HomeCahaya IlmuKain/Celana Melebihi Batas Mata Kaki, Tempatnya di Neraka

Kain/Celana Melebihi Batas Mata Kaki, Tempatnya di Neraka

Cahaya Ilmu 0 share

Tata Busana Muslim (Setiap Laki-laki beragama Islam) – “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla Tidak Mencintai Setiap Orang Yang Musbil.

Dari Mughirah bin Syu’bah, dia mengatakan, Pada suatu hari Rasulullah ﷺ  bersabda, Hai Sufyan bin Sahl! Janganlah kamu isbal, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang Musbil’.” ~Hadits Hasan Lighairihi: Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baghawi dalam al-Ja’diyyat.

Musbil adalah orang yang memanjangkan kain sarungnya atau celananya atau gamisnya melebihi atau melewati dua mata kaki. Sementara itu, tidak dikatakan musbil apabila panjang kainnya sebatas mata kaki, atau di atasnya.

Dari Humaid, dari Anas Radhiy-Allaahu-‘Anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda,Kain itu (batas panjangnya) sampai setengah betis serta kedua mata kaki. Tidaklah ada kebaikan yang di bawah itu (yang di bawah mata kaki).” ~Hadits Shahih: Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya (III/140, 249, 256, 12424, 13605, 13692)

Tata busana yang baik mencerminkan kesesuaian seseorang dengan derajatnya sebagai manusia yang beradab, sementara itu tolak ukur dalam berbusana bagi seorang Muslim tidak lain wajib baginya untuk mengikuti Sunnah, dalam hal ini mengikuti sifat (karakter) berbusananya Salafuna Shalih (Pendahulu Kita yang Shalih) yakni Orang-orang Mukmin yang Pertama yakni Khulafaur-Rashidin, Para Shahabat Rasulullah ﷺ, karena merekalah orang-orang yang paling mengetahui dan yang paling dekat jaraknya dengan Sunnah Rasul-Nya, dan orang-orang pada qurun selanjutnya (waktu/masa sesudahnya) yang mengikuti jalannya yang lurus.

Sunnah yang dimaksud disini adalah perkara Aqidah Sunnah (keyakinan dalam beragama sesuai dengan Sunnah, petunjuk Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi Wa Sallam), bukan Sunnat dalam arti yang biasa dikenal Fiqh Islam (Hukum Islam) yaitu yang hukumnya tidak wajib.

Allah ‘Azza wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” ~Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 21

Mencontoh Nabi ﷺ dalam setiap urusan adalah amalan yang dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung), termasuk di dalamnya adalah ittiba’-ur-Rasul (mengikuti Sunnah Rasul) dalam berbusana. Karena orang yang mencintai akan senantiasa mengikuti perilaku yang dicintainya (Rasulullah), dikarenakan kecintaan kepadanya. Hal ini telah diketahui oleh orang-orang yang memiliki Cinta Sejati dan yang Berpengetahuan.

Allah Ta’ala berfirman,

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“… Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat Kemenangan yang Besar.” ~Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) [33]: 71

Dalam sebuah riwayat dari Al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiy-Allaahu-‘Anhu, dari Nabi ﷺ, disebutkan, Barang siapa di antara kalian yang hidup (setelahku), maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan apa yang kalian ketahui dari Sunnahku dan Sunnah Kulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.” ~Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 44, bab Ittiba’ Sunnati Rasulillah Shallallaahu ‘Alayhi Wa Sallam

Di antara sebab datangnya perintah ini (larangan isbal) adalah untuk Bara’ (berlepas diri) dari kaum kuffar, banyak sekali dalil-dalil mengenai keharaman tasyabbuh (menyerupai) terhadap kaum kuffar secara Zhahir di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini karena tasyabbuh secara Zhahir akan membawa tasyabbuh dalam aqidah (keyakinan), mencintai mereka, mengikuti perjalanan mereka dan akhirnya bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” ~Hadits Hasan Shahih (Al-Albani Rahimahullaah): Sunan Abi Dawud no. 4031, Kitab Al-Libas

Hal ini terbukti dari keadaan yang dapat dilihat dari sebagian kaum Muslimin akhir ini, hampir dalam segala hal kaum Muslimin telah menyerupai kaum kuffar, kecuali mereka yang dirahmati Allah Ta’ala.

Tasyabbuh (penyerupaan) ini dapat dilihat dalam beberapa hal yang sering dijumpai yakni ritual perayaan ulang tahun, ritual perayaan tahun baru Islam & masehi, dan ritual perayaan selainnya (terkeculai Eid ul Adh-ha/Hari Raya Qurban & Eid Ul Fitr/Hari Raya Berbuka Puasa), makan sambil berdiri, mencukur jenggot, penyerupaan dalam tata busana, membuat musik-musik ‘Islami’, dan hal-hal haram (terlarang) lainnya.

SubhanAllah, Mahsuci Allah dari kedustaan yang diperbuat manusia. Segala puji bagi Allah, yang dengan sebab atau berdasarkan nikmat-Nya saja segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat serta salam atas Nabi yang mulia ﷺ.

Sumber Kitab:

[1] al-Qur’an-ul-Karim

Kitab Hadits:

[1] Zaad-al-Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, bab Pakaian, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

[2] Bulugh Al-Maram Min Adillah al-Ahkam, bab Pakaian, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani

[3] Subul-aS-Salam Syarah Bulugh Al-Maram, bab Pakaian, Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani

Lain-Lain:

[1] Al Masaa- il, Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidzhahullaah

[2] Haramnya Isbal, Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidzhahullaah

[3] Al Wala’ wal Bara’, Maha al-Bunyan Rahimahullaah

[4] Libasur Rasul wash Shahabah wash Shahabiyyat Ajma’in, Syaikh Abu Thalhah bin Abdus Sattar

595 total views, 6 views today