HomeIntisari Cahaya IlmuArti KataApa yang dimaksud dengan Mudarah dan Mudahanah?
apa yang dimaksud dengan mudarah dan mudahanah

Apa yang dimaksud dengan Mudarah dan Mudahanah?

Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

Mudarah

Mudarah itu mathlubah (sesuatu yang seharusnya), yakni berlaku lembut dan ihsan/baik dalam bermuamalah dengan masyarakat, serta menahan dan sabar akan keburukan mereka, agar masyarakat awam tidak menjauhi para pendakwah sunnah.

Sebab ilmu yang dikaji oleh seseorang idealnya termanifestasi/terwujud dalam akhlaq, sikap dan adab bermuamalah; rendah hati, gemar membantu serta benar dan jujur dalam perkataan. Mafhumah bahwa ilmu bukan hanya ilmu bil muhtawa (apa yang disampaikan), tetapi juga termasuk di dalamnya bi thariqah (cara menyampaikan) dan bi halil mad’u (ilmu tentang keadaan kepada siapa ilmu akan disampaikan). Masyhur sebuah nasihat terdahulu yang berbunyi, “Ketahuilah Terlebih Dahulu Dengan Siapa Engkau Berbicara.”

Dalam sebuah risalah kecil, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili pernah memberi nasihat bahwa ahlussunnah (salafi) yang sebenarnya dan seharusnya adalah orang-orang yang melaksanakan dan mengamalkan Islam dari segi aqidah dan akhlaq sekaligus. Dan termasuk salah orang yang mengira bahwa sunni atau salafi adalah orang yang telah merasa cukup mengamalkan i’tiqad ahlussunnah (aqidah sunnah) tanpa merasa perlu mengamalkan adab/tata krama dan suluk (akhlaq) yang islami, tanpa merasa perlu menjaga hak-hak sesama muslim. Sebagian ikhwah merasa aman jika sudah merasa aqidah (keyakinan beragama-nya) sesuai dengan ahlussunnah (aqidah sunnah), sedangkan adab dan suluk (akhlaq)-nya biasa-biasa saja atau bahkan kadang melanggar hak-hak orang lain. [Ibrahim Ar-Ruhaili: 14, 1424 H].

Terkadang orang awam melihat mereka dengan sebelah mata dikarenakan kurangnya adab/tata krama dalam bermuamalah (pergaulan).

Sedangkan mudaahanah adalah hal yang tercela, yakni bermuamalah dengan mengorbankan agama.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Tatkala seorang muslim dituntut untuk bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain, padahal dirinya tengah dighibah begitu hebatnya. Di mana letak hikmahnya?

Allah ﷻ berfirman,

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Mereka menginginkan agar mereka bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).- Q.S. Al-Qalam (Pena) [68]: 9, Kitab Suci Al-Qur'an

Mereka menginginkan agar mereka bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).” ~Q.S. Al-Qalam (Pena) [68]: 9.

Nash (تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ) maknanya; “Kamu condong pada sembahan-sembahan mereka, lalu mereka condong pada tuhanmu” ~ Al-Bayan fi Ma’ani Kalimat Al-Qur’an.

Tafsirnya,

Mereka mengangankan dan menginginkan andai kata engkau melunak terhadap mereka (orang-orang kafir dan para pendusta). Engkau berpura-pura senang kepada mereka dalam sebagian keadaan mereka, sehingga mereka melunak kepadamu.- Tafsir Q.S. Q.S. Al-Qalam (Pena) [68]: 9. At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah., Versi terjemah bahasa Indonesia.

Mudarah itu simpatik dalam muamalah tanpa meninggalkan dan mengorbankan satu pun ketentuan-ketentuan agama dan aturannya, sikap ini tidak sama dengan ‘ajz (sikap yang lemah) dan mumayi’ (mencla-mencle/main angin) dalam kalimat lain dapat dijelaskan bahwa Mudarah adalah tekad hati untuk mengingkari perbuatan tercela, namun seseorang itu bersikap agak lunak padanya (yakni terhadap orang yang berbuat cela, kemunkaran dan-atau maksiyat) untuk menarik simpatinya atau dia akan menundanya pada waktu yang lain, sehingga akan tercapai maslahah yang dia inginkan.

Mudahanah

Sementara Mudahanah itu mendekat kepada manusia dengan mengorbankan dan meninggalkan aturan-aturan agama dan syariatnya, ini termasuk kedalam akhlaq/sikap tercela. Mudahanah adalah sikap rela dengan perbuatan tercela yang dilakukan orang lain, serta membiarkan mereka melakukannya.

Dari penjelasan tersebut di atas, maka didapati perbedaan yang terang antara mudarah dan mudahanah, adalah bahwa mudarah itu bertujuan untuk memperbaiki keadaan, hanya saja dengan cara perlahan dan bertahap. Adapun mudahanah adalah sikap menyetujui perbuatan tercela tersebut.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

  • Kitab Suci Al-Qur’an.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. 1424 H/2003 M. Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  • Suhuf Subhan, M.Pd.i. 1435 H (2014 M). Menebar Dakwah Menuai Hidayah. Bekasi: Rumah Ilmu.
  • Syaikh Musthafa Al-’Adawi. 1433 H (2012 M). Al-Bayan fi Ma’ani Kalimat Al-Qur’an. Mesir: Maktabah Makkah. (Al-Bayan; Kamus Kosakata Al-Qur’an. Solo: Zamzam).
  • Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. At-Tafsirul Muyassaru (1437 H. Terjemah Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah. Solo: Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

1,046 total views, 2 views today