang yang menyukai istikharah maka ia tidak akan menyesal.”

2. Melakukan Perjalanan di Hari Kamis

Diriwayatkan dalam hadits Ka’ab bin Malik radhiy allaahu ‘anhu, bahwa Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk dihari Kamis. Dan beliau menyukai keluar untuk berpergian dihari Kamis. – H.R. al-Bukhari

Dalam satu riwayat disebutkan, “Sungguh, jarang sekali Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk berpergian, kecuali beliau keluar pada hari Kamis.”

Niatkanlah untuk mendapatkan keberkahan dengan melakukan apa yang beliau salallahu alaihi wasallam lakukan, karena hal ini termasuk karakter orang orang shalih dan kebiasaan orang-orang yang bertaqwa.

Barang siapa mengikuti nabi salallahu alaihi wasallam dalam segala urusan, baik yang besar maupun yang kecil, maka tidak diragukan lagi, dia akan mendapatkan keberhasilan.

3. Membekali Diri dengan Wasiat Orang-orang Salih, dan Untuk Mendapatkan Doanya

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah salallahu alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya bermaksud mengadakan perjalanan, maka bekalilah saya.”

Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah membekali mu dengan ketaqwaan.”

Laki laki itu berkata, “Tambahkan bagiku.”

Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan semoga Allah mengampunimu.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Bekali lagi saya, ibu bapakku menjadi tebusan mu.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dan semoga Allah memudahkan mu kepada kebaikan di mana saja kamu berada.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya hendak berpergian, maka wasiatilah saya.”

Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada laki-laki tersebut, “Yetaplah dengan ketaqwaan kepada Allah, dan bertakbir jika berada di tempat tempat yang tinggi.”

Ketika laki-laki itu berpaling maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdo’a untuknya, “Ya Allah dekatkan lah jauhnya perjalanan dia, dan mudahkanlah perjalanan itu baginya.” – Shahiih at-Tirmidzi, Nomor 3688.

4. Izin Dari Kedua Orangtua

Seseorang datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meminta izin untuk pergi jihad, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?”

Laki laki itu menjawab, “Ya.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tinggallah dengan kedua orang tuamu, maka itulah jihad mu.”

Ibnu Hajar radhiyallaahu ‘anhu berkata, Hadis di atas dijadikan dalil haramnya safar tanpa izin orang tua. Karena mana kalau dilarang, padahal keutamaan yang sangat Agung, maka safar yang mubah tentu lebih dilarang. Kecuali jika safartersebut untuk mencari ilmu yang fardhu’ain dan ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengadakan safar. Maka safar dalam hal ini tidak dilarang. Ada pun jika ilmu tersebut Fardu Kifayah, maka para ulama berbeda pendapat.

5. Saling Mendoakan Dengan Orang Yang Ditinggalkan

Termasuk adab Safar adalah meminta doa kepada orang yang ditinggalkan dan mendoakan mereka.

6. Membaca Doa Safar

Termasuk adab Safar adalah berdo’a ketika naik kendaraan, ketika singgah, ketika kembali, dan doa-doa yang lainnya.

7. Mengangkat Seseorang Sebagai Pemimpin Perjalanan

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri radhiy allaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika tiga orang keluar untuk berpergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin.”

Hasan Sahih (Al-Albani): Sunan Abi Dawud 2608 (كتاب الجهاد).

8. Tidak Berpergian Sendirian

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

لو أن الناس يعلمون من الوحدة ما أعلم ما سار راكب بليل وحده

“Seandainya manusia mengetahui seperti apa yang aku ketahui mengenai berpergian sendirian, niscaya seseorang tidak akan berkendaraan sendirian di malam hari.”

al-Bukhari (كتاب آداب السفر)

9. Mencari Dan Menjadi Teman Yang Baik Dalam Perjalanan

Imam Al-Bukhari membuat bab khusus tentang keutaman orang yang mengangkat barang bawaan saudaranya dalam perjalanan. Pada bab ini dimuat hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ، يُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ يُحَامِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَدَلُّ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Setiap persendian wajib dikeluarkan shadaqah setiap hari. Seseorang membantu yang lain mengangkat barang bawaannya ke kendaraannya (adalah shadaqah). Atau membawakan barang bawaan orang lain (di kendaraan sendiri) adalah shadaqah. Kalimat yang baik di setiap langkah untuk melaksanakan sholat adalah shadaqah. Dan menunjukkan jalan adalah shadaqah.”

