Fitrah akal sehat

Apa arti kata Fitrah?

Arti Kata Intisari Cahaya Ilmu 0 0 likes share

FITRAH”[1]: Terminologi Arab yang berarti asal kejadian, kesucian dan Agama yang benar.

Fitrah dengan arti asal kejadian bersinonim dengan kata ‘ibdaa dan khalq. Fitrah manusia atau asal kejadiannya sebagaimana diciptakan Allah ‘Azza Wa Jalla, menurut ajaran Islam, adalah bebas dari noda dan dosa seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya. Fitrah dengan arti asal kejadian dihubungkan dengan pernyataan seluruh manusia sewaktu berada di alam arwah yang mengakui ketuhanan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak-cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadapmu,”

“atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?”.” – Q.S. Al-A’raf (Tempat yang Tinggi) [7]: 172-173.”[2]

Tafsirnya,

“Wahai Nabi, ingatlah ketika Rabb-mu mengeluarkan anak cucu Adam dari sulbi ayah mereka dan menegaskan kepada mereka tentang tauhid-Nya berdasarkan fitrah, bahwa Dia adalah Rabb, Pencipta, dan pemilik mereka, lalu mereka mengakui hal itu; agar mereka tidak menyangkal sedikit pun mengenai hal itu pada Hari Kiamat serta mengaku bahwa hujah Allah belum ditegakkan kepada mereka dan bahwa mereka tidak mengetahuinya.”

“Atau mereka mengatakan, “Para leluhur kami dahulu telah melakukan kesyirikan dan membatalkan janji, selanjutnya kami pun mengikuti mereka, apakah Engkau mengadzab kami karena perbuatan orang-orang yang membatalkan amal dengan kesyirikan ibadah kepada Allah?”.”[3]

Fitrah dengan arti Kesucian

Fitrah dengan arti kesucian terdapat dalam hadtis yang menyebutkan semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah (‘alaa al-Fithrah), dalam keadaan suci, dan bayi tersebut oleh kedua orang-tuanya dapat dijadikan kafir (Yahudi dan Kristen) atau Musyrik (Majusi, Hindu, Budha, Konghucu, dan seterusnya).”[4]

Berdasar mantik ini, Islam mewajibkan kedua orang-tua untuk mendidik anak-anak sejak dini dengan pendidikan dan pengajaran Islam/ tarbiah Islam. Sesuai dengan fitrah setiap bayi, maka dalam dalam Islam tidak dikenal adanya dosa warisan. Setiap bayi, baik yang lahir dari orang-tua muslim atau kafir, berada dalam fitrah, yakni kesucian, sehingga bila bayi dimaksud meninggal maka dirinya tidak akan disiksa di akhirat sekalipun kedua orang-tuanya kafir dan musyrik.

Fitrah dengan arti Agama yang Benar/ ad-Din al-Haq

Fitrah dengan arti Agama yang benar yakni agama Allah عزَ وجل, adalah arti yang dihubungkan sebagian penafsir Al-Qur’an dengan kata fitrah dalam surat ar-Ruum ayat 30. Allah عزَ وجل berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” – Q.S. Ar-Ruum (Bangsa Romawi) [30]: 30.[5]

Tafsirnya,

“Wahai Rasul, luruskan pandangan wajahmu bersama para pengikutmu, teruslah berada di atas Din yang disyariatkan Allah bagimu, yaitu Islam yang di atasnya Allah telah menciptakan fitrah manusia. Keberadaan kalian ada di atas Din ini, keteguhan berpegang padanya, keteguhan di atas fitrah Allah, yaitu keimanan kepada Allah saja. Tidak ada perubahan dalam penciptaan dan Din Allah. Ia merupakan jalan lurus yang mengantarkan kepada ridha Allah dan surge-Nya. Tetapi, wahai Rasul, kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa yang Kuperintahkan kepadamu itu satu-satunya Din yang Haq. ”[6]

Allah عزَ وجل berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu.” – Q.S. Al-Maa’idah (Hidangan) [5]: 3.”[7]

Tafsirnya,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan Dinul Islam untuk kalian dengan terwujudnya kemenangan dan penyempurnaan syariat. Dan Aku sempurnakan nikmat-Ku untuk kalian dengan mengeluarkan kalian dari kegelapan jahiliah menuju cahaya iman. Aku ridhai Islam sebagai agama kalian. Oleh karena itu, berpeganglah kepadanya dan janganlah kalian bercerai-berai.”[8]

