busana

Adab Berbusana

Intisari Cahaya Ilmu Libasul Muslim 0 share

Dengan berpenampilan baik itu berarti seseorang tengah dalam usaha menjaga kehormatannya sebagai seorang Muslim, mahfumah bahwa busana merepresentasikan sebuah kemuliaan apabila diikuti dengan sifat dan cara yang berkesesuaian dengan kaidah-kadiah syara’.

(Bagian 1)

Sehingga berbusana tidak hanya sekedar menjadi gaya tanpa arti, bahkan berbusana dapat menjadi sarana mendapatkan pahala amal shalih dengan meniatkan ittiba’-ur-Rasul (Mengikuti contoh Rasulullah ﷺ). Maka keutamaan bagi seseorang yang mendapati dirinya cenderung kepada kebaikan untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza Wa Jalla (Mahamulia & Mahaagung).

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” ~Q.S. Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu) [33]: 21

Wahai orang-orang yang beriman, kalian memiliki teladan yang baik untuk kalian ikuti dalam sabda-sabda Rasulullah ﷺ maka teguhlah di atas Sunnahnya karena Sunnahnya itu hanya akan dijalankan dan diikuti oleh siapa yang berharap kepada Allah dan Hari Akhir, serta banyak berdzikir, beristighfar, dan bersyukur kepada-Nya dalam setiap keadaan.- Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah

Terlebih tatkala ia berada di luar rumah, yang ia berjumpa dengan orang-orang asing dan juga sebagian yang ia kenal, maka sudah semestinya seseorang itu memberikan kesan positif sehingga orang yang memandangnya dapat memperoleh faedah dalam standar berbusana yang baik sesuai asas-asas di dalam Agama.

Jenis baju dan warna – Nabi ﷺ biasa mengenakan gamis sebagai pakaian yang paling Beliau sukai, lengan gamis tersebut panjangnya hingga batas pergelangan tangan dalam riwayat lain juga disebutkan berlengan pendek. Dan haram hukumnya bagi seorang laki-laki mengenakan busana yang berbahan kain sutra (mitsarah). Ketidaksukaan Rasulullah ﷺ terhadap pakaian merah polos (Al-Mayatsir Al-Hamr/merah murni tanpa campuran warna lain) sangat besar sekali artinya dilarang keras dipakai. Sementara itu Beliau ﷺ pernah mengenakan pakaian berwarna hitam. Kebanyakan pakaian yang dikenakan oleh Nabi ﷺ dan para Shahabat Radhiy-Allaahu-Ta’aala-‘Anhum adalah pakaian yang terbuat dari kapas (katun/cotton).

Busana yang paling disukai oleh Rasulullah ﷺ adalah baju gamis dan hibarah (yakni sejenis mantel yang padanya terdapat warna kemerah-merahan). Sedangkan warna favorit Beliau adalah warna putih.

Rasulullah ﷺ bersabda,

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

“Ia adalah sebaik-baik pakaian kamu. Pakailah ia dan kafani dengannya orang-orang meninggal di antara kamu.” ~Hadits Shahih (Al-Albani): Riwayat Abu Dawud kitab Ath-Thib no. 3878

Beliau ﷺ pernah mengenakan kain yang berasal dari tenunan Yaman, mengenakan pakaian berwarna hijau, memakai jubah, baju luar, kemeja, juga mengenakan celana/sirwal, kain sarung, selendang, khuff/sejenis sepatu bot dan sandal yang diberi nama At-Tasumah. Sesekali Beliau ﷺ  menjulurkan ujung surban Beliau, dan sesekali Beliau tidak melakukannya. Beliau ﷺ  juga biasa melilitkan surban Beliau di bawah dagu, surban Beliau bernama As-Sahab. Beliau ﷺ biasa memakainya  dan melapisinya dengan kopiah. Terkadang pula Beliau ﷺ memakai kopiah tanpa surban dan sebaliknya.

Apabila mengenakan baju, maka Beliau ﷺ  memulainya dari bagian kanan. Sementara itu apabila Beliau mengenakan pakaian baru, Beliau ﷺ  terlebih dahulu menamainya dan berdo’a.

Do’a-do’a berkaitan dengan berpakaian

[1] Do’a mengenakan pakaian:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang memberikan pakaian ini bagiku sebagai rezeki dari-Nya, tanpa ada daya dan kekuatan dariku.” ~Hadits Hasan: Riwayat Abu Dawud dalam kitab Al-Libas no. 4023

[2] Do’a mengenakan pakaian baru:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Ya Allah, milik-Mu semata segala pujian, engkaulah yang memberi pakaian ini bagiku. Aku memohon kepadamu untuk memperoleh kebaikannya, dan juga kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dan juga dari  keburukan tujuan dibuatnya pakaian ini.” ~Hadits Shahih: Riwayat Abu Dawud dalam kitab Al-Libas no. 4020

Akhlaq/sikap seorang muslim dalam berbusana – Dalam hal ini, sikap yang tepat adalah mengikuti jalan utama yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ yaitu Sunnah yang telah diperintahkan, disukai, dan dibiasakan oleh Beliau ﷺ. Tuntunan Beliau dalam hal pakaian adalah mengenakan apapun yang mudah didapat; terkadang mengenakan wol, terkadang mengenakan kain katun, dan terkadang mengenakan pakaian dari rami.

Maraaji’ (Senarai Pustaka):

[1] Kitab Suci Al-Qur’an

[2] Kitab At-Tafsir Al-Muyassar mushaf Al-Madinah An-Nabawiah

[3] Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah. 1430 H. Zaad Al-Ma’ad Fi-Hadyi Khayril ‘Ibad. Bogor: Griya Ilmu.

[4] Abu Thalhah bin Abdus Sattar. 1429 H. Libasur Rasul wash-Shahabah wash-Shahabiyyat Ajma’in (Tata Busana Para Salaf). Solo: Zamzam Mata Air Ilmu.

[5] Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzhahullaah. 1436 H. Do’a & Wirid Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

1,275 total views, 5 views today