Senin, Mei 23, 2022
BerandaArti KataDaftar 8 Golongan yang Menerima Zakat sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

Daftar 8 Golongan yang Menerima Zakat sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

Beikut ini adalah daftar 8 Golongan yang menerima Zakat: Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sudah menentukan golongan-golongan penerima zakat dan tidak diberikan kepada semua orang. Golongan-golongan yang diberi zakat ada 8 (delapan).

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebut mereka dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Transliterasi nash:

Innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarāi wal-masākīni wal-‘āmilīna ‘alaihā wal-muallafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

Terjemah nash:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mu’allaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allāh dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan ,sebagai kewajiban dari Allāh. Allāh Maha Mengetahui, Maha Bijaksan.” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Dengan demikian, zakat tidak boleh diberikan kepada selain mereka, termasuk untuk membangun masjid, memperbaiki jalan, mengkafani jenazah, atau amal-amal shalih lainnya.

Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengkhususkan zakat untuk delapan golongan tersebut saja, dengan penegasan: إِنَّمَا “Sesungguhnya (zakat itu hanya untuk…); ungkapan ini menunjukkan pembatasan, yaitu menetapkan yang sudah disebutkan dan menafikan selainnya.

Di dalam distribusi zakat, tidak semua golongan yang berhak harus diberi zakat. Demikianlah sesuai sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Mu’adz:

… Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allāh mewajibkan zakat. Dan zakat tersebut diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu ia didistribusikan kepada orang-orang miskin di antara mereka …” – Muttafaq ‘Alaih: al-Bukhari, nomor 395 dan Muslim, nomor 19.

Inilah perintah Nabi صلى الله عليه وسلم agar zakat itu hanya diberikan kepada satu golongan. Dalil lainnya amat banyak di dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa yang dimaksud pada ayat di atas ialah golongan-golongan yang boleh diberi atau menerima zakat. Jadi, tidak diwajibkan memberi ke semua golongan yang ditetapkan itu.

Daftar 8 Golongan yang Menerima Zakat disertai dengan pengertiannya

Untuk memudahkan anda dalam memahami isi tulisan, gunakanlah daftar isi di bawah ini dalam mencari konten yang sesuai dengan kebutuhan anda menyoal orang-orang yang berhak menerima zakat:

Berikut ini adalah daftar 8 golongan penerima zakat yang disertai pengertian secara istilah dan bahasa.

Pertama: Fakir

8 golongan penerima zakat fakir
Ilustrasi orang fakir.

Orang yang berhak menerima zakat golongan pertama adalah fakir. Secara bahasa, seseorang dikatakan fāqir (fakir) jika hartanya sedikit. Bentuk jamaknya adalah fuqarā artinya adalah orang yang membutuhkan. Sedangkan lawan katanya adalah al-ghaniy (orang kaya).

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna varian kata fakir itu dan kata miskin. Ada yang mengatakan; fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa, sedangkan miskin adalah orang yang mempunyai sebagian dari yang dia butuhkan. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i. Akan tetapi ada juga ulama yang berendapat sebaliknya, seperti Abu Hanifah.

Secara istilah, fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta produktif sebesar nishab di luar anggaran kebutuhan pokoknya. Fakir lawan dari kaya, yaitu kondisi orang yang tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkannya. Adapun orang yang tidak memiliki sesuatu yang tidak dibutuhkan, tidak disebut atau bukan orang faqir (fakir).

Makna yang benar untuk istilah fuqara (orang-orang fakir) adalah mereka yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan secara mutlak. Atau hanya memiliki harta yang kurang dari setengah kebutuhannya, dari hasil usaha atau selainnya, yang jelas tidak mencukupinya.

Dapat disimpulkan bahwa orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan (usaha yang menghasilkan). Atau seorang yang mempunyai pekerjaan akan tetapi penghasilannya kurang dari setengah dari kebutuhan pokok diri sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Sejatinya orang fakir lebih membutuhkan dibandingkan dengan orang miskin. Karena Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menepatkan orang fakir sebagai peneria zakat pertama dalam ayat ini. Termasuk kebiasaan orang-orang Arab yaitu mengurutkan sesuatu dari mulai dari yang paling penting dan seterusnya.

Demikian pula dalam firman-Nya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Transliterasi nash:

Ammas-safīnatu fa kānat limasākīna ya’malụna fil-baḥri

Terjemah nash:

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Dalam ayat di atas, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan bahwa orang-orang miskin itu memiliki kapal yang digunakan untuk mencari penghasilan (nafkah). Meski begitu, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tetap menyifati mereka sebagai orang miskin. Adapun orang faqir, dia tidak memiliki harta sama sekali.

Ke-dua: Orang Miskin berhak Menerima Zakat

8 golongan penerima zakat orang miskin masakin
Ilustrasi orang miskin yang bekerja di laut.

