HomeCahaya IlmuGelar Suamiku “Doktor”,”PhD” dia seorang Eksekutif (?!)
gelar suamiku doktor

Gelar Suamiku “Doktor”,”PhD” dia seorang Eksekutif (?!)

Cahaya Ilmu 0 share

Ada banyak motivasi bagi para lelaki yang mereka iltizam/konsisten dalam semangat menuntut suatu disiplin pengetahuan hingga tingkatan tertentu atau dalam kalimat lain dapat dikatakan “memperoleh gelar tertentu”. Namun tidak semuanya berorientasi pada target keduaniaan semata, yakni menjadikan gelar akademik sebagai dasar untuk mendapatkan pekerjaan atau posisi profesional dengan gaji yang tinggi.

Lantas motivasi apa yang sesungguhnya menjadi dasar dalam menuntut ilmu dan pengetahuan?

Satu di antaranya adalah motivasi untuk mengisi waktu hidup dengan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan menyelamatkan bagi kehidupan akhirat (dan ini adalah tujuan utamanya).

Alangkah ideal tatkala ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tercermin dalam tabi’at dan akhlaqnya yang semakin membaik seiring berlalunya waktu dan bertambahnya wawasan yakni berusaha betul mengikuti Uswatun Hasanah yang ada pada diri Rasulullah shalallaahu-‘alayhi-wa-sallam. Menjadi indah tatkala orang-orang di sekitarnya merasa nyaman, bahagia, dan banyak memperoleh manfaat darinya, terutama orang-orang yang mencintainya dan merupakan tanggungan hidupnya.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Bagaimana Cara agar Meraih Beasiswa, Uang Bulanan serta fasilitas kehidupan lainnya di Universitas Islam Madinah?

Lelaki yang baik (yang karakteristiknya sesuai atau mendekati apa yang dikehendaki syari’at) tentu tidak membuat orang tuanya, istrinya, anak-anaknya merasa minder dan rendah diri disebabkan sikapnya yang angkuh dan bahasanya yang mengintimidasi tatkala istri dan anggota keluarganya berbuat kurang atau berbuat salah.

Mafhum (diketahui) sebagaimana setiap suami ingin dihormati dan disanjung, ketahuilah bahwa para istri juga ingin dibimbing dengan bahasa yang lembut dan memanjakan.

Catatan Penting:

  • Kekuatan akal pikiran seseorang bukanlah alat untuk merendahkan orang lain/Ghamtun-Nas/al-Ghamt.
  • Ciri dari seseorang yang menuntut ilmu yang bermanfaat adalah terjadinya perbuhana kadar akhlaq menuju akhlaqul karimah (akhlaq yang mulia) merujuk kepada Uswatun Hasanah yang ada pada diri Rasulullah shalallaahu-‘alaihi-wa-sallam.
  • Waktu adalah modal dan kehidupan.
  • Waktu muda seseorang memiliki kadar hisab yang jauh lebih berat dibanding masa tua nya.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

410 total views, 14 views today