HomeIntisari Cahaya IlmuBagaimana menyikapi Kemunkaran di Medsos?
menyikapi kemunkaran di medsos, adab menggunakan media sosial, penistaan agama

Bagaimana menyikapi Kemunkaran di Medsos?

Intisari Cahaya Ilmu Nasihat Teknologi 0 share

Media sosial yang berstatus pedang bermata dua ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan kita dalam berkomunikasi antar satu dengan yang lain, namun terkadang dibeberapa aplikasi sosial ia dipakai juga oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan konten-konten hoax, fitnah, berbau pornografi dan sebagainya yang berseliweran di beranda dan timeline.

Dalam kondisi yang seperti ini bagaimana idealnya kita bersikap sebagai seorang muslim yang menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar khususnya di era Media Sosial seperti sekarang ini? Berikut ada beberapa tuntutan dari seorang ulama pimpinan Markaz Hisbah di Saudi Arabia:

1. Mengambil sikap yang tepat untuk membedakan antara kemunkaran yang dilakukan terang-terangan dengan kemunkaran yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

Membedakan kemunkaran yang dilakukan oleh sosok yang dikenal dengan yang tidak dikenal oleh publik. Apa maksud dan tujuan dari pembedaan ini? Yakni sebagai barometer prioritas kita dalam menyikapinya, mana yang lebih luas daya rusaknya dan mana pula yang hanya sebagai sensasi, sehingga sikap yang diambil mengena tepat pada sasaran dan tidak menghabiskan banyak energi dan waktu.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Rambu-Rambu di Dalam Dakwah.

Semisal seperti pelecehan agama yang dilakukan oleh publik figur, maka diperlukan juga sesosok ahli agama yang dikenal untuk membantahnya agar masyarakat ramai lebih cepat tanggap dan percaya diri bersama-sama menghadapi tokoh nyeleneh tersebut. Adapun seperti pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal, maka tidak perlu terlalu di ekspos di media sosial, cukup dilaporkan sebagai spam maka pihak yang berwajib akan menanganinya, karena hakekatnya orang-orang tersebut hanya mencari sensasi untuk terkenal, maka mengomentari status mereka atau membagikannya hanya akan membuat mereka semakin dikenal, oleh sebab itu dikenal istilah terdahulu yang berbunyi, “Biarkan Mereka Mati dengan Sendirinya”.

2. Tidak perlu terlalu menyikapi media-media cetak yang menyebarkan kemunkaran di koran dan majalah.

Yang seperti ini juga tidak perlu terlalu disikapi apalagi malah ikut menyebarkan kontennya di media-media sosial, mengapa? Karena dewasa ini jumlah pembaca media cetak sudah sangat sedikit, hingga daya rusaknya juga minim, maka dari itu jangan ikut membantu media cetak tersebut memperluas kemunkarannya dimedia-media sosial hingga membuat orang yang sebelumnya tidak tahu menahu malah menjadi ikut-ikutan terpengaruh. Maka yang seperti ini tidak dibantah secara publik, cukup tegur tim redaksinya, selanjutnya jika mereka malah melawan baru mengambil sikap yang lebih tegas seperti menghubungi pihak yang berwajib dan seterusnya.

3. Sikapi segala sesuatu sesuai kadarnya, jangan dibesar-besarkan hal yang kecil dan tidak pula menyepelekan sesuatu yang penting dan besar.

Inilah inti dari poin pertama dan kedua bahwa dalam mengamalkan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar ini juga diperlukan adanya strategi dan perencanaan yang matang, tergantung dan sesuai dengan dimana seorang muslim berada dan sesuai dengan kesanggupannya. Maka seperti seorang da’i yang ucapannya didengar tentu kewajibannya lebih besar ketimbang masyarakat awam,  apalagi seorang pemimpin; baik itu pejabat negara atau bos di perusahan, yang mana setiap pemimpin akan diambil pertanggungan jawabannya kelak atas apa yang ia pimpin.

KETAHUI LEBIH LANJUT: Apa yang dimaksud dengan Mudarah dan Mudahanah?

Maka mulai saat ini mari kita lebih bijak menghadapi pelaku-pelaku kemunkaran di media sosial. Pihak FB misalnya, mereka menyediakan kolom untuk melaporkan status tertentu sebagai spam dan sebagainya, maka seperti yang sering kita lihat ada anak-anak muda yang melecehkan mushaf Al-Qur’an cukup di laporkan langsung ke pihak yang berwajib, karena menyebarkan konten yang semacam itu malah hanya semakin menampakkan apa yang tidak pantas terhadap kitab suci Al-Qur’an. ini sebagai salah satu contoh, terapkan juga pada hal-hal yang lainnya.

Penulis: Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim

Rujukan:

نحو مفهوم شامل للاحتساب ص ١٣٥-١٣٦ بالاختصار

تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن الوطبان

HISBAH.NET

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Lisensi Creative Commons: [1] Atribusi, [2] Non Komersial, [3] Berbagi Serupa 4.0 Internasional.
Beri kesempatan bagi orang lain untuk membaca dan turut dalam kebaikan.


من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.- Shahih Muslim no. 1893

Klik bagikan/share dan tetap menjaga amanah ilmiah dengan mencantumkan sumbernya ~ temanshalih.com

1,174 total views, 6 views today