HomeCahaya IlmuBirrul WalidainKisah Inspiratif: Demi Pacarku & Untuk Ibu
rela mati demi pacar

Kisah Inspiratif: Demi Pacarku & Untuk Ibu

Birrul Walidain 0 share

Renungan – Rela Mati Demi Pacar & Untuk Ibu:

“… Maksud anda apa? Gak kayak gini caranya!”,

“Diam! Ga usah banyak bicara, anta ga suka? Kita buat laporan ke Pihak Berwajib, sekarang! (setibanya di kantor petugas) Jadi begini Pak Polisi, dia berkendara dengan ugal-ugalan, tidak tertib, dan itu berpotensi menyebabkan celaka bagi pengendara lain, oleh sebab itu saya menghentikannya di jalan!”,

Petugas mendengarkan laporan tersebut, kemudian pemuda yang lain membantah dengan emosi amarah,

“Tapi ga gitu juga caranya! Ga perlu anda pakai hantam kendaraan saya! Lepas aja itu kopiah, masa Islam kayak gitu?!”,

“Melihat cara anta berkendara, kalau tidak demikian caranya (menghantam/mengetuk sisi kendaraan), lantas cara yang bagaimana yang anta kehendaki  bagi Ana untuk menegur anta, sehingga anta mau menepi?”

Petugas mengenengahkan, “Oke oke, Jadi mas (pemuda) ini mau kemana dan dari arah mana?”

“Saya mau ke arah sini dan sini (kemudian berisyarat dengan tangan). Buang-buang waktu aja kayak gini, saya ini mau jemput pacar saya Pak (petugas)!”

Kemudian Petugas melanjutkan pertanyaannya, “Ya ya. Kalau mas yang ini (pemuda berkopiah yang membonceng ibunya) mau ke mana dan dari arah mana?”,

Yaa~SubhanAllah! Waihak! ‘Affwan, sebentar Pak (petugas)… Dan anta (pemuda) membentak orang yang sedang menjaga keselamatan ibu-nya? Sementara anta membanggakan diri yang hendak bermaksiyat?! Ajib!!!”

Dalam surat Al-Israa’ ayat 23-24, Allah ﷻ berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau dua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya mendidikku diwaktu kecil’.- Q.S. Al-‘Isra (Memperjalankan Di Malam Hari) [17]: 23-24

Tafsirnya,

Wahai manusia, Rabbmu memerintahkan, mengharuskan, dan mewajibkanmu menauhidkan-Nya ﷻ dalam beribadah, juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu, terutama di saat tua, artinya jangan mengeluh atau merasa keberatan sedikitpun terhadap sesuatu yang kau lihat ada pada salah satu atau keduanya; jangan mengucapkan perkataan yang terdengar buruk di telinga keduanya, bahkan sekadar ucapan, ‘Cih…’ yang merupakan seringan-ringan ucapan buruk dan jangan sampai melakukan perbuatan buruk kepada keduanya, tetapi bersikaplah sopan dan ucapkanlah selalu ucapan yang lembut kepada keduanya. Bersikaplah rendah hati kepada ibu dan ayahmu sebagai bukti kasih sayangmu kepada keduanya. Mohonlah kepada Rabb-mu agar menyayangi keduanya dengan kasih sayang-Nya yang luas, baik ketika mereka berdua masih hidup maupun setelah meninggal dunia, sebagaimana mereka bersabar mendidikmu saat masih kecil yang lemah daya dan kekuatannya.- Q.S. Al-‘Isra [17]: 23-24, Kitab At-Tafsir Al-Musyassar mushaf Al-Madinah (At-Tafsirul Muyassaru)

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah ﷺ  bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.- Hadits Hasan: Riwayat At-Tirmidzi no. 1899

Dari Shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه‎‎   bahwasanya ada seseorang yang datang menemui Nabi   meminta izin untuk berjihad. Maka Nabi ﷺ bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” dia menjawab, “Iya.” Lalu Nabi ﷺ bersabda,

فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Berjihadlah (dengan berbakti) kepada keduanya.- Hadits Shahih: Riwayat Al-Bukhari no. 3004, Muslim no. 2549, Abu Dawud no. 2529, dan an-Nasa’i

Dari Sa’id ibn Zaiyd, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barangsiapa yang terbunuh mepertahankan hartanya maka ia Syahid, dan siapa yang terbunuh mempertahankan keluarganya, atau nyawanya, atau agamanya maka ia Syahid.- Hadits Shahih (al-Albani): Riwayat Abud Dawud no. 4772

Dari  ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Diampunkan semua dosa orang yang mati Syahid, kecuali hutang.- Hadits Shahih: Riwayat Muslim no. 1886

Betapa indah dan begitu besar tambahan pahala (Az-Ziyaadah) apabila pengorbanan yang dilakukan oleh seorang muslim diletakkan sesuai dengan Haq nya, bukan berdasar kepada nafsu syahwat yang menyebabkan dirinya mengikuti jalan-jalan ketaatan kepada Syaithan.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[1] Kitab Suci Al-Qur’an

[2] Kitab At-Tafsir Al-Muyassar Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyah

[3] Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Ustadz Yazid Hafizhahullaah). Birrul Walidain; Berbakti Kepada Kedua Orangtua. 1433 H. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

[4] Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Ustadz Yazid Hafizhahullaah). Jihad Dalam Syari’at Islam. 1432 H. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

[5] Syaikh Syarafuddin bin Khalaf ad-Dimyathi. Al Matjar Ar-Raabith Fi-Tsawaabil A’malis-Shaalih; Ensiklopedi Pahala. 1432 H. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

1,068 total views, 12 views today