HomeCahaya IlmuHal Apa Saja yang Harus Dipenuhi agar Seorang Muslim Mahir dalam Berakhlak?
bergurau, bercanda, teman shalih, adab bergurau sesuai sunnah

Hal Apa Saja yang Harus Dipenuhi agar Seorang Muslim Mahir dalam Berakhlak?

Cahaya Ilmu Nasihat 0 share

Ada 4 (empat) hadits yang dapat menolong seorang muslim agar dirinya memiliki kemahiran dalam berakhlaq. Dalam menjaga tutur kata, dalam menjaga sikap, dalam menjaga emosi, dan juga ketika dirinya harus tulus mencintai atau bergaul dengan seseorang.

1. Kemahiran dalam Bertutur Kata.

Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari, Muslim)

Hadits tersebut berbicara tentang anjuran kepada seorang muslim untuk memiliki kemahiran dalam bertutur kata. Ketika dirinya berbicara, maka ia harus berpikir sejenak, apakah substansi (inti) perkataan yang hendak disampaikan baik atau tidak, apakah nantinya dapat membawa dampak yang baik atau justru sebaliknya (yakni menimbang antara manfaat dan mafsadah/kerusakan yang disebabkan).

#TemanShalih #HijrahYangShahih #teman #sahabat

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on

Kalau ternyata baik, ia pun tidak serta merta langsung menyampaikan perkataannya, akan tetapi harus dibungkus dengan untaian kata dan cara yang baik yang baik dan pas pula. Karena perkataan yang baik jika dikatakan secara tidak pas, berpotensi menyakiti perasaan orang yang diajak bicara/lawan bicara. Sebab substansi yang baik, jika disampaikan dengan cara yang tidak baik, maka akan berbuah hal yang tidak baik pula. Sebaliknya, jika substansi perkataan kita tidak baik, maka sebaiknya kita diam, karena tidak akan mendatangkan manfaat walaupun dihiasi dengan untaian kata dan cara yang baik.

Masyhur sebuah nasihat terdahulu yang berbunyi, “Berhati-hatilah terhadap kesesatan manusia walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah.”

2. Kemahiran dalam Bersikap.

Ini merupakan kunci kedewasaan seseorang. Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
(HR. At-Tirmidzi)

#TemanShalih #HijrahYangShahih #teman #sahabat

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on

Berlama-lama dengan permainan-permainan yang mubah (hal yang diperbolehkan), berlama-lama bermain HP dan gadget semisal untuk hal yang tidak perlu. Perkara-perkara seperti dimaksud, sebaiknya ditinggalkan dan seorang muslim itu menjauh darinya.

3. Kemahiran dalam Mengendalikan Jiwa.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah ‎رضي الله عنه‎‎ bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ‎صلى الله عليه وسلم : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi  ‎صلى الله عليه وسلم bersabda: “La Tagh-Dhob; Jangan marah!”
(HR. Bukhari)

#TemanShalih #HijrahYangShahih #teman #sahabat repro @hijabformen

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on


Setiap bani Adam (manusia) memiliki emosi (amarah, red.), karena dengan marah ini lah seorang muslim dapat menegakkan al-‘amr bil ma’ruf wan nahi anil munkar (amar ma’ruf nahi munkar; menyeru kepada ketaatan/kebaikan dan menafikan kelalaian/kemunkaran), dengan marah ini pula lah seorang muslim itu dapat menegakkan Jihaad fii Sabilillaah, begitu pula ketika ia melihat dan mendengar bahwa Islam dilecehkan. Namun tentunya amarah tersebut idealnya kendalikan dengan cara yang baik.

4. Kemahiran dalam Bermuamalah.

Ketika seorang muslim bermuamalah, bergaul dengan siapapun maka pergaulan semestinya tulus benar-benar untuk menjalin silaturahmi (antara anggota keluarga/nasab) dan ukhuwah islamiyah, dan tulus untuk sama-sama memberikan keuntungan baik dunia maupun akhirat, serta tulus dalam rangka merajut ukhuwah islamiyah (terminologi/istilah ‘ukhuwah islamiyah’ berlaku di antara orang-orang muslim yang tidak ada hubungan darah/nasab/keturunan).

Dinukil dari: Ma’had Al-Irsyad, Tengaran – Salatiga. #temanshalih #hijrahyangshahih #teman #sahabat

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on

Sehingga ketika ia mencinta, maka ia mencinta karena Allah عزَ وجل (Mahabbah Fillah). Dan ketika ia harus membenci, maka ia membenci karena Allah عزَ وجل (secara khusus hal ini diatur dalam aqidah Al-Wala’ wa Al-Bara’). Tidak hanya faktor kepentingan dunia semata, akan tetapi juga kepentingan akhirat. Dan ini semua tidak akan terwujud kecuali dengan kecintaan kita karena Allah عزَ وجل, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sampai ia suka sekali berbuat yang baik kepada saudaranya, sebagaimana dia suka diperlakukan baik pula oleh saudaranya.”
(HR. Bukhari, Muslim)

Jika seorang muslim senang ketika orang lain berbuat baik kepada dirinya, maka sebaliknya ia pun harus gemar berbuat baik pula kepada orang lain.

#TemanShalih #HijrahYangShahih #teman #sahabat

A post shared by temanshalih.com (@teman_shalih) on

Demikian, maka barangsiapa yang memiliki 4 (empat) kemahiran ini dalam hidupnya, maka kehidupannya insyaAllah akan nyaman dan tentram, hampir-hampir tidak memiliki musuh, meskipun keridhoan orang-orang bukanlah target yang mampu digapai seluruhnya. Namun jika seorang Muslim memenuhi 4 (empat) hal ini dengan ikhlas lillahi ta’ala, maka Allah عزَ وجل akan selamatkan kita dari hasadnya orang-orang.

Wallahu a’lam bishawab.

Dinukil dan disunting oleh temanshalih.com dari: pesantrenalirsyad.org

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

503 total views, 10 views today