Fitrah dengan arti Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم

Fitrah juga diartikan dengan Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan ada pula yang mengartikannya dengan sunnah-sunnah para Nabi ‘alaihimush-shalaatu was-salaam. Pengertian ini ditarik dari hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang menyebut beberapa perbuatan yang termasuk fitrah. Di antara hadits itu ada yang berbunyi (خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ), “khams min al-Fitrah,” (lima yang termasuk fitrah), yakni: berkhitan, mencukur bulu farji/ kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. Hadits Abu Hurairah ini terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضى الله عنه  secara marfû’, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : اَلْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

 “Lima hal yang termasuk fitrah: (1) berkhitan, (2) mencukur bulu kemaluan, (3) memotong kuku, (4) mencabut bulu ketiak, dan (5) memotong kumis.”  – Shahih: al-Bukhari (nomor 5889, 5891, 6297), Muslim (nomor 257), dan Ahmad (II/239, 410).

Imam Muslim juga menyebut versi lain yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakr رضي الله عنها, istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Versi ini menyebutkan sepuluh hal yang termasuk fitrah (‘asyr min al-Fitrah) menurut Nabi صلى الله عليه وسلم, yakni: mencukur kumis, memelihara jenggot, menyikat gigi/ bersiwak, memasukkan air ke hidung/ menghirup air ke dalam hidung/ istinsyaaq[9], memotong kuku, mencuci sela-sela jari dan lipatan telinga, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu farji/ kemaluan, beristinja dan berkhitan.

Apa Manfaat Bersiwak bagi Kesehatan Mulut?

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَشْرٌ مِنَ الفِطْرَةِ : قَصُّ الشَّارِبِ، وَإعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ الْأظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ )) قَالَ الرَّاوِيْ : وَنَسِيْتُ الْعَاشِرَةَ ،إِلاَّ أنْ تَكُوْنَ الْمَضْمَضَةُ

Dari ‘Aisyah رضي الله عنهما, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Sepuluh hal yang termasuk fitrah: (1) mencukur kumis, (2) memanjangkan jenggot, (3) bersiwak, (4) menghirup air ke hidung (ketika wudhu), (5) memotong kuku, (6) mencuci ruas-ruas jari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kemaluan, (9) bercebok.’” Perawi berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur.”

 Takhrij Hadits:

Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Muslim (no. 261); Abu Dawud (no. 53); at-Tirmidzi (no. 2757); an-Nasa-i (VIII/126-128), dan Ibnu Majah (no. 293). Dalam hadits ini terdapat râwi yang dha’îf (lemah). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 4009) dan Hidâyatur Ruwât ilâ Takhrîji Ahâdîtsil Mashâbîh wal Misykât (no. 364) dengan beberapa syawahid (penguat)nya.[10]

Fitrah dengan arti Sifat Bawaan Manusia

Fitrah juga diartikan sebagai sifat bawaan pada setiap bani Adam/ manusia yang belum dimasuki unsur-unsur dan pengaruh dari luar yang baik atau yang buruk. Manusia diciptakan sesuai fitrahnya, artinya menurut sifat bawaan asli yang cenderung kepada kesucian dan pencarian Rabb.

Selesai.

Footnote:

[1] Departemen Pendidikan Nasional. 1424 H/ 2003 M. Ensiklopedi Islam, Jilid 2. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve. hlm. 20.

[2] Kitab Suci Al-Qur’an, surat Al-A’raf, ayat nomor 172-173.

[3] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah Kitab Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah). hlm. 173.

[4] Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Malik dan Ahmad bin Hanbal.

[5] Kitab Suci Al-Qur’an, surat ar-Ruum, ayat nomor 30.

[6] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah Kitab Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah). hlm. 407.

[7] Kitab Suci Al-Qur’an, surat Al-Maa’idah, ayat nomor 3.

[8] Tim Ulama Mushaf Syarif Mujamak Malik Fahd. 1437 H/ 2016 M. Terjemah Kitab Tafsir Al-Muyassar. Surakarta: YSPII & Al-Qowam Group. – Kitab terjemah dari judul asli: At-Tafsirul Muyassaru (mushaf al-Madinah an-Nabawiah). hlm. 107.

[9] Yazid Bin Abdul Qadir Jawaz. 1436 H/ 2015 M. Sifat Wudhu & Shalat Nabi ﷺ  Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i. hlm. 43, Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 1433 H/ 2012 M. Ritual Sunnah Setahun. Bogor: Media Tarbiyah. hlm.109.

[10] https://almanhaj.or.id/4283-11-hal-yang-termasuk-fithrah.html diakses pada tanggal 8 Safar 1439 H/ 28 Oktober 2017.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. - Shahih Muslim nomor 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

394 total views, 3 views today