HomeCahaya IlmuBirrul WalidainBerbakti kepada Orangtua atau Pergi Berjihad?
birrul walidain atau jihad, berbakti kepada orangtua atau jihad, jihad

Berbakti kepada Orangtua atau Pergi Berjihad?

Birrul Walidain Cahaya Ilmu Jihad 0 share

birrul walidain atau jihad, berbakti kepada orangtua atau jihad, jihad

Saat ini temanshalih.com telah berganti tagline menjadi, “Hijrah yang Shahih, Hijrah sesuai Sunnah”, InsyaAllah.

Pertanyaan:

Bagaimana jika ada seseorang yang berniat Jihad (dalam arti khusus yakni jihad qital/jihad berperang dengan senjata) tetapi orang tuanya melarang. Manakah yang dipenuhi, berbakti kepada orang tua/birrul walidain atau ia tetap pergi untuk berperang?

Jawaban:

Bismillah.

Dasar hukum Birrul Walidain/Berbakti Kepada Orangtua adalah Fardhu ‘Ain.

Dalil dari al-Qur’an,

Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya mendidikku diwaktu kecil’.” ~QS. Al-Israa’ [17]: 23-24

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya. ~QS. An-Nisaa’ [4]: 36

Sementara dasar hukum Jihad Fii Sabilillaah dalam arti khususnya yakni Berperang dengan senjata di medan pertempuran adalah Fardhu Kifayah yakni apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur (kewajiban) atas yang lainnya. Dan berdosa seluruhnya apabila tidak ada yang melaksanakannya.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud Tajassus?

Dari Shahabat Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiy-Allaahu-‘Anhu, ia berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ ‏”‏ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ‏”‏‏.‏ قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ‏”‏ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ‏”‏‏.‏ قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ‏”‏ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‏”‏‏

Aku bertanya kepada Rasulullah “Amalan apa yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua).Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’.~Hadits Shahih: Riwayat Imam Al-Bukhari no. 572 kitab Mawaqit As-Shalah, Imam At-Trimidzi no. 173 kitab As-Shalah lafadzh di atas milik Imam Al-Bukhari.

“Di dalam hadits ini Nabi ﷺ menyebutkan 3 (tiga) amalan yang dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung); [i] Shalat di Awal Waktu, [ii] Birrul Walidain/Berbakti kepada Kedua Orang Tua, [iii] Jihad Fii Sabilillaah.

Artinya jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama, di antaranya adalah birrul walidain/berbakti kepada kedua orang tua.” ~Dinukil dari Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzhahullaah. 1433 H/2012. Birrul Walidain. Bogor: Pustaka At-Taqwa. hlm. 36

Sebab berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu syar’i, bekerja mencari rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sendiri-keluarga-dan orangtua, menunaikan ibadah haji dan umrah, menunggu shalat seusai mengerjakan shalat, menjadi petugas amil zakat, membantu para janda dan orang-orang miskin, istiqamah di atas sunnah pada zaman fitnah ketika islam telah dianggap asing oleh Umumnya Manusia, Mendakwahi orang musyrik dan memberantas kesyirikan, Berdzikir kepada Allah Ta’ala, bersungguh-sungguh berdo’a meminta syahid tersebut adalah amalan-amalan yang setara dengan Jihaad Fii Sabilillaah.

Catatan Penting: 

Apabila musuh menyerang dan mengepung suatu negeri kaum Muslimin yang aman, maka wajib bagi penduduk negeri tersebut untuk keluar memerangi musuh, kecuali wanita dan anak-anak. Ini dikenal dengan istilah Jihaad Ad-Difa’/Jihad Defensif/Jihad bertahan dari serangan Musuh. 

Imam Ibnu Hazm Rahimahullaah berkata, “Tidak boleh berjihad, melainkan dengan izin kedua orangtua. Kecuali bila musuh sudah berada di tengah-tengah kita, maka jihad lebih didahulukan.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullaah berkata dalam kitabnya, al-Mughni, mengatakan bahwa izin itu harus didahulukan daripada jihad, kecuali apabila sudah jelas wajibnya jihad dan musuh sudah berada di tengah-tengah kita, maka jihad lebih didahulukan.

Dari Abdullah bin Amr,

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ ‏”‏ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ ‏”‏‏.‏ قَالَ نَعَمْ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ ‏”‏‏.‏

Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ meminta izin kepadanya untuk mengambil bagian di dalam jihad. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Iya”. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Berjihadlah (dengan berbakti) kepada keduanya.” ~Hadits Shahih: Riwayat Imam Al-Bukhari no. 3004 kitab al-Jihad, Imam Muslim no. 2549, Imam Ahmad no. 165, 188, 193, 197, 221, Imam Abu Dawud no. 2529 dan Imam An-Nasa’i (VI/10)

Tidaklah sama kondisi kekuatan aqidah/keyakinan beragama dan kekuatan militer antara satu negeri Muslim dengan negeri Muslim lainnya. Artinya apabila seorang Muslim tinggal di dalam negeri yang aman maka keutamaan baginya untuk menaati pemerintah Muslim yang berkuasa di negerinya, selama pemimpin tidak memerintahkan untuk bermaksiyat kepada Allah Ta’ala dan keutamaan bagi seorang Muslim untuk mengamalkan dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu agama, mengamalkannya, dan istiqamah di atas Sunnah, bersabar dan memaafkan kesalahan manusia.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Rambu-Rambu Dakwah.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah Rahimahullaah berkata, “Jihad itu walaupun hukumnya fardu kifayah, tetapi seluruh kaum Mukminin diwajibkan (untuk berjihad) pada awalnya, jadi wajib bagi mereka meyakini (di dalam hati) kewajiban jihad dan bertekad untuk berjihad jika telah ditentukan (jihad).

Karena itulah Nabi ﷺ bersabda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ الأَنْطَاكِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ وُهَيْبٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ سُمَىٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ ابْنُ سَهْمٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ فَنُرَى أَنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan ia tidak pernah ikut berperang, dan tidak terbetik di dalam benaknya (hatinya) untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.” ~Hadits Shahih: Riwayat Imam Muslim no. 1910, Imam Abu Dawud no. 2502, Imam an-Nasa-I (VI/8), Imam Ahmad (II/374), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiy-Allaahu-‘Anhu.

Beliau ﷺ mengabarkan bahwa orang yang tidak ada tekad untuk berjihad dalam dirinya, maka itu termasuk dalam satu cabang kemunafikan. Jihad juga termasuk suatu jenis perbuatan yang banyak macam-macamnya, maka sudah seharusnya Seorang Mukmin wajib melakukan satu macam dari macam-macam jihad tersebut.”

Maraaji’ (Senarai Pustaka):
[1] Kitab Suci al-Qur’an-al-Kariim.
[2] Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzhahullaah. 1432 H/2011. Kedudukan Jihad dalam Syari’at Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
[3] Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzhahullaah. 1433 H/2012. Birrul Walidain. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

 

1,188 total views, 19 views today