HomeIntisari Cahaya IlmuDari cincin Nikah hingga cincin Rasulullah
cincin mahar

Dari cincin Nikah hingga cincin Rasulullah

Intisari Cahaya Ilmu 0 share

“Cincin Nikah?” apabila suatu kaum/masyarakat meyakini nilai formil dari suatu benda tanpa dasar yang syar’i, maka yang demikian itu dapat merusak aqidah (keyakinan beragama) mereka.

Misal, seorang lelaki menggunakan cincin (berbahan tembaga, perak, dan-atau selain emas) biasanya dianggap bahwa ia sudah menikah, minimal dianggap sudah punya calon istri. Apa dasarnya? Ternyata anggapan ini diambil dari sifat dan acara hidup dan beragamanya kaum kuffar baik yang di barat maupun di timur, yang hidup di dalam mereka ritual pra-nikah berupa tukar cincin berukir nama calon pengantin, fenomena tasyabbuh (meniru) ini membuat cara hidup dan beragama mereka (sebagian pemuda muslim) berjalan di atas nilai-nilai agama kaum kuffar dan jauh menyelisihi apa yang dikehendaki Syara’ (Agama).

KETAHUI LEBIH LANJUT: Muroja’ah Online Bab Nikah.

Padahal cincin di dalam Islam hanya sebatas pelengkap tata busana, yang berfungsi sebagai perhiasan apabila dipakai oleh kaum perempuan.

cincin Rasulullah Rasulullah ﷺ menggunakan cincin perak yang diukir dengan tulisan مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ الله   “Muhammad Rasulullah,” yang cincin itu berfungsi sebagai stempel surat. Beliau ﷺ menggunakan cincin di tangan kanan (dalam keterangan lain juga disebut jari kelingking tangan kiri) dan meletakkan mata cincin di bagian dalam telapak tangan. Beliau ﷺ melarang orang lain untuk membuat cincin yang serupa dengan itu dan melarang menggunakan cincin pada jari telunjuk dan jari tengah.

Faedah:

[1] Cincin hanya sebatas pelengkap tata busana muslim/libas-ul-muslim, dalam kesempatan lain cincin dapat berfungsi sebagai mahar/maskawin,

[2] Ikatan pinangan dan pernikahan tidak dapat disimbolkan dengan cincin yang digunakan pada jemari tangan seseorang, pinangan dan nikah hanya dapat terjadi dengan akad yang di dalamnya terdapat;

  • menyatakan dengan kalimat yang jelas kepada orang tuanya bahwa ia ingin menikahi anak gadis-nya (akad pada saat khitbah) dan
  •  ijab dan qabul (akad nikah).

[3] Tidak ada istilah “tukar cincin” dalam khitbah/melamar sebagai tanda diterimamya lamaran, sebagaimana yang dipercaya dan diamalkan oleh sebagian pemuda muslim diwaktu sekarang ini. Sebab yang demikian itu merupakan bentuk tasyabbuh (meniru) sifat dan cara hidupnya orang-orang kafir.

[4] Dibolehkan memberikan hadiah dan-atau saling memberi hadiah,

‎تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

Tahadu, Tahabbu.”; “Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” ~Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 594 (الأدب المفرد)

[5] Mahar tidak harus selalu berupa cincin emas, bisa juga berupa mas batangan (kalau sanggup), artinya mahar/ash-shadaaq/mahr/nihlah/maskawin tidak harus berupa sesuatu yang dapat dipakai di jemari tangan.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Ustadz Abu Muhammad & Ibnu Shalih bin Hasbullah. Sejak Memilih, Meminang, Hingga Menikah Sesuai Sunnah. Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar. ~Buku Saku, dijelaskan secara ilmiyah dan ringkas, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca usia remaja.
  • Syaikh Abu Thalhah bin Abdus Sattar. Libasur Rasul wash Shahabah wash Shahabiyyat Ajma’in (Tata Busana Para Salaf), bab Cincin.
  • Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani Rahimahullaah. Subul-aS-Salam Syarah Bulugh Al-Maram, bab Nikah.
  • Shahih Al-Bukhari.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

1,067 total views, 2 views today