HomeIntisari Cahaya IlmuRambu-Rambu Dakwah
adab berdakwah, dakwah

Rambu-Rambu Dakwah

Intisari Cahaya Ilmu Nasihat 0 share

Islam adalah Agama yang Universal, syari’atnya lengkap dan tuntas mengatur kehidupan bani adam (manusia). Mafhum makan dan minum ada adabnya, keluar masuk masjid ada adabnya, menasehati ada adabnya, menuntut ilmu ada adabnya, dan seterusnya. Maka berdakwah menyeru kepada Tauhid, Menafikan Kemunkaran dan Mengajak kepada Ketaatan sudah barang tentu ada adabnya.

Bisa jadi seseorang itu tidak senang dengan tingkah laku dan tabi’at para pemuda akhir ini, hal ini sejalan dengan kadar keimanan yang ada di dalam hatinya. Tentu orang yang beriman (dengan kadar keimanan yang mutlak) tidak akan pernah mencintai hal-hal yang bertentangan dengan fitrah dan akal sehat. Namun demikian perlu diketahui bahwa perubahan-perubahan psikologis yang terjadi pada kalangan remaja (masa puber) dianggap sebagai fenomena alami yang juga turut di dalamnya perubahan fisik, daya pikir, yang kemudian diakhiri dengan kestabilan. Maka para pembimbing, para ayah – ibu, hendaknya tidak tergesa-gesa dalam memvonisnya sebagai kemerosotan moral.

adab berdakwah, dakwah

temanshalih.com telah berganti tagline menjadi, “Hijrah yang Shahih, Hijrah sesuai Sunnah” InsyaAllah.

Sebab ada kalanya bagi seorang Muslim membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencintai Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) dan Rasul-Nya ﷺ artinya perlu petunjuk yang lurus sesuai Sunnah yang Shahih dan perlu waktu tertentu bagi setiap orang beragama Islam, Muslim, untuk menumbuhkan sebenar keimanan di dalam hatinya yang pada akhirnya menampilkan ketaatan secara zhahir.

Hal tersebut perlu diiringi dengan optimalisasi fungsi masjid, majelis ilmu dan ragam media publikasi untuk secara bertahap dan berlanjut mengingatkan para pemuda akan keutamaan menjaga keimanan dan bahaya / ancaman atas perbuatan dosa-dosa besar. Sebab menghilangkan kemaksiatan yang sudah mendarah daging tentu akan lebih sulit.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Keberhasilan Arab Saudi menjaga Tanah Suci Makkah.

Tidaklah seseorang berhujjah, berdalil yang tepat, dengan disampaikan dengan haq kecuali agar orang lain turut dalam langkah ketaatan, bukan untuk membuat orang lain berpaling dari ketaatan (/menolak dalil).

Untuk itu, maka seorang muslim perlu memenuhi adab-adab dalam berdakwah. Di antaranya yakni:

[1] Menjaga Lisan sebab kesanggupan seseorang untuk berbicara adalah Nikmat dari Allah Ta’ala, maka keutamaan bagi seorang Muslim untuk menggunakan lisannya dalam bertutur yang lembut yang syarat akan faedah ilmiyah: ~lihat Q.S. Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 70-71, Q.S. Al-Hujarat (Kamar-kamar) [49]: 12, Q.S. Qaf [50]: 16-18

Dalam sebuah riwayat,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنَعَ وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Allah telah melarangmu, (1) mengingkari permintaan ibumu, (2) mengubur anak perempuan hidup-hidup, (3) tidak memenuhi hak orang lain (membayar zakat, dan selainnya), (4) meminta-minta kepada orang lain (mengemis). Dan Allah membenci (1) berbuat yang sia-sia, pembicaraan kosong, atau dirimu terlalu banyak membicarakan orang lain, (2) banyak bertanya dan (3) membuang-buang harta secara berlebihan.- Shahih al-Bukhari no. 2408

[2] Menghindari Tajassus (/memata-matai saudara muslimnya): ~lihat Q.S. Al-Hujarat (Kamar-kamar) [49]: 12

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan Tajassus? Bolehkah seorang guru tajassus?

[3] Giat dan Sungguh-sungguh dalam Menuntut Ilmu (Agama), (daripada sibuk mencela dan mentahdzir (/mengucilkan) orang lain), agar dirinya mendapat faedah ilmu dan memberikan faedah, mendapat manfaat dan bermanfaat: ~lihat Q.S. Al-Mujaadilah (Wanita yang Mengajukan Gugatan) [58]: 11, Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 122

Dalam sebuah riwayat,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi baik, maka akan diberi kefahaman dalam perkara agama.- Shahih al-Bukhari no. 71

[4] Adapun untuk tambahannya, renungkanlah kaidah masyhur di dalam fiqh; “Menolak mafsadah Didahulukan daripada Mendatangkan manfaat“: ~lihat Q.S. Al-An’am (Binatang Ternak) [6]: 108

Wahai kaum muslimin, janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang diibadahi oleh orang-orang musyrik -sebagai tindakan kehati-hatian- agar tidak menyebabkan mereka memaki Allah secara bodoh dan membabi buta tanpa dasar ilmu. …- Q.S. Al-An'am (Pertolongan) [6]: 108, Kitab At-Tafsir Al-Musyassar mushaf Al-Madinah (At-Tafsirul Muyassaru)

[5] Seorang Muslim harus mengetahui betul kondisi psikologis dan latar belakang ilmu yang dimiliki oleh saudara Muslimnya yang lain, sehingga dirinya tidak salah dalam mengatur strategi dalam berdakwah/menyampaikan nasehat. Sebab keadaan satu orang berbeda dengan orang yang lain, baik itu berupa kemampuan dalam mengamalkan agama atau kekuatan hatinya dalam memahami dalil-dalil. Hendaklah bermudarah dan berdakwah dengan asas Dakwah bil Hikmah.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan mudarah dan mudahanah?

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[1] Kitab Suci Al-Qur’an.

[2] Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. 1428 H (2007 M). KUN SALAFIYYAN ‘ALAL JAADDAH. Jakarta: Pustaka At-Tazkia.

[3] Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. 1426 H (2006 M). SYARH HILYAH THAALIBIL ‘ILMI. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

[4] Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr. 1430 H (2009 M). RIFQAN AHLAS SUNNAH BI AHLIS SUNNAH. Bogor: Pustaka Darul Ilmi.

[5] Dr. Hamud bin Ahmad Ar-Ruhaili. 1435 H (2014 M). QAWA’IDU MUHIMMAH FIL AMRI BIL MA’RUF WAN NAHYI’ANIL MUNKAR ALA ZHAU-IL-KITAB WAS SUNNAH. Solo: At-Tibyan.

[6] Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullaah. 1409 H (1988 M). KITAABUL IMAN. Beirut: Dar Ihya’ Al-Ilmu.

[7] Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

915 total views, 2 views today