Senin, Oktober 18, 2021
BerandaIntisari Cahaya IlmuAdab Bertanya Dalam Islam

Adab Bertanya Dalam Islam

Adab Bertanya: Apabila seseorang terhambat untuk memahami suatu materi pelajaran (agama Islam maupun sains), maka bertanya kepada orang yang lebih mengetahui hal tersebut bukanlah sebuah perbuatan yang memalukan.

Terlebih apabila pertanyaan itu diajukan dengan tata bahasa yang baik, maka yang demikian itu merupakan cerminan tingginya kualitas adab muamalah seorang muslim.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Transliterasi: Fas’aluu ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun.

Terjemah: “… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” – Q.S. An-Nahl (Lebah) [16]: 43.”[1]

Akan tetapi hendaknya seorang muslim itu bertanya sesuai dengan kebutuhannya saja, tidak berlebihan dalam bertanya.

Perhatikanlah hadits berikut yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ

Dari Abu Hurairah رضى الله عنه, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Transliterasi matan hadits: Maa nahaytukum ‘anhu fajtanibuhu, wamaa amartukum bihi fa’tuu minhumas-tatho’tum, fainnamaa ahlakal-ladziina min-qablikum katsrotu masaa’ilihim wakh-tilaa-fuhum ‘alaa anbiyaa-‘ihim.

Terjemah: “Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-Nabi mereka”. – Hadits Muttafaq ‘Alaih: Riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Urgensi Menjaga Adab Tatkala Bertanya

adab bertanya | hadits berkata baik atau diam
Ilustrasi hadits pendek berkata baik atau diam.

Dalam kitabnya, Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله‎‎ menuturkan bahwa:

Beradablah yang baik tatkala bertanya, mendengarkan, memahami jawaban dengan baik, dan setelah mendapatkan jawaban janganlah engkau mengatakan, “Ustadz fulan berkata begini dan begitu.” Karena ini adalah adab yang hina dan mengadu domba (namimah) antar para ulama, jauhilah hal ini.

Jika memang hal itu harus engkau lakukan maka jelaskanlah dalam bentuk pertanyaan, katakanlah, “Apa pendapat anda tentang fatwa semacam ini,” dan jangan engkau sebutkan namanya.

Adab Bertanya yang Baik

Adab-adab seorang pelajar di antaranya yakni:

  • Bertanya dengan baik, misalnya dengan mengatakan, “Semoga Allah merahmati anda, apa pendapat anda tentang masalah ini?” atau dapat menggunakan bahasa lain (kalimat Tanya yang lain) asalkan tetap sopan dan lembut. Ini kalau memang butuh bertanya, karena tidak sepatutnya bagi seseorang untuk bertanya kalau memang tidak butuh untuk bertanya. Atau dia bertanya dengan tujuan karena memang dirinya dan orang lain membutuhkannya, ini adalah sesuatu yang baik:
  • Namun jika dia bertanya agar dipuji oleh orang lain dengan mengatakan, “MasyaAllah, si fulan itu bersemangat dalam belajarnya, buktinya dia banyak bertanya.” Ini adalah sikap yang salah:
  • Juga merupakan sebuah kesalahan kalau ada yang berkata, “Saya tidak ingin bertanya karena malu.” Sikap kedua orang ini sama-sama keterlaluan, padahal yang paling baik adalah yang sedang-sedang saja;
  • Mendengarkan dengan baik, mungkin dengan cara engkau mengatakan, “Wahai ustadz, semoga Allah membaguskanmu, apa pendapatmu tentang ini dan itu?” lalu tunggulah jawabannya;
  • Dalam kitabnya, al-Ushul Min ‘Ilmil-Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menuturkan bahwa hendaknya pertanyaan itu digambarkan secara sempurna agar memungkinkan ditetapkan hukumnya;
  • Memahami jawaban dengan baik. Ini juga sering terlewatkan bagi sebagian pelajar. Kalau dia bertanya lalu dijawab, kadang-kadang dia malu untuk berkata, “Saya belum paham.”

Berkata Imam Ibnnul Qayyim رحمه الله‎‎,

Apabila engkau belajar pada seorang ulama, maka bertanyalah dengan tujuan agar engkau mengetahui jawabannya bukan untuk membantahnya.”[2]

Bagaimana contoh kalimat tanya yang baik?

Contoh kalimat tanya dalam suatu majelis ilmiah,

Ustadz, Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memberkahi antum dan keluarga. Ustadz, bagaimana penjelasannya terkait masalah ini (sebutkan dengan jelas duduk permasalahannya), kami membutuhkan jawabannya sebab kami belum paham. Jazakallah Khairan.

Tabel Adab Bertanya

Sementara itu dapat dilihat contoh kalimat tanya yang lain dalam tabel di bawah ini,

No.BaikBuruk
1.Ustadz, Semoga Allah 'Azza Wa Jalla memberkahi antum dan keluarga. Ustadz, bagaimana penjelasannya terkait masalah ini (sebutkan dengan jelas duduk permasalahannya), kami membutuhkan jawabannya sebab kami belum paham. Jazakallah Khairan.Tadz, ada masalah seperti ini ..., urusannya gimana nih tadz?
2.Bismillah. Ustadz yang kami cintai karena Allah 'Azza Wa Jalla, kami sangat membutuhkan jawaban berkenaan dengan (sebutkan duduk permasalahannya dengan jelas). Syukran, Jazakallah Khairan.Tadz, ana mau nanya nih. Jadi begini tadz ...
3.Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberkahi antum dan kami semua. Ustadz, ihwal permasalahan yang kami hadapi yakni (sebutkan duduk permasalahannya dengan jelas), lantas bagaimana semestinya langkah-langkah yang sekiranya dapat kami ambil? Jazakallah Khairan.Tadz, ana ada masalah dengan dia (menyebutkan nama), dia itu orangnya (begini-begitu). Itu orang, harus digimanain tadz biar tobat?

Footnote:

[1] Kitab Suci Al-Qur’an, surat An-Nahl, ayat nomor 43.

[2] Diintisarikan dari: Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله‎‎ , “Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu”, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 1426 H/ 2005 M), hal. 215-216. Edisi bahasa Indonesia dari judul asli dari: Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi; (شرح حلية طالب العلم).


Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang.

teman shalihhttps://temanshalih.com
Media online informasi akademik muslim dan edukasi kontra terorisme. Terbit sejak Ramadhan 1437 H/Juni 2016 M. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.
KONTEN TERKAIT
- Advertisment -