HomeCahaya IlmuDasar Hukum Jihad Fii Sabilillaah (bagian 2): Dari Fardhu Kifayah menjadi Fardhu ‘Ain
dasar hukum jihad

Dasar Hukum Jihad Fii Sabilillaah (bagian 2): Dari Fardhu Kifayah menjadi Fardhu ‘Ain

Cahaya Ilmu Jihad 0 share

dasar hukum jihad

Saat ini temanshalih.com telah berganti tagline menjadi, “Hijrah yang Shahih, Hijrah sesuai Sunnah.”

Pertanyaan:

Hukum jihad qital yakni Fardhu Kifayah dapat berubah menjadi Fardhu ‘Ain jika keadaan kaum Muslim dalam keadaan diserang di negerinya. Bagaimana penjelasannya?

Jawaban:

Status hukum Jihad fii Sabilillaah yang semula Fardhu Kifayah dapat berubah menjadi Fardhu ‘Ain pada 3 (tiga) kondisi:

[i] Apabila pasukan Muslimin dan pasukan orang-orang kafir bertemu dan sudah saling berhadapan di medan perang, maka tidak boleh seseorang mundur atau berbalik.

Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) berfirman,

وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Allah. Tempatnya ialah Neraka Jahannam, dan seburuk-buruk tempat kembali.- Q.S. Al-Anfaal (Harta Rampasan Perang) [8]: 16, Kitab suci Al-Qur'an

[ii] Jihaad Ad-Difaa’/Jihad Defensif/Posisi Bertahan; Apabila musuh menyerang dan mengepung suatu negeri kaum Muslimin yang aman, maka wajib bagi penduduk negeri tersebut untuk keluar memerangi musuh, kecuali wanita dan anak-anak.

[iii] Apabila Ulil Amri/Pemerintah Muslim menentukan sejumlah orang untuk berangkat perang, maka wajib berangkat.

Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

إِلَّا تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan adzab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.- Q.S. At-Taubah (Pengampunan) [9]: 38-39, Kitab suci Al-Qur'an

Sementara jihad itu sendiri diwajibkan atas; [i] Setiap Muslim, [ii] Baligh, [iii] Berakal, [iv] Merdeka, [v] Laki-laki, [vi] Mempunyai kemampuan untuk berperang, [vii] Mempunyai harta yang mencukupi baginya dan keluarganya selama kepergiannya dalam berjihad.

Tidaklah sama kondisi kekuatan aqidah/keyakinan beragama dan kekuatan militer antara satu negeri Muslim dengan negeri Muslim lainnya. Artinya apabila seorang Muslim tinggal di dalam negeri yang aman maka keutamaan baginya untuk menaati pemerintah Muslim yang berkuasa di negerinya, selama pemimpin tidak memerintahkan untuk bermaksiyat kepada Allah Ta’ala dan keutamaan bagi seorang Muslim untuk mengamalkan dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu agama, mengamalkannya, dan istiqamah di atas Sunnah, bersabar dan memaafkan kesalahan manusia.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan Tajassus?

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah Rahimahullaah berkata, “Jihad itu walaupun hukumnya fardu kifayah, tetapi seluruh kaum Mukminin diwajibkan (untuk berjihad) pada awalnya, jadi wajib bagi mereka meyakini (di dalam hati) kewajiban jihad dan bertekad untuk berjihad jika telah ditentukan (jihad).

Karena itulah Nabi ﷺ bersabda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ الأَنْطَاكِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ وُهَيْبٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ سُمَىٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ ابْنُ سَهْمٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ فَنُرَى أَنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.- Hadits Shahih: Riwayat Imam Muslim no. 1910, Imam Abu Dawud no. 2502, Imam an-Nasa'i (VI/8), Imam Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه‎‎.

Beliau ﷺ mengabarkan bahwa orang yang tidak ada tekad untuk berjihad dalam dirinya, maka itu termasuk dalam satu cabang kemunafikan. Jihad juga termasuk suatu jenis perbuatan yang banyak macam-macamnya, maka sudah seharusnya Seorang Mukmin wajib melakukan satu macam dari macam-macam jihad tersebut.”

KETAHUI LEBIH LANJUT: Rambu-Rambu Dakwah!

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  1. Kitab suci Al-Qur’an.
  2. Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzhahullaah. 1432 H (2011 M). Kedudukan Jihad dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

791 total views, 27 views today