HomeCahaya IlmuApa yang dimaksud dengan Zuhud?
Dunia bagaikan penjara bagi orang Mukmin, zuhud,

Apa yang dimaksud dengan Zuhud?

Cahaya Ilmu Nasihat 0 share

Seorang Muslim harus memahami makna Zuhud yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh syari’at.

Apabila seseorang mengumpulkan harta dari sumber-sumber yang halal, mengelolanya dengan baik, lalu menyalurkannya di jalan Allah جل جلاله / untuk ketaatan kepada Allah جل جلاله dan meraih Ridha-Nya, maka ia mendapat pahala dan perbuatannya itu menjadi sebab kebahagiaannya.

Sementara, apabila seseorang mengumpulkan harta dari sumber-sumber yang haram, mengelolanya dengan buruk, lalu menggunakannya untuk sesuatu yang tidak halal, maka ia akan mendapat hukuman. Tindakannya tersebut akan menjadi sebab kesengsaraannya, kecuali Allah جل جلاله melimpahkan Rahmat-Nya kepadanya.

Zuhud bukan berarti memiskinkan diri, mengazab diri dan hal semisal, sementara hatinya masih dipenuhi dengan keduniaan. Zuhud yakni meninggalkan atau tidak berkeinginan terhadap sesuatu (kebendaan/keduniaan/harta benda) yang tidak bermanfaat baginya untuk kehidupan akhirat, atau dapat pula dikatakan meninggalkan sesuatu yang tidak dapat membantunya dalam rangka mentaati Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) dan Rasul-Nya ﷺ, atau meninggalkan sesuatu yang memudharatkannya.

Bagi setiap mukmin yang taat, maka sesenang apapun dia di dalam kehidupan dunia ini dengan memiliki kekayaan yang melimpah ruah atau kekuasaan yang besar, maka tetap saja dunia ini baginya adalah sebuah penjara yang memenjarakannya dinisbahkan dengan kesenangan surga, sampai dirinya bebas dari penjara dunia kembali ke akhirat dan masuk ke dalam surga.

Perbandingan dua buah kesenangan atau kebahagiaan,yakni;

[1] Kesenangan di dunia dengan,

[2] Kesenangan & Kebahagiaan di surga yang abadi. Maka kesenangan dunia tidak ada artinya dan tidak berharga sama sekali, apabila dibandingkan dengan kesenangan di surga. Karena Surga merupakan kesenangan dan kebahagiaan yang abadi selama-lamanya.

Tanya:
Mengapa seseorang harus hidup Zuhud? Apakah itu berarti seseorang tidak dibenarkan memiliki pakaian dan kendaraan yang bagus?

Jawab:
Dengan bersikap Zuhud, seseorang dapat terhindar dari penyakit hati berupa mencintai dunia dan takut mati, atau mengejar dunia dan melupakan urusan akhirat, ini dikenal dengan istilah “Wahn“.

Zuhud bukan berarti “memiskinkan diri”, ini pemahaman yang keliru yang tidak dikehendaki syari’at.

Boleh seorang muslim membelanjakan hartanya untuk busana dan kendaraan yang bagus dengan harga di atas rata-rata (atau sesuai dengan kesanggupannya), tujuannya membeli barang dengan kualitas yang baik/awet/tahan lama (sehingga ia tidak banyak membelanjakan harta/mubazir).

Busana yang bagus artinya busana yang karakter dan cara penggunaannya sesuai dengan ketentuan syara’ (agama).

Sebab hakikat harta adalah milik Allah جل جلاله maka seorang muslim seharusnya menggunakan harta tersebut pada jalan-jalan yang mendatangkan keridhaan Allah جل جلاله bukan menggunakan harta pada jalan yang mendatangkan murka-Nya.

Wallaahu Ta’aala A’lam Bish Shawwab.

Maraji’ (Senarai Pustaka):

  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullaah. 1431 H. Kitab Zuhud & Riqaa-‘iq. Jakarta: Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Faishal bin Ali Al-Ba’dani. 1430 H. Kaifa Tunammi Awalak? (judul Indonesia: Jangan Biarkan Sedekah Anda Sia-sia). Solo: Qiblatuna.
  • Abu Thalhah bin Abdus Sattar. 1429 H. Libasur Rasul ﷺ wash Shahabah wash Shahabiyyat Ajma’in (judul Indonesia: Tata Busana Para Salaf). Solo: Zamzam.
  • Ummu Ihsan Choiriyah – Abu Ihsan al-Atsary. 1434 H. Terapi Penyakit Wahn (Cinta Dunia). Bekasi: Rumah Ilmu.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.

Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda,


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893


Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

699 total views, 7 views today