Orang yang berhak menerima zakat ke-dua adalah orang miskin. Secara bahasa, bentuk jamaknya adalah masākīn. Diungkapkan: “Sakana al-mutaharriku sukunan”, artinya gerakannya terhenti (diam). Kata sakana menjadi kata kerja transitif (membutuhkan objek) bertanda tasydid.

Dikatakan: Sakkantuhu (aku membuatnya diam). Kata ini berasal dari kata sakana, sebab dia berhenti pada manusia.

Miskin juga dapat berarti orang yang hina dan kalah, meskipun asalnya orang kaya. Sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ

Transliterasi nash:

wa ḍuribat ‘alaihimul-maskanah

Terjemah nash:

Dan selalu diliputi kesengsaraan.” – Q.S. ‘Ali-‘Imran [3]: 112.

Dan miskīn, makna asalnya adalah ketundukan dan kehinaan.

Ibnul Atsir berkata: “Di dalam hadits sering disebutkan kata miskin, masakin, maskanah dan at-tamaskun. Semuanya berkisar pada makna tunduk, hina, sedikit harta, dan kondisi yang buruk. Istakna artinya dia tunduk; maskanah artinya kefakiran jiwa; dan seseorang dikatakan tamaskana apabila menyerupai masākīn (orang-orang miskin), yang ia bentuk jamak dari kata miskīn, yang artinya tidak memiliki apa-apa atau hanya sebagian harta.”

Secara istilah, masākīn (orang-orang miskin/ kaum miskin) adalah yang memiliki setengah atau lebih dari kebutuhannya, baik hal itu diperoleh dari hasil usaha ataupun dari jalan lain, akan tetapi perolehan itu tidak mencukupi.

Dengan demikian, orang miskin adalah orang yang memiliki harta yang dapat memenuhi setengah kebutuhan dirinya atau lebih akan tetapi tidak mencukupi seluruh kebutuhan pribadi dan orang-orang yang wajib dinafkahi tanpa terlalu berlebihan ataupun sangat hemat. Kondisi ini (miskin) lebih baik daripada orang fakir. Seperti uraian ayat sebelumnya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ

Transliterasi nash:

Ammas-safīnatu fa kānat limasākīna ya’malụna fil-baḥri

Terjemah nash:

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut…” – Q.S. Al-Kahfi [18]: 79.

Pengertian fakir dan miskin berlaku apabila disebut bersamaan, yaitu “fakir dan miskin”. Demikian itu sebagaimana firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Transliterasi nash:

Innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarā`i wal-masākīni

Terjemah nash:

Sesungguhnya zakat itu hanyalah utuk orang-orang fakir, orang miskin…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Jika hanya disebutkan salah satunya, maka maknanya saling mencakup. Jika disebutkan fakir, maka orang miskin termasuk di dalamnya. Juga jika disebutkan miskin, maka orang fakir termasuk di dalamnya.

Dengan demikian kalua keduanya digabungkan maka maknanya menjadi terpisah (berbeda), dan kalau dipisahkan maka maknanya menjadi satu. Sama seperti kata “Islam” dan “Iman”.

Ke-tiga: Amil atau Amil Zakat

Ke-empat: Mu’allaf

8 golongan penerima zakat muallaf

Selanjutnya golongan yang menerima zakat adalah muallaf. Apabila dilihat dari perspektif Bahasa, maka jika dikatakan: Aliftusy syai’a atau Aliftu fulanan, maka artinya: Aku merasa akrab dengannya. Dan jika dikatakan: Allaftu bainahum, artinya: Aku menyatukan mereka setelah sebelumnya bercerai-berai.

Adapun jika dikatakan: Allafatuasy syai’a ta’lifan, artinya: Aku menyambung bagian-bagian yang terpisah. Dari kata inilah muncul istilah ta’lif al-kitab (menyusun atau menulis buku). Kata ilf sendiri artinya alif (yang disatukan).

Sedang Ta’allafahu ‘alal Islam (disatukan dalam Islam). Dari kata inilah lahir istilah mu-allafah qulubuhum “mereka yang disatukan/ didekatkan hatinya (kepada Islam).”

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya mengakrabi mereka, yakni mendekati mereka dan memberi mereka agar orang-orang kafir lainnya tertarik memeluk agama Islam.

Dengan demikian, mu-allafah qulubuhum ialah bentuk jamak dari kata muallaf, dan ia berasal dari kata ta’lif yang berarti menyatukan hati.

Kemudian apabila dilihat dari perspektif istilah maka Mu-allafah qulubuhum; ihwal kata mu-allafah, bentuk tunggalnya yaitu muallaf, yang maknanya adalah: seorang pemuka kaum yang diharapkan memeluk Islam atau dapat menghentikan gangguannya (terhadap kaum muslim).

Atau berarti orang yang baru masuk yang dengan diberikannya (zakat) diharapkan menjadi semakin kuatlah imannya. Atau agar orang yang sepertinya diharapkan masuk Islam juga, atau membantu memungut zakat daru orang yang enggan menunaikan zakat.