Shahih al-Bukhari, Nomor 2891 (كتاب الجهاد والسير).

10. Rombongan Harus Berkumpul di Satu Tempat

Diriwayatkan dari Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika suatu saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam singgah, maka para sahabat memilih tempat berhenti yang terpisah-pisah. Maka beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya terpisah-pisah nya kalian dicelah gunung dan lembah ini dari syaithan.” – Shahiih Abi Dawud, nomor 2628.

Selanjutnya adab perjalanan yang juga sesuai sunnah adalah berikut ini.

11. Perhatikan Kelancaran Kendaraan dan Menjauh Dari Jalan Ketika Singgah di Akhir Malam

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَافَرْتُمْ فِي الْخِصْبِ فَأَعْطُوا الإِبِلَ حَظَّهَا مِنَ الأَرْضِ وَإِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ فَأَسْرِعُوا عَلَيْهَا السَّيْرَ وَإِذَا عَرَّسْتُمْ بِاللَّيْلِ فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيقَ فَإِنَّهَا مَأْوَى الْهَوَامِّ بِاللَّيْلِ

“Jika kalian melakukan safar di saat subuh, maka berikanlah bagian unta dari bumi ini (digembalakan terlebih dahulu ketika akan melakukan perjalanan). Jika kalian mengadakan perjalanan di waktu kering, maka lakukanlah perjalanan dengan cepat. Jika kalian singgah di akhir malam untuk istirahat dan tidur, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu menjadi tempat lewat binatang dan serangga di waktu malam.”

Sahih Muslim, Nomor 1926 (كتاب الإمارة).

12. Segera Kembali

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‏السفر قطعة من العذاب، يمنع أحدكم طعامه، وشرابه ونومه، فإذا قضى أحدكم نهمته من سفره، فليعجل إلى أهله

“Safar itu sepotong siksaan, karena seseorang diantara kalian akan terganggu, baik tidur, makan atau minumnya. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian telah menunaikan keperluan nya, maka hendaklah ia bersegera untuk kembali kepada keluarganya.”

Muttafaq ‘Alaih: Riyadush Shalihin, 984 (كتاب آداب السفر).

13. Dilarang Datang Tiba-tiba Di Malam Hari

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الْغَيْبَةَ فَلاَ يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلاً

“Jika salah seorang dari kalian telah lama berpergian, maka janganlah mendatangi keluarganya dengan tiba-tiba di malam hari.”

Shahih al-Bukhari, Nomor 5244 (كتاب النكاح).

14. Ketika Datang Kembali, Shalat Dua Rakaat di Masjid

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik radhiy allaahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam apabila datang dari sebuah perjalanan, maka beliau memulainya dengan datang ke masjid lalu shalat dua rakaat di sana.

15. Berpelukan Ketika Datang Dari Perjalanan dan Berjumpa kembali Dengan Keluarga Serta Sahabat

Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam apabila saling berjumpa, mereka berjabatan tangan dan apabila mereka baru tiba dari sebuah perjalanan, maka mereka saling berpelukan.

16. Tidak Membawa Anjing Atau Lonceng

Dalam bab makruhnya anjing dan lonceng dalam perjalanan, al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiy allaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَصْحَبُ الْمَلاَئِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا كَلْبٌ وَلاَ جَرَسٌ

“Malaikat tidak akan menyertai rombongan yang didalamnya ada anjing dan lonceng.”

Shahih Muslim, Nomor 2113 (كتاب اللباس والزينة).

Demikianlah artikel tentang adab perjalanan atau adab safar yang shahih sesuai sunnah. Semoga bermanfaat. Barakallaahu fiikum, jazakumullaah khairan.

Sumber: Kompilasi Tiga Ulama. Pedoman Safar. Pustaka Ibnu Umar.

Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan Penulis TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang;

  5. Lihat Daftar Website yang Copy Paste Konten TemanShalih.Com.

Jazakumullah Khayran.
Tulisan ini memuat featuring image. Sumber: Kontributor.

Agar terus menghasilkan konten yang kredibel, dukung kami dengan follow akun Instagram TemanShalih. Jazakumullah Khairan.

Intaniahttps://temanshalih.com
Penulis artikel: Intan Sri Utami, S.E. Lulusan S1 Akuntansi - STIE Muhammadiyah Jakarta 2017
KONTEN TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Open chat