HomeIntisari Cahaya IlmuBuku IlmiahDahsyatnya Ikhlas Bahayanya Riya’ (Bag. I)
dahsyatnya ikhlas bahayanya riya toko buku as-salam pontianak

Dahsyatnya Ikhlas Bahayanya Riya’ (Bag. I)

Buku Ilmiah Intisari Cahaya Ilmu 0 share

Dikatakan oleh Ath-Thabari mengenai riya’, “Ia termasuk di antara bencana yang paling besar bagi jiwa, jebakan yang paling tersembunyi, yang dapat menjangkiti Ulama (para ‘Alim) dan ahli ibadah, dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan akhirat.

Sesungguhnya meskipun mereka memaksakan diri dan memisahkannya dari syahwat, serta membentengi diri mereka dari syubhat, niscaya nafsu mereka tidak mampu menahan tamak untuk melakukan maksiyat yang zahir, yang dilakukan oleh anggota badan, sehingga nafsu itu menuntut ketenangan dengan berpenampilan baik serta menampakkan ilmu dan amal, maka nafsu itu menemukan jalan keluar dari sulitnya berupaya keras menuju nikmatnya (riya’) diterima di sisi makhluk, dan ia tidak merasa puas dengan penglihatan Sang Pencipta, ia merasa senang dengan pujian manusia dan tidak merasa puas dengan pujian Allah ﷻ semata.

Maka ia merasa suka dengan pujian dan ucapan selamat dari mereka dengan kehadiran, pelayanan, penghormatan, dan pengutamaan terhadapnya di majelis pesta sehingga dalam hal itu nafsu ditimpa kenikmatan dan syahwat yang paling besar, dan dia mengira bahwasanya hidupnya itu adalah karena Allah ﷻ dan untuk ibadah kepada-Nya, padahal hidupnya itu hanyalah syahwat yang tersembunyi yang tidak disadari oleh akal-akal yang cemerlang, namanya telah ditetapkan di sisi Allah ﷻ di jajaran orang-orang munafik, dan dia mengira bahwasanya dirinya termasuk di antara hamba-hamba yang didekatkan di sisi Allah ﷻ.”

Ini adalah jebakan bagi nafsu yang tidak ada seorangpun yang dapat selamat darinya, kecuali para Shiddiqin. Oleh karena itu dikatakan, “Hal terakhir yang keluar dari kepala para Shiddiqin adalah kecintaan kepada kepemimpinan.”

[testimonial_view id=3]

Al-Fudhail berkata, “Jika dikatakan kepadamu, ‘Wahai orag yang berbuat Riya’, lalu engkau marah dan itu berat bagimu, maka bisa jadi yang dikatakan kepadamu itu benar adanya. Engkau berhias untuk dunia, berpura-pura melakukan sesuatu, bersahaja dalam pakaianmu, membaguskan sifatmu, dan menahan sifat jelekmu agar dikatakan, ‘Abu Fulan adalah seorang ahli ibadah, alangkah baiknya akhlaqnya,’ sehingga mereka memuliakanmu, mendatangimu, dan memberimu hadiyah.”

Nu’aim bin Hammad berkata, “Pecutan cambuk adalah lebih ringan bagiku daripada niyat yang shalih.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi berkata, “Sesuatu yang paling berharga di dunia adalah ikhlas. Betapa lamanya aku berjuang untuk menyingkirkan riya’ dari dalam hatiku, namun seolah-olah ia selalu tumbuh kembali dalam warna yang lain.”

Maraaji’:
Dr. Ubaid bin Salim al-Amri. 1436 H/2015 M. Min Rawa’i al-Mukhlisin (Dahsyatnya Ikhlas, Bahayanya Riya’). Jakarta: Darul Haq. hlm. 29-31

Judul buku: Dahsyatnya Ikhlas, Bahayanya Riya’Penulis: Dr. Ubaid bin Salim al-Amri | Penerbit: Darul Haq, Jakarta. | Halaman: 129 hlm. | Sampul: Soft Cover Harga: Rp. 28.000,- (Tunjukkan halaman ini untuk mendapatkan potongan harga menjadi Rp. 25.000)

Dapatkan di:
Toko As-Salam
Maktab As-Salam – Mulia Dengan Sunnah – Media Rujukan Buku-buku Muslim Pontianak
⬛  Jl. Wonobaru, Gg. Remaja 2, No. 22, Pontianak.
✔ WhatsApp: (+62) 856-5422-4518  Sudiono ibnu Salam
✔ Telepon & SMS: (+62) 811-579-367
✔ e-Mail: as-salam@festivalmadinah.com
✔ Website: as-salam.festivalmadinah.com

1,100 total views, 3 views today