Ke-lima: Hamba Sahaya berhak Menerima Zakat

hamba sahaya budak

Kemuidan orang yang selanjutnya berhak menerima zakat adalah hamba sahaya atau budak. Pengertian hamba sahaya atau riqāb secara Bahasa berarti kata riqāb, bentuk tunggalnya raqabah, yang berarti leher bagian belakang paling bawah.

Bentuk jamaknya ruqub, atau ruqabāt, atau riqāb.

Kata raqabah juga berarti orang yang dimiliki (sahaya atau budak).

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfriman,

وَفِي الرِّقَابِ

Transliterasi nash:

wa fir-riqābi

Terjemah nash:

…untuk (memerdekakan) hamba sahaya…” – Q.S. At-Taubah [9]: 60.

Firman Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: “untuk (memerdekakan) hamba sahaya”, maksudnya adalah hamba sahaya mukatab. Hamba sahaya mukatab yakni mereka yang memiliki kesepakatan dengan tuannya bahwa dia harus dimerdekakan sesudah melunasi pembayaran kebebasannya.

Para hamba sahaya ini diberikan bagian zakat sekadar yang biasa/ cukup untuk membebaskan perbudakannya dan agar mereka dapat membayarkannya kepada majikan mereka.

Maka makna ayat di atas, zakat juga dapat didistribusikan untuk kepentingan membebaskan hamba sahaya.

Kemudian riqāb secara istilah adalah hamba sahaya muslim yang mukatab, yaitu seorang hamba sahaya yang membeli dirinya sendiri dari majikannya dengan pembayaran cicilan yang dibayar secara berangsur.

Mukatab berasal dari kata kitābah, yang artinya seseorang mempunyai perjanjian tertulis dengan hamba sahayanya bahwa dia akan dimerdekakan setelah melunasi pembayaran sejumlah uang dalam bentuk angsuran.

Jika hamba sahaya itu sudah melunasinya, maka dia menjadi orang merdeka. Disebut kitābat yang merupakan mashdar (bentuk dasar) kataba karena hamba sahaya tersebut menulis harganya kepada majikannya, serta majikannya menulis (yakni berjanji) membebaskannya.

Mereka bekerja demi mendapatkan uang untuk melunasi cicilan tersebut agar dapat merdeka (bebas).

Ini seperti halnya membeli hamba sahaya yang masih dimiliki oleh seseorang untuk dibebaskan, atau tatkala menebus tawanan perang.

Dari sini, jelaslah bahwasanya yang dimaksud dengan “hamba sahaya” ada tiga golongan:

Hamba Sahaya Mukatab Muslim

Hamba sahaya mukatab muslim, yaitu yang membeli dirinya sendiri dari tuannya dengan pembayaran yang dicicil.

Hamba Sahaya Tawanan Perang

Tawanan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

Hamba Sahaya Muslim Sejak Lahir

Hamba sahaya yang dia muslim atau beragama Islam sejak lahir (secara umum).

Keenam: Gharim (Orang yang Berutang)

Ketujuh: Fi Sabilillah (Yang Berjuang di Jalan Allāh)

Kedelapan: Ibnu Sabil

Maraaji’ (Senarai Pustaka)

Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani. 1439 H/ 2018 M. Ensiklopedi Zakat Mencakup Zakat Mal, Zakat Perusahaan, Zakat Fitrah dan Sedekah Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Sumber: Maraaji' (Senarai Pustaka).
Alhamdulillah. Anda telah selesai mengkaji sebuah konten ilmiah. Bacalah doa berikut ini:
Doa Kafaratul Majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampunan dan ber-taubat kepadamu.”
Hadits Pendek tentang Menunjukkan Kebaikan:

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca konten ini dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." - Shahih Muslim nomor 1893.
Konten Asli Protected by Copyscape

  1. Saat ini anda tengah membaca konten asli buatan TemanShalih.Com;

  2. Apabila anda menukil atau membuat materi turunan (scraped content, rewritten content, duplicate content) di/untuk website lain; dalam forum komunikasi tanya-jawab; untuk penulisan naskah akademis: tugas sekolah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi; pada sebagian/seluruhnya, tulislah URL aktif sebagai penunjuk konten rujukan;

  3. TemanShalih.Com proaktif melakukan monitoring terhadap konten yang telah terbit;

  4. Lihat daftar website yang copy-paste tulisan temanshalih.com
  5. Setiap konten asli yang dimuat dalam TemanShalih.Com dilindungi oleh Undang-Undang.

teman shalihhttps://temanshalih.com
Media online informasi akademik muslim dan edukasi kontra terorisme. Terbit sejak Ramadhan 1437 H/Juni 2016 M. Mengedepankan adab-adab dan kaidah ilmiah dalam membuat konten ilmiah. Jazakumullah Khairan.
KONTEN TERKAIT

3 KOMENTAR

Komentar ditutup.

- Advertisment -