HomeIntisari Cahaya IlmuTata Busana: Mengikuti Langkah Para Shahabiyah Ajma’in
tata busana

Tata Busana: Mengikuti Langkah Para Shahabiyah Ajma’in

Intisari Cahaya Ilmu Libasul Muslim 0 share

Para Shahabiyah Ajma’in (Shahabat Rasul dari kalangan perempuan)

Para Shahabiyah Radhiy-Allaahu-‘Anha memiliki sikap Bara’ (berlepas diri/menjauh) dari Tabarruj (berhias/bersolek) seperti Tabarruj-nya perempuan-perempuan jahiliyah yang pertama. Shahabiyah (Shahabat Rasulullah dari kaum hawa) tersebut adalah para ibu Shahabat Rasulullah ﷺ, para istri, atau putri-putri mereka.

Hendaknya wanita beragama Islam mengikuti langkah para Shahabiyah Ajma’in dalam urusan tata busana. Janganlah wanita yang beriman itu kemudian berhias hanya demi untuk mendapatkan predikat ‘cantik’ dari orang-orang yang bukan Mahrom atau berpenampilan mencolok sehingga menarik perhatian ajnabi (orang asing) untuk melihat dan tidak pula berhias sebagaimana berhiasnya kaum Jahiliyah dan kaum Kuffar. Wal Iyazubillah.

Allah ﷻ  telah berfirman tentang diri mereka,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

… Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya…- Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 100

Seandainya Islam mengizinkan Kaum Muslimin untuk meniru (Tasyabbuh) musuh-musuhnya sehingga menyerupai mereka, niscaya tanda-tanda Islam dan hukum-hukumnya akan lenyap, dan identitas Kaum Muslimin akan hancur, fakta yang terjadi berkata demikian di negeri-negeri kaum Muslimin. Oleh karena itu Allah ﷻ  memerintahkan Kaum Muslimin untuk konsisten (Multa’zim) berjalan di atas jalan yang lurus/Shiraat-al-Mustaqim.

Allah ﷻ  berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari Jalan-Nya.- Q.S. Al-An’aam (Binatang Ternak) [6]: 153

Dari Abdullah bin Umar Radhiy-Allaahu-‘Anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.- Hadits Hasan Shahih (Al-Albani Rahimahullaah): Sunan Abi Dawud no. 4031, Kitab Al-Libas

Allah ﷻ berfirman,

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.- Q.S. Luqman (Luqman) [31]: 15, Kitab Suci Al-Qur'an

Sungguh nilai yang besar di Sisi Allah ﷻ  bagi mereka, Kaum Muslimin, yang mengikuti perjalanan hidup Kaum Mukminin yang pertama yakni Salafuna Shalih (Pendahulu kita yang Shalih, Para Shahabat Rasulullah ﷺ).

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullaah memberikan komentar setelah menyebutkan ayat tersebut, “Seluruh Shahabat (Radhiy-Allaahu-‘Anhum) kembali kepada Allah, maka wajib mengikuti jalannya, ucapannya dan keyakinannya yang merupakan jalan-Nya yang paling besar. Allah (‘Azza Wa Jalla – Mahamulia dan Mahaagung) telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka, dan Allah mengancam orang yang menyelisihinya dengan Api Jahannam. Allah ﷻ  berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan Orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalamJahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.- Q.S. An-Nisaa (Wanita) [4]: 115, Kitab Suci Al-Qur'an

Sementara itu mengenai cadar di dalam kitabnya, Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, Abdul Hakim bin Amir Abdat ‎حفظه الله bertutur bahwa cadar hanya digunakan oleh istri-istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم saja. Mafhum bahwa mengenakan cadar hukumnya sunnat/mandhub bukan wajib.

Maraji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab Suci Al-Qur’an.
  • Abu Thalhah bin Abdus Sattar. 1429 H. Libasur Rasul ﷺ wash Shahabah Wash Shahabiyyat Ajma’in. Solo: Zamzam. (Tata Busana Para Salaf).
  • Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi. 1433 H. Kun Salafiyyan ‘alal Jaaddah. Jakarta: Pustaka at-Tazkia. (Jadilah Salafi Sejati).
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Abu Unaisah . 1436 H/2015 M. “Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin”. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidzahullaah. 1430 H. Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi. Jakarta: Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Maha al-Bunyan Rahimahullah. 1435 H. Al-Wala’ Wal Bara’. Pustaka Ibnu ‘Umar.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

1,059 total views, 2 views today