HomeCahaya IlmuApa yang dimaksud dengan Mukallaf?
apa yang dimaksud dengan mukallaf, taklif, baligh

Apa yang dimaksud dengan Mukallaf?

Cahaya Ilmu 0 share

apa yang dimaksud dengan mukallaf, taklif, baligh

الْمُكَلَّفِيْنْ – Apa yang dimaksud dengan Mukallaf?

Mukallaf adalah orang yang diberi beban taklif/ketentuan-ketentuan syara’/hukum agama. Syarat seorang dikatakan mukallaf adalah; (1) baligh dan (2) berakal sehat, artinya tidak mencakup anak kecil dan orang gila.

Siapakah yang menjadi sasaran Perintah dan Larangan?

Baligh berarti tidak termasuk anak kecil. Anak kecil tidak dibebani perintah (‘Amr) dan larangan (Nahy) sebagaimana beban yang ditujukan kepada orang yang sudah baligh. Akan tetapi, anak kecil hendaknya diperintah melaksanakan ibadah setelah mencapai usia tamyiz sebagai latihan baginya untuk mengerjakan ketaatan, hendaknya juga dilarang mengerjakan perbuatan maksiyat agar mudah baginya/terbiasa meninggalkannya.

Berakal berarti tidak termasuk orang gila. Orang gila tidak dibebani ‘Amr dan Nahy. Namun hendaknya, ia dicegah dari segala tindakan aniaya terhadap orang lain dan dicegah agar tidak melakukan kerusakan. Kalau dia mengerjakan sesuatu yang diperintahkan, maka perbuatannya itu Tidak Sah karena tidak adanya Niyat tatkala melakukannya.

Di dalam kitabnya, Kitabul-Iman, Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah menuturkan bahwa,

Tidak disebut orang yang berakal kecuali orang yang mengetahui kebaikan lalu dia mencarinya, mengetahui keburukan lalu dia meninggalkannya. Apabila seseorang melakukan sesuatu, sementara dirinya mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang semacam ini layaknya orang tidak memiliki akal. Diketahui juga bahwa jika fitrah sudah rusak, maka seseorang tidak merasakan manis dari sesuatu yang sebenarnya manis, atau bahkan menyiksanya. Maka begitulah seseorang yang menikmati sesuatu yang sebenarnya menyiksanya, karena fitrah sudah rusak.- Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah, Diintisarikan dari Kitabul Iman (Kitab Al-Iman)

Apa saja yang menjadi penghalang Taklif?

Beban taklif ini mempunyai beberapa penghalang, di antaranya yakni; (1) kebodohan, (2) kelupaan dan (3) paksaan. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allah mengampuni ummatku karena kesalahan, kelupaan, dan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka.- Hadits riwayat Ibnu Majah & Baihaqi, An-Nawawi berkata, ‘Hadits Hasan’. Hadits ini mempunyai beberapa penguat dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan keshahihannya.
  1. Kebodohan; Maksudnya adalah tidak mempunyai ilmu. Jika seorang mukallaf melakukan perbuatan yang diharamkan karena tidak mengetahui bahwa apa yang diperbuatnya itu adalah haram, maka ia tidaklah berdosa. Misalnya, orang yang berbicara ketika sedang mengerjakan Shalatnya karena tidak tahu bahwa berbicara dalam Shalat adalah haram.
  2. Kelupaan; adalah ketidak ingatan hati terhadap sesuatu yang diketahuinya. Jika seorang mukallaf mengerjakan sesuatu yang haram dalam keadaan lupa, maka ia tidaklah berdosa. Misalnya, seseorang makan tatkala ia berpuasa karena lupa.
  3. Paksaan; adalah mengharuskan seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ia inginkan. Seorang yang dipaksa melakukan sesuatu yang haram, maka dia tidaklah berdosa. Misalnya, seseorang dipaksa berbuat kekafiran, tetapi di dalam hatinya ia tetap beriman. Begitu pula orang yang dipaksa untuk meninggalkan/melalaikan suatu kewajiban, maka ia tidaklah berdosa selama ia dipaksa.

Penghalang-penghalang dimaksud di atas hanya berlaku apabila berkaitan dengan hak Allah ﷻ karena (hak tersebut) dibangun di atas Permaafan dan Rahmat. Adapun jika berkaitan dengan hak-hak makhluk, maka penghalang-penghalang tersebut tidak menggugurkan seseorang untuk membayar tanggungan yang wajib jika pemiliknya tidak rela haknya digugurkan.

Maraaji (Senarai Pustaka):
[1] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.1424 H (2003 M). Al-Ushul Min ‘Ilmi-Ushul. Kairo: Darul-‘Aqidah. (Ushul Fiqh. Jogjakarta: Media Hidayah)
[2]  Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullaah. 1431 H (2010 M). Menanti Buah Hati & Hadiah Untuk yang Dinanti. Jakarta: Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
[3] Syaikhul Islam ibn Taymiyyah Rahimahullah. 1409 H (1988 M). Kitabul Iman. Beirut: Dar Ihya’ Al-Ilmu. (1433 H (2012 M). Al-Iman. Bekasi: Darul Falah)

Powerful beneficial reminder by temanshalih.com – “Hijrah yang Shahih!”

731 total views, 19 views today